Sore itu, di sebuah ruangan yang tenang jauh dari hingar-bingar panggung, seorang pria renta duduk memandangi foto-foto lama yang tertata di dinding. Di sana terekam masa-masa ketika ia berdiri di hadapan puluhan ribu penonton, ketika tangannya menari di atas drum, dan ketika suaranya menggema di stadion-stadion besar dunia. Pria itu adalah Phil Collins. Kini, di usia yang tak lagi muda, ia mengisahkan sebuah babak paling gelap dalam hidupnya: momen ketika maut hampir menjemputnya pada 2024.
Bukan karena penyakit misterius atau kecelakaan tragis. Musuh yang nyaris merenggut nyawanya datang dari kebiasaan yang selama ini dianggap sederhana — alkohol. Pengakuan itu disampaikannya dengan jujur, tanpa dibungkus kata-kata manis.
Pengakuan yang Mengejutkan Banyak Orang
Selama bertahun-tahun, publik mengenal Collins sebagai sosok yang hangat dan jenaka. Namun di balik senyum itu, ia menyimpan perjuangan yang jarang diketahui orang. Setelah memutuskan pensiun dari panggung, hari-harinya terasa kosong. Rutinitas yang dulu padat mendadak hilang, dan perlahan alkohol menjadi pelarian dari kesepian yang menghimpit.
"Ada masa ketika saya merasa kehilangan arah. Panggung adalah hidup saya, dan ketika itu hilang, saya mencari penggantinya di tempat yang salah," ungkapnya dengan nada menyesal.
Kebiasaan itu perlahan menggerogoti tubuhnya yang memang sudah rapuh. Komplikasi kesehatan yang ditimbulkannya begitu serius hingga pada satu titik di sepanjang 2024, kenyataan pahit itu datang: nyawanya berada di ujung tanduk. Momen itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Perjalanan Panjang Sang Legenda
Untuk memahami betapa beratnya kehilangan panggung, kita perlu menengok kembali perjalanan luar biasa Collins. Ia memulai kariernya sebagai drummer Genesis pada awal 1970-an, sebelum akhirnya mengambil alih posisi vokalis utama. Di tangannya, Genesis menjelma menjadi salah satu band rock paling berpengaruh di dunia.
Namun namanya benar-benar melejit ketika ia bersolo karier. Lagu-lagu seperti In the Air Tonight, Against All Odds, dan Another Day in Paradise bukan sekadar hits — melainkan penanda zaman yang menemani jutaan orang tumbuh dewasa. Piala Oscar pun pernah ia genggam lewat lagu You'll Be in My Heart untuk film Tarzan. Mimpi seorang anak London yang dulu hanya ingin bermain drum, terwujud jauh melampaui bayangannya.
Tubuh yang Tak Lagi Bersahabat
Di balik gemerlap itu, tubuh Collins sebenarnya sudah lama menjerit. Cedera tulang belakang yang dideritanya merusak saraf-saraf di tangannya. Ia bahkan tak lagi mampu memegang stik drum dengan erat — hal yang bagi seorang drummer terasa seperti kehilangan separuh jiwa.
Pada tur perpisahannya, dunia menyaksikan pemandangan yang mengharukan: Collins duduk di kursi sepanjang konser, bernyanyi dengan suara yang mulai dimakan usia, sementara posisi drummer diisi oleh putranya sendiri, Nic Collins. Seolah tongkat estafet itu diserahkan langsung dari hati seorang ayah kepada anaknya.
"Melihat anak saya bermain drum di panggung yang sama, itu adalah salah satu momen paling membanggakan sekaligus paling menyakitkan dalam hidup saya," tuturnya.
Kesepian dan Titik Terendah
Ketika tirai panggung benar-benar tertutup, kesepian datang tanpa permisi. Collins mengisahkan bagaimana hari-harinya yang dulu penuh jadwal mendadak sunyi senyap. Pada masa-masa itulah alkohol merayap masuk, dari sekadar teman bersantai menjadi kebutuhan yang sulit dilepaskan.
Akibatnya nyaris fatal. Komplikasi kesehatan yang dipicu kebiasaan minumnya membuat kondisi tubuhnya merosot tajam pada 2024. Keluarga dan orang-orang terdekatnya sempat dihadapkan pada kemungkinan terburuk — kehilangan sosok yang mereka cintai untuk selamanya. Air mata dan doa menjadi penjaga malam di samping ranjangnya.
Bangkit dari Ambang Kehilangan
Kini, setelah melewati masa-masa paling mengerikan itu, Collins memilih berbicara terbuka. Bukan untuk mencari simpati, melainkan agar kisahnya menjadi pengingat bagi siapa pun yang sedang berjuang melawan kecanduan.
"Saya diberi kesempatan kedua. Tidak semua orang seberuntung itu. Jika cerita saya bisa menyelamatkan satu orang saja, maka rasa malu ini tidak ada artinya," katanya penuh haru.
Di sisa usianya, Collins menjalani hari dengan lebih tenang, dikelilingi keluarga yang setia menemaninya. Drum boleh saja telah lama tak ia sentuh, panggung boleh saja tinggal kenangan. Namun dari sudut ruangan yang sunyi itu, sang legenda membuktikan satu hal: perjuangan paling berat bukanlah di atas panggung, melainkan di dalam diri sendiri — dan ia memilih untuk bangkit.
Comments (0)