Aug 25, 2026
entertainment

Pipa Air Bengkong–Batuampar Siap Operasi Awal Agustus

Di sudut dapur berukuran 2x3 meter, Ibu Sari menatap ember plastik yang hanya terisi setengah. Sudah tiga hari air dari PDAM Batam tak mengalir ke rumahnya di kawasan Bengkong. Musim kemarau panjang y...

Di sudut dapur berukuran 2x3 meter, Ibu Sari menatap ember plastik yang hanya terisi setengah. Sudah tiga hari air dari PDAM Batam tak mengalir ke rumahnya di kawasan Bengkong. Musim kemarau panjang yang mulai terasa di Pulau Batam membuat suplai air kian tersendat. Namun, secercah harapan mulai tumbuh: proyek pipa air bersih yang menghubungkan Bengkong dan Batuampar dijadwalkan beroperasi penuh pada awal Agustus 2026.

Ibu Sari, ibu rumah tangga dengan tiga anak, termasuk dari ribuan warga yang selama bertahun-tahun berjuang dengan krisis air. Setiap pagi, ia harus mengantre di depan truk tangki air milik swasta, membayar Rp 5.000 per jeriken. “Kadang airnya keruh, tapi mau bagaimana lagi,” ucapnya lirih sambil mengusap kening yang berkeringat. Di musim kemarau seperti ini, air menjadi barang mewah yang setiap tetesnya begitu berharga.

Penantian Panjang di Tengah Krisis

Kisah serupa juga dialami oleh Pak Rahmat, seorang pensiunan guru yang tinggal di Batuampar. Selama dua dekade, ia menyaksikan lingkungannya berubah dari kampung nelayan menjadi permukiman padat penduduk. Namun, infrastruktur air bersih tak kunjung memadai. “Dulu kami masih bisa ambil air sumur, tapi sekarang sumur sudah asin, tercemar air laut,” katanya. Setiap kali musim kemarau tiba, warga harus mengandalkan bantuan air dari pemerintah atau membeli dengan harga yang semakin mahal.

Proyek pipa air sepanjang 12 kilometer ini bukan sekadar pembangunan fisik. Ia adalah jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan di malam hari, saat pompa air mati dan anak-anak menangis kehausan. Pipa ini akan mengalirkan air dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Duriangkang menuju dua wilayah strategis di Batam, yang selama ini menjadi titik rawan krisis.

Dari Cetak Biru ke Lapangan

Pekerja lapangan sudah mulai terlihat sejak awal tahun. Di bawah terik matahari, puluhan petugas memasang pipa berdiameter 600 milimeter di sepanjang jalan utama. Suara mesin las dan dentingan palu beradu dengan deru kendaraan yang melintas. Mandor proyek, Budi Santoso, mengaku timnya bekerja lembur untuk mengejar target. “Kami tak mau mengecewakan warga. Setiap hari kami pasang target, karena ini sudah ditunggu bertahun-tahun,” ujarnya saat ditemui di lokasi proyek, Kamis lalu.

Proyek ini menelan biaya lebih dari Rp 80 miliar, hasil kolaborasi antara pemerintah daerah dan pusat. Menurut rencana, uji coba pengaliran pertama akan dilakukan pada akhir Juli 2026, dan jika tak ada kendala, air akan mengalir ke rumah-rumah warga tepat pada pekan pertama Agustus 2026. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Batam, Andi Wijaya, memastikan proyek ini menjadi prioritas utama karena menyangkut hajat hidup orang banyak. “Kami targetkan awal Agustus air sudah bisa dinikmati warga. Ini hadiah kemerdekaan bagi mereka,” tegasnya.

Air Mata yang Berubah Jadi Senyum

Bagi Ibu Sari dan Pak Rahmat, kabar itu bagaikan oase di tengah gurun. “Saya sudah menghitung hari. Kalau air sudah nyala, saya mau mandi puas-puas, mau cuci baju sebanyak-banyaknya,” kata Ibu Sari sambil tertawa kecil, namun matanya berkaca-kaca. Di balik tawa itu, tersimpan luka panjang akibat bertahun-tahun kekurangan air.

Tak hanya untuk kebutuhan sehari-hari, air bersih juga membawa harapan baru bagi usaha kecil. Banyak ibu-ibu yang terpaksa tutup warung makan karena masakan tak bisa higienis tanpa air yang cukup. Anak-anak yang sering bolos sekolah karena harus ikut mengantre air, kini bisa kembali fokus belajar. Proyek pipa ini bukan hanya mengalirkan air, tetapi juga martabat dan masa depan.

Pemerintah setempat berencana melakukan sosialisasi penggunaan air bersih secara bijak pascaoperasi. Warga akan diedukasi agar tidak boros dan tetap menjaga kelestarian sumber air. Sebab, musim kemarau yang semakin panjang akibat perubahan iklim membuat setiap tetes air harus dihargai. “Kami ingin warga tidak hanya menerima air, tetapi juga merawatnya,” kata Andi Wijaya.

Menanti Alam, Menanti Keajaiban

Sementara itu, di langit Bengkong, awan mulai jarang terlihat. Musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dari tahun sebelumnya. Namun, di dalam hati warga, harapan sudah lebih dulu bersemi. Pipa-pipa yang tertanam di dalam tanah adalah urat nadi kehidupan yang akan segera berdetak. Dari atas bukit di Duriangkang, air akan mengalir membelah perbukitan, menyusuri jalan, dan akhirnya tiba di keran-keran yang telah lama kering.

Di penghujung obrolan, Ibu Sari memperlihatkan kalender dinding di dapurnya. Ada satu tanggal yang ia lingkari dengan spidol merah: 1 Agustus 2026. “Saya sudah tandai. Hari itu, saya akan buka keran sepanjang hari, hanya untuk mendengar suara air,” ucapnya. Suara gemericik yang mungkin bagi sebagian orang biasa, tetapi bagi warga Bengkong dan Batuampar, itu adalah simfoni paling merdu yang pernah mereka nantikan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User