Aug 25, 2026
entertainment

Perjalanan Perupa di Balik Deretan Poster Film Indonesia

Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter di pinggiran Yogyakarta itu, aroma cat akrilik bercampur kopi tubruk menyambut siapa pun yang datang. Jari-jari Darmawan, 58 tahun, bergerak pelan namun pasti di a...

Perjalanan Perupa di Balik Deretan Poster Film Indonesia

Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter di pinggiran Yogyakarta itu, aroma cat akrilik bercampur kopi tubruk menyambut siapa pun yang datang. Jari-jari Darmawan, 58 tahun, bergerak pelan namun pasti di atas kanvas, memulaskan warna demi warna hingga wajah seorang tokoh film muncul dan seolah menatap balik. Di dinding belakangnya, berjajar rapi puluhan poster film Indonesia. Sebagian lahir dari tangannya sendiri, sebagian lagi menjadi saksi bisu perjalanan panjang sinema Tanah Air yang pernah ia yakini akan mati, namun kini justru berdiri tegak.

"Setiap poster itu punya jiwa. Saya tidak sekadar melukis wajah pemainnya, saya melukis perasaan orang yang nanti menonton filmnya," ujar Darmawan dengan senyum sederhana.

Dari Bioskop Keliling ke Mimpi yang Nyaris Padam

Darmawan mengisahkan perjalanannya yang dimulai pada awal 1980-an. Ketika itu, ia adalah pelukis banner bioskop keliling di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Setiap kali film baru datang, ia begadang semalaman melukis wajah para bintang di kain putih lebar, lalu menggantungnya di depan layar tancap. Bagi warga kampung, lukisannya adalah pintu pertama menuju dunia mimpi, jendela kecil yang membuat anak-anak berlari pulang sambil meminta uang jajan tambahan kepada ibunya.

Namun zaman berubah. Satu per satu bioskop tutup, layar tancap menghilang dari alun-alun, dan poster cetak digital mengambil alih sepenuhnya. Di balik layar kejayaan teknologi itu, ada tangan-tangan seperti milik Darmawan yang kehilangan panggungnya. Ia sempat berjualan pulsa di pinggir jalan, mengecat rumah tetangga, bahkan menjadi kuli bangunan demi dapur yang tetap mengepul.

"Ada masa saya pulang kerja, melihat kuas di sudut rumah, lalu menangis sendiri. Saya takut mimpi saya sudah selesai," kenangnya dengan suara bergetar.

Bangkit Bersama Gelombang Baru Sinema Tanah Air

Titik balik itu datang justru dari tempat yang tak pernah ia duga. Sang anak mengunggah foto lukisan-lukisan lamanya ke media sosial, sekadar ingin mendokumentasikan kenangan keluarga. Dari sana, seorang sutradara muda terpikat dan memintanya membuat poster bergaya lukisan tangan untuk sebuah film independen. Karya itu kemudian menjadi perbincangan hangat, dan pesanan mulai berdatangan dari berbagai rumah produksi yang rindu sentuhan personal.

Kini, ketika film-film Indonesia kembali memenuhi layar bioskop dan berjajar bangga di lorong-lorong gedung pertunjukan, karya Darmawan ikut berdiri di antara deretan poster itu. Baginya, kebangkitan sinema Tanah Air bukan sekadar berita gembira di televisi, melainkan napas kedua bagi hidupnya sendiri. Setiap judul baru yang tayang terasa seperti kabar baik yang datang langsung ke pintu rumahnya.

"Saya seperti dilahirkan kembali. Ternyata yang klasik tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya menunggu waktu untuk pulang," katanya.

Momen Mengharukan di Depan Deretan Poster

Momen paling menyentuh terjadi beberapa waktu lalu, ketika Darmawan diundang ke sebuah pameran perfilman di Jakarta. Di sana, untuk pertama kalinya, ia berdiri di depan deretan poster film Indonesia yang memenuhi satu dinding panjang — dan salah satunya adalah lukisan tangannya. Tanpa sadar, air mata mengalir di pipinya yang mulai keriput. Empat puluh tahun perjuangan seakan berputar ulang dalam hitungan detik.

Yang membuatnya kian terharu, sang cucu yang ikut serta menunjuk poster karyanya sambil berkata lantang, "Itu bikinan Eyang!" Kalimat sederhana itu, bagi Darmawan, terasa lebih berharga dari penghargaan mana pun yang pernah ia bayangkan.

"Empat puluh tahun saya berjuang. Ternyata bukan poster yang saya perjuangkan, tapi keyakinan bahwa karya anak bangsa layak dilihat dunia," tuturnya.

Poster sebagai Wajah Pertama Sebuah Kisah

Bagi Darmawan, deretan poster film Indonesia yang kini mudah ditemui di bioskop, galeri, hingga dinding kafe bukanlah sekadar hiasan. Setiap lembarnya adalah wajah pertama dari sebuah kisah, undangan hangat bagi penonton untuk masuk dan merasakan mimpi yang sama. Di tengah gempuran era digital yang serba instan, ia percaya sentuhan tangan manusia tetap punya tempat yang tak tergantikan, karena di sanalah rasa dan ketulusan bersemayam.

Sore itu, sebelum menutup studionya, Darmawan kembali duduk di depan kanvas baru yang masih kosong. Di luar sana, film-film Indonesia terus bermunculan dan poster-poster baru terus berjajar memenuhi dinding kota. Dan di sudut ruangan kecilnya, seorang perupa sederhana terus melukis dengan hati — memastikan bahwa di balik setiap kisah besar, selalu ada tangan yang setia menjaga mimpinya tetap menyala, menjadi inspirasi sunyi bagi generasi yang akan datang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User