Aug 25, 2026
entertainment

Pengamat: Keberlanjutan Pasar Film Indonesia Mesti Masuk Revisi UU Film

Di sebuah ruangan berukuran 3x4 meter di pinggiran Jakarta, seorang sineas muda masih setia menata ulang naskah film pendeknya. Skenario yang sudah ia perbaiki puluhan kali itu adalah jejak perjalanan...

Pengamat: Keberlanjutan Pasar Film Indonesia Mesti Masuk Revisi UU Film

Di sebuah ruangan berukuran 3x4 meter di pinggiran Jakarta, seorang sineas muda masih setia menata ulang naskah film pendeknya. Skenario yang sudah ia perbaiki puluhan kali itu adalah jejak perjalanan panjang: dari bangku kuliah, festival kecil di daerah, hingga mimpi untuk melihat karyanya tayang di layar lebar. Namun di balik semangat yang menyala, ada pertanyaan yang kerap menghantuinya: akankah film-film seperti miliknya mendapat ruang yang adil di pasar film Indonesia?

Kegelisahan itu tidak datang dari ruang kosong. Para pelaku industri, akademisi, dan pengamat perfilman meyakini bahwa masa depan sinema nasional tengah berada di persimpangan penting. Di tengah proses revisi Undang-Undang Perfilman yang sedang digodok, banyak pihak berharap persoalan keberlanjutan pasar film dalam negeri tidak tersingkir dari meja pembahasan.

Revisi yang Dinanti Pelaku Industri

Perubahan atas UU Perfilman memang telah lama ditunggu. Sejak undang-undang tersebut disahkan, wajah perfilman nasional berubah begitu cepat. Jumlah bioskop bertambah di berbagai kota, penonton semakin terbuka pada karya anak bangsa, dan sederet judul lokal berhasil mencatatkan jutaan penonton. Tapi di balik catatan manis itu, pekerjaan rumah besar masih menanti: distribusi yang belum merata, minimnya dukungan bagi sineas di luar Pulau Jawa, serta lemahnya perlindungan bagi karya-karya lokal di tengah gempuran konten asing.

Para pengamat menilai revisi ini tidak boleh berhenti pada persoalan kelembagaan semata. Ia harus menyentuh hal yang paling mendasar, yakni bagaimana industri bisa terus hidup dan menghidupi ribuan keluarga yang menggantungkan nasib pada dunia perfilman. Keberlanjutan pasar, kata mereka, adalah fondasi dari semua mimpi besar industri ini.

Keberlanjutan Pasar Menjadi Kunci

Keberlanjutan pasar film Indonesia kini menjadi sorotan utama. Pasar yang sehat tidak hanya diukur dari jumlah penonton yang membludak di musim tertentu, melainkan dari kemampuan industri untuk tumbuh merata sepanjang tahun. Keberagaman genre, pemerataan akses penonton di daerah, hingga kemandirian produksi menjadi indikator yang tak kalah penting.

Menurut sejumlah pengamat, pembahasan revisi UU Film semestinya menjadikan keberlanjutan ini sebagai prinsip yang menuntun setiap pasal. Tanpa arah yang jelas, dikhawatirkan industri hanya menikmati musim panen sesaat, lalu layu ketika tantangan datang. Justru di masa sulit itulah kekuatan sebuah regulasi diuji.

Hal-Hal yang Layak Masuk Pembahasan

Beberapa usulan dinilai layak masuk dalam pembahasan revisi. Pertama, insentif bagi produksi film nasional agar sineas pemula punya ruang bertumbuh. Kedua, penguatan jaringan distribusi hingga ke kota-kota kecil, sehingga penonton di daerah tidak hanya disuguhi konten dari luar. Ketiga, dukungan bagi bioskop-bioskop lokal yang kerap berjuang sendiri. Keempat, skema pendanaan yang ramah bagi karya-karya yang tidak semata mengejar komersial.

Semua usulan itu, menurut para pengamat, bermuara pada satu pertanyaan besar: apakah pasar film Indonesia akan mampu bertahan dalam jangka panjang? Jawabannya, sebagian besar, bergantung pada arah revisi yang sedang dirancang saat ini.

Harapan di Balik Layar

Di balik setiap produksi film, tersimpan ribuan kisah perjuangan yang jarang terlihat. Ada kru yang bekerja hingga larut malam, teknisi yang menabung bertahun-tahun untuk membeli peralatan, hingga ibu-ibu di daerah yang menyisihkan uang demi membeli tiket menonton karya anak negeri. Mereka semua adalah alasan mengapa pembahasan tentang keberlanjutan pasar bukan sekadar wacana, melainkan soal hidup matinya mimpi banyak orang.

Revisi UU Film memang bukan pekerjaan sehari. Namun setiap langkah kecil dalam pembahasan itu akan menentukan seperti apa wajah perfilman Indonesia di masa depan. Yang dibutuhkan bukan hanya regulasi yang rapi di atas kertas, melainkan komitmen untuk menjaga agar industri ini terus bernapas.

Di ruangan 3x4 meter itu, sang sineas muda kembali menatap naskahnya. Ia belum tahu kapan mimpi itu menjadi kenyataan. Tapi ia percaya, selama ada ruang yang adil bagi semua karya, selama keberlanjutan pasar benar-benar diperjuangkan, maka mimpi itu akan menemukan jalannya sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User