Pernahkah kamu membayangkan bagaimana arah kebijakan dan masa depan dunia dirumuskan? Selama berpuluh-puluh tahun, keputusan besar yang memengaruhi ekonomi global kerap didominasi oleh kelompok negara-negara maju. Namun, dalam era geopolitik yang terus berubah dinamis, suara dari negara berkembang kini tidak bisa lagi diabaikan. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan betapa krusialnya posisi kelompok negara berkembang atau yang populer dikenal sebagai Global South dalam panggung politik internasional.
Dalam pandangannya, Prabowo menyoroti bahwa ketimpangan pembangunan, kesenjangan akses teknologi modern, hingga masalah pendanaan perubahan iklim masih menjadi jurang pemisah yang sangat lebar. Oleh karena itu, diplomasi Indonesia terus diarahkan untuk memastikan bahwa aspirasi negara-negara berkembang ini benar-benar terdengar dan diakomodasi secara adil, khususnya dalam menyusun agenda pembangunan dunia pasca-2030.
Menembus Dominasi Global North dan Peran BRICS
Secara geopolitik, istilah Global South merujuk pada negara-negara berkembang yang tersebar di kawasan Asia, Afrika, dan Latin Amerika. Selama ini, banyak regulasi multilateral dirasa kurang berpihak pada kebutuhan mendasar rakyat di wilayah tersebut. Presiden Prabowo menilai bahwa organisasi antarbangsa seperti BRICS—yang dimotori oleh kekuatan ekonomi baru seperti Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan—memiliki posisi tawar politik yang sangat strategis.
"BRICS memiliki peran strategis sebagai wadah untuk menyatukan dan memperkuat suara negara-negara berkembang atau Global South dalam ikut menentukan arah masa depan dunia," tegas Presiden Prabowo Subianto.
Pernyataan tersebut menekankan pentingnya sinergi antar-negara berkembang agar tidak hanya menjadi penonton dalam pembuatan kebijakan internasional. Terlebih lagi, dunia kini tengah bersiap merumuskan kelanjutan dari Kerangka Kerja Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang akan berakhir pada tahun 2030. Tanpa keterlibatan aktif dari Global South, agenda global berisiko hanya menjadi narasi sepihak yang sulit diterapkan di lapangan.
Peta Kekuatan Ekonomi: BRICS vs G7
Untuk memahami seberapa besar potensi dan pengaruh dari pergeseran peta geopolitik ini, mari kita cermati perbandingan singkat antara blok kekuatan ekonomi tradisional (G7) dengan wadah koalisi negara berkembang (BRICS+):
| Indikator Utama | Blok G7 (Negara Maju) | Blok BRICS+ (Global South) |
|---|---|---|
| Pangsa Populasi Dunia | Sekitar 10% | Lebih dari 45% |
| Kontribusi PDB Global (PPP) | Sekitar 30% | Mencapai lebih dari 35% |
| Fokus Pembangunan Utama | Standar regulasi & transisi hijau bertahap | Infrastruktur, industrialisasi & finansial inklusif |
Strategi Indonesia Pasca-2030 dan Masa Depan Ekonomi
Bagi Indonesia, memperjuangkan keterlibatan Global South bukan sekadar jargon diplomasi di atas kertas. Langkah ini merupakan strategi nyata untuk mengamankan berbagai kepentingan nasional yang krusial, mulai dari program hilirisasi sumber daya alam, penguatan ketahanan pangan nasional, hingga akses terhadap investasi hijau yang adil.
Presiden Prabowo mengingatkan seluruh pemangku kepentingan internasional bahwa agenda pembangunan global pasca-2030 harus dirancang secara transparan dan setara. Negara-negara berkembang tidak boleh terus-menerus diposisikan hanya sebagai konsumen teknologi atau pemasok bahan mentah berharga murah. Melalui kolaborasi yang erat dan diplomasi yang aktif, Indonesia optimistis mampu mendorong terciptanya tatanan dunia yang lebih seimbang, stabil, dan sejahtera bagi semua bangsa.
Comments (0)