Oct 15, 2026
entertainment

Pesona Tenang yang Sering Terlupakan di Tengah Dunia yang Bising

Di sebuah kafe kecil di sudut Jalan Kemang, Jakarta Selatan, seorang perempuan duduk sendiri di meja paling pojok. Tangannya menggenggam cangkir kopi yang mulai dingin, matanya menatap keluar jendela,...

Pesona Tenang yang Sering Terlupakan di Tengah Dunia yang Bising

Di sebuah kafe kecil di sudut Jalan Kemang, Jakarta Selatan, seorang perempuan duduk sendiri di meja paling pojok. Tangannya menggenggam cangkir kopi yang mulai dingin, matanya menatap keluar jendela, memperhatikan lalu lalang orang yang bergegas. Ia tidak bicara banyak. Tidak pula sibuk memotret makanannya atau mengabadikan momen untuk dibagikan ke dunia maya. Ia hanya duduk. Tenang. Dan justru ketenangan itulah yang membuat beberapa pasang mata di ruangan itu diam-diam menoleh, penasaran pada sosok yang seolah tidak tergesa-gesa oleh dunia.

Pemandangan semacam ini kian jarang kita temui. Di zaman ketika semua orang berlomba bersuara paling lantang, menampilkan diri paling mencolok, dan membuktikan eksistensi lewat keramaian, sifat tenang menjelma menjadi sesuatu yang hampir asing. Padahal, di balik ketenangan itu tersimpan pesona yang tidak pernah lekang—sebuah daya tarik yang tidak berteriak, tetapi mengundang.

Ketika Diam Bukan Berarti Kosong

Psikolog sosial dari Universitas Indonesia, Ratna Wulandari, mengisahkan bahwa orang dengan sifat tenang sering disalahpahami. "Banyak yang mengira orang pendiam itu pemalu, tidak percaya diri, atau bahkan tidak punya pendirian. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Mereka memilih untuk mendengar sebelum bicara, merenung sebelum bertindak," ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya.

Ratna menjelaskan, ketenangan adalah bentuk kecerdasan emosional yang mahal. Di dalamnya ada kemampuan mengelola gejolak batin, menahan diri dari reaksi berlebihan, dan memahami bahwa tidak setiap hal harus ditanggapi. "Orang tenang itu seperti danau. Permukaannya bisa terlihat diam, tapi di bawahnya ada kehidupan yang kaya," tambahnya.

"Orang tenang itu seperti danau. Permukaannya bisa terlihat diam, tapi di bawahnya ada kehidupan yang kaya."

Kisah nyata datang dari Bimo, seorang perawat di sebuah rumah sakit di Yogyakarta. Selama sepuluh tahun ia bekerja di ruang gawat darurat, tempat yang menuntut kecepatan dan ketenangan sekaligus. "Awalnya saya sering dianggap lambat karena tidak ikut panik saat semua orang panik. Tapi justru di momen-momen kritis, saya belajar bahwa tangan yang gemetar tidak bisa menolong siapa pun," kenangnya.

Bimo mengisahkan sebuah malam ketika seorang pasien anak datang dengan kondisi kritis. Keluarga histeris, suara alat medis bersahutan, dan suasana ruangan memanas. "Saya hanya bisa menarik napas, menenangkan diri, lalu bekerja. Setelah semuanya selesai dan anak itu selamat, ibunya memeluk saya sambil menangis. Katanya, ketenangan saya yang membuat dia percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Daya Tarik yang Tidak Pernah Usang

Di dunia yang mengagungkan kepribadian ekstrover, sifat tenang kerap dipandang sebagai kekurangan. Namun sejarah dan kehidupan sehari-hari membuktikan hal sebaliknya. Banyak pemimpin besar, seniman, dan pemikir ulung adalah pribadi yang pendiam—mereka tidak bersinar karena keramaian, tetapi karena kedalaman.

Seorang penulis senior, Larasati, mengaku bahwa ia selalu tertarik pada orang-orang yang tidak banyak bicara. "Ada pesona tersendiri pada orang yang tidak sibuk membuktikan dirinya. Mereka hadir, dan kehadirannya terasa cukup. Tidak perlu riuh untuk membuat orang lain merasa dihargai," ujarnya sambil tersenyum.

Ia mengenang almarhum ayahnya, seorang guru desa yang jarang berbicara namun dihormati seluruh kampung. "Ayah saya tidak pernah memarahi saya dengan suara keras. Cukup dengan tatapan dan beberapa kalimat singkat, saya tahu apa yang salah. Sampai sekarang, ketenangan itu yang saya rindukan," kisahnya dengan suara bergetar.

Menemukan Kekuatan dalam Tidak Bersuara

Bagi mereka yang memiliki sifat tenang, hidup memang tidak selalu mudah. Di lingkungan kerja, mereka bisa dianggap pasif. Dalam pergaulan, mereka sering diabaikan karena tidak menonjol. Namun banyak dari mereka yang akhirnya bangkit dan menemukan bahwa ketenangan adalah kompas yang menjaga arah.

Dinda, seorang desainer grafis berusia 29 tahun, mengisahkan bagaimana ia sempat merasa salah karena tidak sepandai teman-temannya dalam berbicara di depan umum. "Saya selalu jadi orang terakhir yang dipanggil saat rapat karena dianggap tidak akan bicara apa-apa. Tapi ketika saya menunjukkan karya, semua orang diam. Di situ saya sadar, saya tidak perlu berteriak untuk didengar," ujarnya bangga.

Para ahli menyebut kecenderungan ini sebagai quiet power—kekuatan yang bekerja tanpa suara. Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan sifat tenang cenderung lebih teliti, empatik, dan mampu mengambil keputusan dengan kepala dingin. Mereka adalah pendengar yang baik, sesuatu yang langka di zaman semua orang ingin didengar.

Maka, di tengah dunia yang bising ini, mungkin sudah saatnya kita berhenti memandang ketenangan sebagai kelemahan. Sebab di balik sosok yang jarang bersuara, tersimpan cerita, keteguhan, dan kehangatan yang tidak pernah pudar. Di sudut kafe itu, perempuan tadi akhirnya tersenyum tipis, menyesap kopinya yang dingin, lalu melangkah keluar—tenang, tanpa perlu membuktikan apa pun pada dunia yang terus berteriak. Dan justru di situlah pesonanya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User