Aug 25, 2026
entertainment

Perpisahan dengan Keigo Higashino: Maestro yang Menulis dengan Hati

Di sebuah sudut kota Tokyo yang basah oleh gerimis senja, seorang perempuan paruh baya memeluk erat sebuah buku lusuh. Matanya berkaca-kaca saat ponsel di genggamannya menampilkan kabar duka: dunia sa...

Perpisahan dengan Keigo Higashino: Maestro yang Menulis dengan Hati

Di sebuah sudut kota Tokyo yang basah oleh gerimis senja, seorang perempuan paruh baya memeluk erat sebuah buku lusuh. Matanya berkaca-kaca saat ponsel di genggamannya menampilkan kabar duka: dunia sastra baru saja kehilangan putra terbaiknya. Air matanya jatuh tepat di atas sampul Keajaiban Toko Kelontong Namiya, novel yang dulu membantunya bertahan di masa-masa tergelap.

Kepergian sang maestro memang tak hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan kerabat. Bagi jutaan pembaca di seluruh dunia, Higashino bukan sekadar penulis misteri. Ia adalah peracik kata yang menjadikan setiap lembar halaman sebagai ruang perenungan tentang kemanusiaan. Maka, ketika pada hari itu ia berpulang setelah berjuang melawan penyakit yang selama ini dirahasiakan, publik seolah kehilangan seorang sahabat yang tak pernah mereka temui, namun selalu hadir lewat kisah-kisahnya.

Dari Insinyur Hingga Empu Cerita

Jauh sebelum namanya menghiasi daftar bestseller dunia, Keigo Higashino adalah seorang insinyur listrik biasa. Lulus dari Universitas Prefektur Osaka, ia menghabiskan hari-harinya di balik meja kerja sembari diam-diam menabung mimpi. Di sela-sela urusan teknis, ia menulis dan mengirimkan naskah ke berbagai kompetisi. Penolakan bukanlah hal asing baginya.

Namun semesta berkata lain. Pada tahun 1985, novel perdananya Houkago memenangkan Penghargaan Edogawa Rampo, gerbang prestisius bagi penulis misteri di Jepang. Momen itu menjadi titik balik. Higashino memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan mengabdikan diri sepenuhnya pada dunia tulis-menulis. Risiko besar itu kelak terbukti sebagai langkah paling tepat dalam hidupnya.

Lewat lebih dari 60 novel yang lahir dari tangannya, Higashino terus bereksplorasi. Ia tak hanya berkutat pada teka-teki pembunuhan. Ia menyelami relung psikologi tersangka, korban, dan semua yang terjerat dalam pusaran peristiwa. Kejelian ilmiah mantan insinyur itu justru menjadi modal berharga ketika ia membangun alur yang rapat, logis, namun tetap digerakkan oleh emosi manusia yang kompleks.

Menulis untuk Memahami, Bukan Menghakimi

Banyak kritikus sastra menjulukinya sebagai "penulis yang mencintai pembunuhnya". Sebutan itu bukan pujian sinis, melainkan pengakuan atas pendekatannya yang amat manusiawi. Dalam setiap karyanya, Higashino seolah bertanya: apa yang membuat seseorang sanggup berbuat jahat? Dan jawabannya tak pernah hitam-putih.

Dalam Naoko, misalnya, ia membedah hubungan suami-istri yang seolah terpisahkan oleh garis tak kasatmata. Sementara lewat mega hit The Devotion of Suspect X (Kesetiaan Tersangka X), Higashino menyuguhkan pengorbanan yang begitu sunyi hingga terasa menyakitkan. "Aku tidak tertarik pada mekanisme kejahatan," katanya dalam suatu wawancara, "melainkan pada getaran hati yang mendorong seseorang melampaui batas moralnya."

Pendekatan inilah yang membuat novel-novelnya melampaui genre misteri. Para pembaca tak hanya disuguhi kejutan di halaman terakhir, tetapi juga permenungan panjang tentang cinta, pengorbanan, kesepian, dan kehampaan yang sering kali tersembunyi di bawah permukaan kehidupan modern. Higashino menulis seolah ia sedang mendekap luka yang tak terucapkan oleh siapa pun.

Warisan yang Tak Akan Pudar

Kepergian Higashino meninggalkan keheningan yang dalam. Sesuai permintaan keluarga, prosesi pemakaman digelar secara tertutup dan hanya dihadiri oleh kerabat dekat. Tidak ada hiruk-pikuk media. Tidak ada karpet merah. Namun dari seluruh penjuru dunia, karangan bunga dan ribuan pesan belasungkawa membanjiri media sosial.

Seorang pembaca asal Indonesia menulis, "Saya tak pernah bertemu dia, tapi buku-bukunya menemani saya melewati masa-masa sulit saat ayah meninggal. Terima kasih, Sensei." Ribuan pesan serupa mengalir, menjadi bukti betapa dalamnya hubungan emosional yang berhasil dijalin Higashino lewat kata-katanya.

Kini, Keajaiban Toko Kelontong Namiya, Salju Musim Semi, Misteri Buku Harian, dan puluhan judul lainnya akan tetap hidup di rak-rak buku, menyala sebagai lentera kecil di tengah kegelapan hati manusia. Higashino mungkin telah menutup matanya, namun ia meninggalkan warisan abadi: bahwa misteri terbesar dalam hidup bukanlah teka-teki yang harus dipecahkan, melainkan hati manusia yang harus dimengerti.

Di malam itu, perempuan paruh baya di sudut Tokyo menutup bukunya. Ia mengusap mata dan tersenyum tipis. Dalam diam, ia tahu, Keigo Higashino telah mengajarinya satu hal: bahwa kehilangan bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari sanalah, cerita sesungguhnya dimulai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User