Oct 12, 2026
entertainment

Petualangan Menuju JIS: Ribuan Penggemar Avenged Sevenfold Berjuang Melawan Macet

Di bawah guyuran hujan ringan yang menyapu kawasan Senayan, Jumat sore itu, Rian—seorang penggemar berat Avenged Sevenfold—berdiri di halte Transjakarta sambil menggenggam erat tiket konser di tan...

Petualangan Menuju JIS: Ribuan Penggemar Avenged Sevenfold Berjuang Melawan Macet

Di bawah guyuran hujan ringan yang menyapu kawasan Senayan, Jumat sore itu, Rian—seorang penggemar berat Avenged Sevenfold—berdiri di halte Transjakarta sambil menggenggam erat tiket konser di tangan kanannya. Matanya terus menatap papan informasi kedatangan bus, sementara bibirnya bergumam pelan, "Tujuh tahun aku tunggu momen ini." Bagi pria 29 tahun asal Bekasi itu, konser band metal legendaris di Jakarta International Stadium (JIS) bukan sekadar pertunjukan musik. Ini adalah perjalanan panjang penuh air mata dan kesabaran, pertemuan dengan mimpi masa remaja yang dulu hanya bisa dinikmati lewat kaset bajakan.

Rian bukan satu-satunya. Ribuan penggemar dari berbagai penjuru Jabodetabek dan luar kota memadati titik-titik transit menuju JIS. Ada yang datang dari Bandung dengan kereta api ekonomi, ada pula keluarga yang sengaja menginap di hotel sekitar Jakarta Utara demi menyaksikan langsung aksi M. Shadows dan kawan-kawan. Di balik gelora euforia itu, tersimpan kisah perjuangan kecil yang menyentuh: soal rute, waktu tempuh, dan tekad untuk tak melewatkan satu detik pun penampilan idola.

Menapaki Rel dan Jalan: Pilihan Transportasi yang Menguras Tenaga

Bagi mereka yang memilih kereta listrik (KRL), stasiun terdekat menuju kawasan JIS adalah Stasiun Ancol atau Kampung Bandan. Dari sana, penumpang masih harus melanjutkan perjalanan menggunakan Transjakarta atau Mikrotrans dengan waktu tempuh sekitar 30 hingga 45 menit, bergantung pada kepadatan lalu lintas. Seorang petugas di Stasiun Ancol, yang enggan disebut namanya, mengisahkan bahwa sejak siang hari, arus penumpang menuju JIS sudah meningkat dua kali lipat dari biasanya. "Banyak yang bawa atribut band, kaos hitam, dan poster. Mereka semangat sekali, meski harus berdiri berdesakan," ujarnya dengan senyum tipis.

Tidak hanya KRL. Transjakarta juga menyediakan rute khusus menuju JIS, dengan titik transit utama di Halte Jakarta International Stadium. Bus-bus malam dipersiapkan hingga pukul 23.00 untuk mengakomodasi penonton yang keluar larut. Namun, perjalanan dengan bus bukan tanpa tantangan. Kemacetan di Jalan Benyamin Sueb dan Jalan Yos Sudarso menjadi ujian kesabaran tersendiri. Seorang penumpang, Dita, 24 tahun, mengaku harus berangkat empat jam lebih awal dari rumahnya di Depok. "Aku naik KRL dari Depok Baru, lanjut Transjakarta. Sampai sini kaki pegal, tapi begitu dengar lagu 'Nightmare' nanti, semua akan terbayar," tuturnya dengan mata berbinar.

"Konser ini bukan soal jarak. Ini soal cinta yang tertunda. Aku rela berdiri di bus selama dua jam asal bisa bernyanyi bersama ribuan orang lainnya." — Dita, penggemar asal Depok.

Kendaraan Pribadi dan Mimpi yang Tertunda

Bagi yang memilih kendaraan pribadi, panitia telah menyiapkan area parkir terpadu di sekitar JIS. Namun, kapasitas yang terbatas membuat banyak orang harus memutar otak. Beberapa memilih parkir di mal terdekat dan melanjutkan perjalanan dengan ojek daring. Bayangkan, di tengah antrean panjang itu, ada seorang ayah yang mengantar anaknya dengan sepeda motor butut. Namanya Pak Surya, 52 tahun. Ia mengisahkan bagaimana anaknya, yang kini duduk di bangku kuliah, menabung selama setahun untuk membeli tiket. "Saya dulu tidak paham musik beginian. Tapi lihat anak saya bahagia, itu sudah cukup. Saya antar sampai gerbang, lalu saya tunggu di masjid dekat sini," katanya dengan suara bergetar.

Di balik layar keramaian itu, ada pula kisah mereka yang gagal mendapatkan tiket. Sejumlah penggemar nekat datang hanya untuk mendengar dentuman musik dari luar stadion. Mereka duduk di trotoar, berbagi earphone, dan menyanyikan lagu-lagu Avenged Sevenfold bersama-sama. Momen mengharukan itu seakan menegaskan bahwa konser bukan hanya tentang panggung megah, tetapi tentang ikatan batin antar sesama penggemar.

Inspirasi dari Malam yang Tak Terlupakan

Menjelang pukul tujuh malam, lampu-lampu JIS menyala terang. Rian akhirnya tiba di dalam stadion setelah perjalanan melelahkan hampir tiga jam. Ia duduk di tribun, menatap panggung yang masih kosong. "Dulu, aku cuma bisa mimpi. Sekarang, aku di sini. Terima kasih, Avenged Sevenfold," bisiknya lirih. Perjalanan menuju JIS malam itu memang penuh liku, tetapi bagi ribuan manusia yang datang dengan cerita masing-masing, setiap detik perjuangan adalah bagian dari konser itu sendiri. Sebuah perjalanan yang sederhana, namun menyentuh, tentang bagaimana musik mampu menyatukan langkah dan harapan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User