Sep 19, 2026
Nasional

PLN: Daya Mampu PLTA Sulawesi Bagian Selatan Anjlok 600 Megawatt

Kondisi kelistrikan di kawasan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) tengah menghadapi tantangan berat. PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mengonfirmasi

PLN: Daya Mampu PLTA Sulawesi Bagian Selatan Anjlok 600 Megawatt

Kondisi kelistrikan di kawasan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) tengah menghadapi tantangan berat. PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mengonfirmasi adanya penurunan drastis pada daya mampu agregat Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di wilayah tersebut hingga mencapai 600 Megawatt (MW). Penurunan pasokan yang signifikan ini dipicu oleh menyusutnya debit air pada sejumlah bendungan dan sungai utama penopang pembangkit hidro.

Kondisi alam yang ekstrem dan musim kemarau yang berkepanjangan dinilai menjadi faktor utama terganggunya operasional PLTA. Padahal, sistem kelistrikan di wilayah Sulawesi Bagian Selatan selama ini mengandalkan porsi bauran energi baru terbarukan (EBT) berbasis air yang cukup tinggi guna melayani kebutuhan rumah tangga, bisnis, hingga industri manufaktur dan hilirisasi.

Kronologi dan Perkembangan Tekanan Pasokan Listrik

Penurunan pasokan listrik ini berlangsung secara bertahap seiring dengan berkurangnya curah hujan di hulu sungai penyangga waduk PLTA. Berikut urutan kronologis yang memicu defisit daya di sistem Sulbagsel:

  1. Penurunan Curah Hujan di Hulu: Intensitas hujan yang berada di bawah rata-rata historis menyebabkan elevasi muka air waduk utama menyusut hingga menyentuh level kritis operasional.
  2. Penurunan Daya Mampu PLTA: Sejumlah pembangkit hidro besar seperti PLTA Bakaru, PLTA Poso, serta kompleks kaskade pembangkit air lainnya terpaksa memangkas kapasitas produksi listrik rata-rata hingga akumulasi defisit menyentuh 600 MW.
  3. Tekanan Sistem Interkoneksi: Menurunnya pasokan dari PLTA membebani sistem transmisi kelistrikan Sulbagsel yang membentang dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, hingga sebagian Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.
  4. Pemberlakuan Manajemen Beban: Untuk mencegah gangguan sistem yang meluas (blackout), operator jaringan terpaksa melakukan pengaturan distribusi daya listrik secara bergilir di sejumlah wilayah pelanggan.
"PLN terus mengerahkan segala sumber daya dan langkah mitigasi teknis secara maksimal guna menstabilkan sistem interkoneksi kelistrikan serta meminimalkan dampak keterbatasan pasokan kepada para pelanggan di Sulawesi Bagian Selatan," tulis perwakilan manajemen PLN.

Langkah Cepat Mitigasi dan Rekayasa Sistem PLN

Merespons situasi darurat pasokan hidro tersebut, PLN langsung menerapkan sejumlah langkah strategis demi menjaga keandalan sistem kelistrikan di wilayah terdampak:

  • Optimalisasi Pembangkit Termal: Memaksimalkan daya output dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) yang ada di daratan Sulawesi agar beroperasi pada kapasitas puncak.
  • Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC): Bekerja sama dengan instansi terkait untuk melakukan penyemaian awan hujan buatan di catchment area waduk PLTA guna memulihkan volume debit air tampungan.
  • Relokasi Pembangkit Modular: Memobilisasi unit pembangkit diesel dan mesin gas darurat dari wilayah lain ke titik-titik simpul jaringan yang mengalami defisit pasokan listrik paling kritis.
  • Imbauan Efisiensi Konsumsi: Mengajak pelanggan sektor komersial, industri, dan rumah tangga untuk menghemat pemakaian listrik, terutama pada jam beban puncak antara pukul 17.00 hingga 22.00 WITA.

PLN menargetkan langkah stabilisasi ini mampu mengembalikan keandalan sistem interkoneksi Sulbagsel dalam waktu sesingkat-singkatnya sembari menunggu pemulihan elevasi air waduk secara alami pada puncak musim penghujan mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User