Aug 25, 2026
entertainment

Phil Collins dan Perjuangan Sunyi Bangkit dari Ambang Kematian

Di sudut sebuah rumah yang tenang, sepasang stik drum tergeletak diam di atas meja kayu. Pemiliknya, pria yang dulu menggetarkan stadion di seluruh dunia lewat dentuman In the Air Tonight, kini duduk ...

Phil Collins dan Perjuangan Sunyi Bangkit dari Ambang Kematian

Di sudut sebuah rumah yang tenang, sepasang stik drum tergeletak diam di atas meja kayu. Pemiliknya, pria yang dulu menggetarkan stadion di seluruh dunia lewat dentuman In the Air Tonight, kini duduk memandanginya dalam keheningan panjang. Di usianya yang menginjak 74 tahun, Phil Collins mengisahkan sebuah babak paling gelap dalam hidupnya: momen ketika ia hampir kehilangan nyawa pada 2024.

Bukan panggung, bukan lampu sorot, melainkan komplikasi kesehatan yang dipicu kebiasaan mengonsumsi alkohol yang nyaris merenggut musisi legendaris itu dari orang-orang yang mencintainya. Pengakuan itu disampaikannya dengan nada bergetar, jauh dari hingar-bingar ketenaran yang pernah memeluknya selama puluhan tahun.

Pengakuan yang Lahir dari Keheningan

Di balik layar kehidupan seorang legenda, Collins menyimpan luka yang jarang terlihat publik. Setelah menepi dari panggung, hari-harinya berubah sunyi. Rutinitas yang dulu diisi latihan, tur, dan tepuk tangan ribuan penonton berganti ruang-ruang kosong yang perlahan diisi oleh alkohol.

"Ada masa ketika saya merasa kehilangan arah. Minuman itu menjadi teman yang salah di waktu yang salah," tuturnya mengenang masa-masa kelam tersebut.

Komplikasi kesehatan itu datang tanpa ampun. Tubuh yang sudah lama rapuh — akibat cedera tulang belakang dan kerusakan saraf yang membuatnya tak lagi bisa bermain drum — kian terpuruk. Pada 2024, kondisinya memburuk hingga tersampaikan kenyataan pahit: nyawanya berada di ujung tanduk. Momen mengharukan itu akhirnya menjadi titik balik yang mengubah segalanya.

Perjalanan Panjang dari Puncak ke Lembah

Kisah Collins adalah kisah tentang cahaya dan bayangan. Bersama Genesis, ia menjelma dari drummer menjadi vokalis ikonik. Sebagai penyanyi solo, lagu-lagunya seperti Against All Odds dan Another Day in Paradise menjadi soundtrack kehidupan jutaan orang di berbagai generasi. Penghargaan demi penghargaan berdatangan, namun di balik gemerlap itu, tubuhnya membayar harga yang sangat mahal.

Cedera bertahun-tahun membuat tangannya kebas, punggungnya nyeri, dan panggung yang dulu menjadi rumahnya berubah menjadi tempat yang menyakitkan. Ketika akhirnya ia memilih menepi, kekosongan itu datang bagai gelombang. Alkohol, yang awalnya sekadar pelarian kecil, perlahan menjadi kebiasaan yang menggerogoti kesehatannya dari dalam.

"Saya pernah berdiri di puncak dunia, lalu tiba-tiba berada di tempat paling sepi yang pernah saya kenal," ungkapnya lirih.

Bangkit demi Orang-Orang Tercinta

Namun kisah ini bukan sekadar tentang kejatuhan. Di titik terendahnya, Collins menemukan alasan untuk berjuang: keluarganya. Anak-anaknya — termasuk sang putra yang kini meneruskan jejaknya sebagai drummer — menjadi jangkar yang menahannya untuk tetap bertahan hidup. Air mata yang jatuh di samping ranjang perawatan mengingatkannya bahwa ia masih dibutuhkan, masih dicintai, dan masih memiliki mimpi yang belum selesai.

Perlahan, dengan dukungan keluarga dan tim medis, Collins menapaki jalan pemulihan. Perjuangan itu tidak mudah; ada hari-hari ketika tubuhnya terasa ingin menyerah. Tetapi setiap pagi yang berhasil ia lewati menjadi kemenangan kecil yang sangat berarti.

"Saya diberi kesempatan kedua. Dan kali ini, saya tidak ingin menyia-nyiakannya," katanya dengan mata berkaca-kaca.

Pesan dari Seorang Penyintas

Kini, Collins memandang hidup dengan cara yang berbeda. Ia tak lagi mengukur hari dari jumlah penonton atau penjualan album, melainkan dari kehadiran orang-orang tercinta di sekelilingnya. Kisahnya menjadi inspirasi yang sederhana namun dalam: bahwa kekuatan manusia sering kali justru lahir dari kerapuhannya.

Bagi jutaan penggemar yang tumbuh bersama lagu-lagunya, pengakuan jujur ini bukanlah aib, melainkan sebuah keberanian. Sebab di balik setiap legenda, ada manusia biasa yang juga berjuang, terjatuh, dan memilih untuk bangkit kembali.

Dan di sudut ruangan itu, sepasang stik drum masih tergeletak diam. Tetapi kini, keheningannya tak lagi terasa seperti sebuah akhir — melainkan jeda sebelum nada berikutnya dimainkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User