Sep 19, 2026
Nasional

Prabowo Tegaskan BRICS Miliki Modal Kuat Bangun Abad Hijau

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kembali menyuarakan pesan penting terkait masa depan keberlanjutan global di panggung internasional. Dalam ket

Prabowo Tegaskan BRICS Miliki Modal Kuat Bangun Abad Hijau

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kembali menyuarakan pesan penting terkait masa depan keberlanjutan global di panggung internasional. Dalam keterangannya, Prabowo menegaskan bahwa negara-negara anggota blok BRICS memiliki modal fundamental yang luar biasa untuk memimpin transformasi menuju abad hijau atau era pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan.

Menurut Prabowo, keunggulan komparatif yang dimiliki aliansi ekonomi ini terletak pada kekayaan alam yang melimpah, khususnya cadangan mineral kritis serta potensi energi baru dan terbarukan (EBT) yang sangat masif. Kolaborasi strategis antaranggota dinilai menjadi kunci utama agar potensi tersebut tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, melainkan mampu menggerakkan ekonomi hijau dunia secara adil dan merata.

Kronologi dan Dorongan Arah Kebijakan Baru

Langkah diplomasi ekonomi yang diusung Indonesia kian memperjelas arah kemitraan strategis dengan negara-negara berkembang. Berikut rangkaian fokus dan komitmen yang ditekankan dalam agenda transisi hijau ini:

  1. Pemetaan Potensi Mineral Kritis: Negara-negara berkembang mengidentifikasi kekayaan bahan mentah penting seperti nikel, bauksit, tembaga, dan kobalt sebagai pondasi rantai pasok teknologi bersih global.
  2. Penguatan Hilirisasi dan Nilai Tambah: Mendorong peralihan dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi produsen komponen bernilai tinggi, seperti baterai kendaraan listrik dan panel surya.
  3. Penyelarasan Kerja Sama Energi Bersih: Membangun kolaborasi pendanaan serta transfer teknologi antaranggota untuk mempercepat dekarbonisasi industri.
"Negara-negara BRICS memiliki modal strategis yang sangat besar, mulai dari cadangan mineral kritis hingga sumber daya energi baru terbarukan. Bersama-sama, kita memiliki kapasitas nyata untuk membangun dan memimpin abad hijau yang berkeadilan bagi seluruh dunia," tegas Presiden Prabowo.

Kekuatan Mineral Kritis Menopang Transisi Energi

Mineral kritis kini telah menjadi komoditas geopolitik paling strategis di abad ke-21. Komponen seperti nikel, litium, dan logam tanah jarang adalah bahan baku utama dalam pembuatan turbin angin, panel fotovoltaik, hingga ekosistem baterai kendaraan listrik. Prabowo memandang bahwa ketergantungan dunia pada transisi hijau harus dibarengi dengan kedaulatan sumber daya di negara-negara produsen.

Indonesia sendiri terus konsisten menjalankan program hilirisasi nasional. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan visi BRICS dalam mendorong kemandirian ekonomi kawasan Global South tanpa mengesampingkan target penurunan emisi karbon global.

Langkah Konkret Mewujudkan Kerja Sama Berkelanjutan

Untuk mengonversi potensi tersebut menjadi aksi nyata, Prabowo menggarisbawahi sejumlah pilar utama yang perlu diakselerasi bersama mitra internasional:

  • Akses Pendanaan Hijau: Menghadirkan skema pembiayaan iklim yang inklusif dan tidak membebani negara berkembang dengan utang yang memberatkan.
  • Transfer Teknologi Terbuka: Memastikan akses teknologi ramah lingkungan dapat diadopsi dengan mudah dan terjangkau di seluruh kawasan.
  • Penerapan Standar Keberlanjutan: Mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) secara ketat dalam seluruh rantai industri pengolahan mineral.

Dengan sinergi yang solid, Indonesia optimis bahwa aliansi BRICS tidak hanya sekadar menjadi kekuatan ekonomi alternatif, tetapi juga menjadi poros utama penyelamatan bumi melalui industrialisasi hijau yang bertanggung jawab.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User