Di sebuah ruang pertunjukkan berukuran kecil di Pematangsiantar, seorang bocah kelas empat sekolah dasar menaiki panggung kayu yang berderit setiap kali ia melangkah. Satu bohlam gantung menjadi penerangan tunggal. Di hadapannya berdiri warga kampung yang datang menyambut perayaan Hari Kemerdekaan dan Maulid Nabi. Namanya Teuku Rifnu Wikana, anak ketiga dari delapan bersaudara dari pasangan Teuku Syarifuddin dan Cut Nur Asiah. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasakan bahwa senyapnya penonton bisa terasa lebih keras daripada sorak-sorai. Panggung sederhana itu menanamkan mimpi yang kelak menemaninya ke seluruh penjuru Indonesia.
Empat puluh tahun kemudian, mimpi itu membawanya dari ruang latihan kecil hingga panggung Festival Film Indonesia. Namun perjalanannya tidak pernah berjalan mulus. Ia kerap mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai kisah tentang orang yang menolak menyerah ketika jalan di depannya tampak buntu.
Panggung Kecil, Semangat Besar
Ketertarikannya pada seni peran tumbuh sejak ia duduk di bangku kelas empat SD, ketika bergabung dengan Teater 46 di bawah asuhan Teuku Rinaldi. Bakatnya membuat ia sering dipercaya memerankan tokoh utama dalam setiap pentas. Di kota kecil itu, nama Teuku Rifnu mulai dikenal sebagai bocah yang berani berdiri sendirian di atas panggung.
Di balik layar kemapanan yang kelak terlihat, ada masa-masa ia harus berjuang memilih jalan. Ia sempat menempuh studi S-1 Perencanaan Wilayah dan Kota di Institut Teknologi Medan, namun memutuskan berhenti. Sebelum dikenal sebagai aktor, ia bekerja sebagai manajer radio CAS 90.4 FM di Pematangsiantar, lalu mencoba peruntungan sebagai tenaga pemasaran. Semua pekerjaan itu ia lakani dengan sabar, sambil menyimpan harapan suatu saat bisa berkarya di dunia seni.
Dua Bulan Mengamen di Jakarta
Keputusan pindah ke Jakarta datang dengan konsekuensi berat. Untuk bertahan hidup di kota besar, ia mengamen selama dua bulan. Gitar dijinjing dari satu persimpangan ke persimpangan lain, menunggu receh dari pengguna jalan yang terburu-buru. Momen mengharukan itu mengajarkan bahwa mimpi sering kali harus dibayar dengan keringat lebih dulu.
Peruntungan datang tanpa direncanakan. Pada 2004, ia mengantar seorang teman yang hendak mengikuti pemilihan pemeran untuk sebuah film layar lebar. Alih-alih hanya menunggu di pinggir, ia justru terlibat dalam proses audisi dan akhirnya mendapat peran. Sejak saat itu, ia resmi melangkah ke dunia perfilman Indonesia.
Marah yang Membuka Pintu
Kariernya benar-benar melesat pada 2008 ketika ia membintangi Laskar Pelangi sebagai Pak Bakri. Sutradara Riri Riza memilihnya setelah sesi diskusi soal penyensoran film di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, di mana ia berani menyuarakan pendapatnya dengan lantang. Keberanian bicara, yang bagi sebagian orang dianggap kurang sopan, justru menjadi tiketnya masuk ke salah satu film paling bersejarah perfilman Indonesia.
Sejak itu namanya makin sering muncul: Darah Garuda (2010) yang membawanya ke nominasi Aktor Pendukung Terbaik di Indonesian Movie Awards, Sang Penari (2011), hingga tawaran dari sutradara Gareth Evans untuk bermain dalam The Raid. Tawaran terakhir harus ia tolak karena telah menandatangani kontrak lebih dulu. Pada 2013, ia memerankan Joko Widodo dalam film Jokowi, peran yang menuntut keseriusan ekstra mengingat tokohnya sedang menjadi pusat perhatian publik.
Malam Panjang Menuju Piala Citra
Puncak perjalanan itu tiba pada 2017. Bersama Darius Sinathrya, ia tidak hanya bermain, tetapi juga menjadi produser dan penulis skenario film Night Bus. Karya tersebut mengantarkannya meraih Piala Citra untuk Pemeran Utama Pria Terbaik dan Penulis Skenario Adaptasi Terbaik bersama Rahabi Mandra di Festival Film Indonesia.
Pada malam penghargaan itu, ia menahan air mata. Bukan sekadar karena piala, melainkan karena teringat bocah yang dulu berdiri di panggung kayu Pematangsiantar, pemuda yang mengamen di Sudirman, dan aktor yang pernah ditolak berkali-kali. Kemenangan itu menjadi bukti bahwa perjalanan panjang selalu terasa manis di ujungnya.
Tetap Sederhana di Usia Emas
Kini, di usia 46 tahun, ia tetap produktif. Perannya sebagai Bimo dalam Perempuan Tanah Jahanam (2019), Pak Suripto dalam Dilan 1990 dan Dilan 1991, hingga Asmuni dalam Srimulat: Hidup Memang Komedi memperlihatkan luwesnya berpindah dari drama, horor, sampai komedi. Pada 2026, sejumlah judul baru menantinya, antara lain Suka Duka Tawa, Semua Akan Baik-Baik Saja, dan Memburu Pemangsa. Ia juga masih aktif di teater dan sesekali menyutradarai karya serial.
Di sela kesibukan itu, ia menjalani rumah tangga dengan Aida Fuady yang dinikahinya pada 2010 dan menjadi ayah bagi satu orang anak. Kesibukan tak pernah membuatnya lupa dari mana ia berasal.
Kisah Teuku Rifnu Wikana menyentuh siapa pun yang pernah merasa tertinggal. Ia mengajarkan bahwa bakat tanpa kerja keras hanya akan jadi kenangan, sedangkan kerja keras tanpa keberanian hanya akan jadi penyesalan. Inspirasi terbesarnya mungkin bukan piala yang ia kumpulkan, melainkan keputusan untuk terus bangkit setiap kali jalan ditutup. Dari panggung kecil di Pematangsiantar hingga panggung nasional, kisahnya tetap berjalan: sederhana, jujur, dan penuh harapan.
Comments (0)