Suasana persidangan yang seharusnya hanya membicarakan masa depan anak-anak justru memanas ketika bayang-bayang masa lalu tiba-tiba muncul ke permukaan. Perseteruan antara Ruben Onsu dan Sarwendah yang semula berkutat pada hak asuh anak kini merembet ke ranah yang jauh lebih personal dan menyakitkan. Kubu Sarwendah secara tegas menyentil pihak Ruben yang dinilai mulai membawa-bawa nama mendiang ayah ke dalam pusaran konflik rumah tangga mereka.
Dalam keterangan resmi yang disampaikan melalui kuasa hukumnya, tim Sarwendah menyampaikan rasa kecewa yang mendalam. Mereka menilai, tindakan menyeret nama almarhum ayah ke dalam polemik properti yang saat ini juga menjadi bagian dari gugatan adalah sebuah langkah yang tidak pantas. Pernyataan ini menjadi titik baru dalam drama hukum yang sudah berlangsung selama beberapa bulan terakhir, menambah lapisan emosional yang kian rumit.
Sentilan Pedas untuk Ruben Onsu
Kuasa hukum Sarwendah dengan nada serius mengingatkan agar pihak Ruben Onsu tidak memperlebar medan pertarungan. Fokus utama yang sedang bergulir di pengadilan adalah soal pengasuhan anak, bukan untuk mengungkit sejarah keluarga atau menggunakan kenangan terhadap orang yang telah tiada sebagai amunisi dalam berselisih. “Kami memohon dengan sangat, jangan ada pihak yang menyeret nama mendiang ayah ke dalam pusaran ini. Itu adalah ranah pribadi yang seharusnya dihormati,” tegas salah satu perwakilan hukum Sarwendah di sela-sela jeda sidang.
Sikap tegas ini muncul setelah serangkaian narasi yang berkembang di publik menyebutkan adanya perdebatan mengenai asal-usul kepemilikan rumah yang kini disengketakan. Beberapa pihak menyebut bahwa mendiang ayah Ruben ikut berperan dalam proses pembelian aset tersebut, sehingga secara tidak langsung namanya terseret dalam argumen hukum. Bagi kubu Sarwendah, hal ini adalah sebuah kemunduran dalam proses mencari solusi terbaik bagi anak-anak.
Mereka menekankan bahwa anak adalah korban paling utama dalam setiap perceraian. Setiap ucapan dan tindakan orang dewasa yang terlibat seharusnya melindungi psikologis anak, bukan malah memperkeruh suasana dengan hal-hal yang tidak lagi relevan. Nama seorang ayah yang telah tiada seharusnya dijaga kehormatannya, bukan dijadikan topik perdebatan di ruang sidang maupun di hadapan publik.
Fokus pada Hak Asuh, Bukan Masa Lalu
Di tengah riuhnya pemberitaan, kubu Sarwendah terus berupaya menarik kembali benang merah persidangan ke tujuan semula: menentukan pola asuh terbaik bagi kedua buah hati mereka. Mereka berpendapat bahwa dengan melebarnya isu ke ranah properti dan masa lalu, dikhawatirkan esensi perlindungan anak akan terkikis. Pertarungan di pengadilan keluarga seharusnya bukan menjadi ajang adu argumen tanpa batas yang justru mengorbankan perasaan semua pihak, terutama anak-anak yang masih sangat membutuhkan ketenangan.
“Kami hanya ingin fokus pada pengasuhan. Apa yang terjadi di masa lalu, soal rumah atau keterlibatan orang tua, biarlah menjadi bagian dari sejarah yang tidak perlu diungkit-ungkit untuk saling menyakiti,” lanjut perwakilan hukum tersebut. Pernyataan ini seakan menjadi penegasan bahwa kubu Sarwendah tidak ingin konflik berlarut-larut dan berubah menjadi ajang saling sikut yang tidak sehat.
Mereka juga menyayangkan adanya upaya untuk membangun opini publik dengan melibatkan figur yang sudah tiada. Hal ini dianggap tidak hanya tidak etis, tetapi juga berpotensi menimbulkan luka bagi keluarga besar. Dalam budaya ketimuran, menjaga nama baik leluhur adalah sebuah keniscayaan. Oleh karena itu, menyeret nama mendiang ayah ke dalam sengketa dianggap sebagai tindakan yang sulit diterima oleh akal sehat dan norma kesopanan.
Pertaruhan Emosional di Balik Sengketa
Di balik layar, kedua pihak tentu memiliki kepentingan dan persepsi masing-masing. Namun, publik disuguhkan sebuah potret perceraian yang tidak hanya menyisakan luka pada mantan pasangan, tetapi juga mengancam kenangan terhadap orang tua yang telah tiada. Langkah kubu Sarwendah menyentil Ruben bisa dibaca sebagai upaya untuk memasang pagar agar konflik tidak semakin melebar ke wilayah yang sulit dikendalikan.
Ayah, dalam konteks apa pun, adalah figur yang dihormati. Menjadikannya bagian dari alat tawar-menawar di pengadilan adalah pilihan yang berisiko tinggi menimbulkan resistensi, baik dari sisi hukum maupun sosial. Para pengamat hukum keluarga menilai bahwa pengadilan biasanya akan mengesampingkan argumen yang tidak langsung berkaitan dengan kepentingan anak. Oleh karena itu, sentilan kubu Sarwendah ini juga bisa dipahami sebagai strategi untuk menjaga agar jalannya persidangan tetap berada pada koridor yang ditetapkan undang-undang.
Sementara itu, suasana di ruang tunggu pengadilan tetap dipenuhi oleh para pendukung kedua belah pihak. Masing-masing berharap kebenaran versi mereka yang akan diterima oleh majelis hakim. Di tengah kerumunan itu, sesekali terdengar bisik-bisik tentang bagaimana konflik ini akan berakhir. Akankah nama sang ayah terus-menerus terseret, ataukah peringatan dari kubu Sarwendah mampu meredam perluasan isu?
Yang pasti, mata publik kini tertuju pada respons Ruben Onsu dan tim hukumnya. Apakah mereka akan memilih untuk menahan diri dan kembali fokus pada anak, atau justru membuka babak baru yang lebih emosional? Bagi banyak orang, inilah ujian kedewasaan bagi dua publik figur yang telah lama dikenal harmonis di layar kaca. Rumah bisa diperdebatkan, hak asuh bisa dinegosiasikan, namun kehormatan seorang ayah yang telah tiada adalah hal yang semestinya dijaga bersama, meski di tengah prahara.
Comments (0)