Sep 19, 2026
Nasional

Peneliti TII Dorong Manajemen Bencana Indonesia Beralih ke Antisipatif

Setiap tahun, Indonesia seolah tak pernah absen dari bayang-bayang musibah alam. Dari banjir bandang, tanah longsor, hingga gempa bumi, pola penanganan ben

Peneliti TII Dorong Manajemen Bencana Indonesia Beralih ke Antisipatif

Setiap tahun, Indonesia seolah tak pernah absen dari bayang-bayang musibah alam. Dari banjir bandang, tanah longsor, hingga gempa bumi, pola penanganan bencana tanah air kerap memperlihatkan formula yang sama: tunggu bencana terjadi, baru bantuan diterjunkan. Melihat siklus berulang ini, Peneliti The Indonesian Institute (TII), Made Natasya Restu Dewi Pratiwi, menyuarakan desakan kuat agar sistem penanganan bencana nasional segera dirombak total dari pendekatan bersikap reaktif menjadi antisipatif.

Langkah perubahan paradigma ini dinilai sangat mendesak mengingat posisi geografis Indonesia yang berada di kawasan *Ring of Fire* serta meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi akibat krisis iklim global. Pola lama yang mengandalkan penanganan pascabencana terbukti menyerap anggaran negara dalam jumlah sangat besar dan sering kali terlambat untuk menyelamatkan nyawa serta aset berharga warga.

Mengapa Pendekatan Reaktif Tak Lagi Efektif?

Selama ini, alokasi dana dan sumber daya pemerintah pusat maupun daerah cenderung menumpuk pada fase *emergency response* atau tanggap darurat. Ketika banjir melanda atau tanah longsor menimbun permukiman, barulah dapur umum didirikan dan bantuan logistik dikirimkan. Pendekatan seperti ini, menurut analisis TII, memiliki banyak kelemahan mendasar dari sisi efisiensi maupun perlindungan masyarakat.

"Manajemen bencana yang reaktif itu ibarat mengobati luka tanpa pernah menambal sumber bahayanya. Kita terus-menerus menghabiskan sumber daya untuk pemulihan, padahal risikonya bisa ditekan signifikan jika kita bertindak sebelum bencana meluluhlantakkan kehidupan masyarakat," tegas Natasya dalam keterangannya.

Kerugian ekonomi akibat bencana di Indonesia diperkirakan mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya. Sebagian besar dari dampak finansial dan kerugian jiwa tersebut sebenarnya dapat diminimalisir secara bermakna apabila mekanisme peringatan dini (*early warning*) dihubungkan secara langsung dengan aksi dini yang terencana (*early action*).

Perbandingan Model Manajemen Bencana

Untuk memahami urgensi pergeseran paradigma ini secara lebih mendalam, berikut adalah perbandingan mendasar antara model penanganan bencana reaktif dan antisipatif:

Indikator Pendekatan Reaktif Pendekatan Antisipatif
Fokus Utama Penanganan darurat pascabencana Pencegahan dan pemetaan risiko dini
Alokasi Anggaran Tinggi pada tanggap darurat & rekonstruksi Investasi pada edukasi, infrastruktur, & mitigasi
Penggunaan Data Evaluasi dampak setelah kejadian Prediksi iklim & sistem peringatan dini real-time
Dampak Sosial Risiko korban jiwa dan kerugian tinggi Ketahanan masyarakat lebih siap dan sigap

Strategi Bertransisi Menuju Manajemen Bencana Antisipatif

Perubahan menuju manajemen bencana antisipatif memerlukan kolaborasi lintas sektor yang kokoh. TII menyoroti pentingnya penguatan integrasi data antara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta pemerintah daerah. Sering kali, sinyal peringatan dini sudah dikeluarkan oleh lembaga teknis, namun tidak ditindaklanjuti dengan tindakan taktis di lapangan oleh pemangku kebijakan setempat.

Selain penguatan data, fleksibilitas anggaran juga menjadi kunci vital. Pemerintah daerah harus diberikan kemudahan legalitas untuk mencairkan dana darurat sebelum bencana benar-benar terjadi, khususnya saat indikator cuaca ekstrem sudah berada pada level bahaya. Edukasi berbasis komunitas di tingkat desa juga harus terus digelorakan agar warga lokal memiliki resiliensi dan pemahaman evakuasi mandiri tanpa harus menunggu arahan pusat.

"Sudah saatnya keselamatan warga menjadi prioritas melalui tindakan nyata yang terencana, bukan sekadar respons keprihatinan saat musibah sudah terjadi," tambah Natasya. Dengan mengadopsi skema antisipatif, Indonesia tidak hanya menghemat anggaran negara, tetapi juga dapat menyelamatkan ribuan jiwa dari ancaman bencana di masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User