Oct 11, 2026
Hukum

Pelajar Sevran Protes, Merasa Ditinggalkan Negara Prancis

SEVRAN, PRANCIS — Di sebuah kota pinggiran berpenghasilan rendah di timur laut Paris, para pelajar memilih tetap berada di luar gerbang sekolah. Bukan kare

Pelajar Sevran Protes, Merasa Ditinggalkan Negara Prancis

SEVRAN, PRANCIS — Di sebuah kota pinggiran berpenghasilan rendah di timur laut Paris, para pelajar memilih tetap berada di luar gerbang sekolah. Bukan karena malas, melainkan karena mereka menilai kondisi ruang kelas sudah tidak layak untuk ditempati. Mereka mengaku ingin sekali kembali belajar, tetapi protes dinilai satu-satunya cara agar suara mereka didengar.

Sevran, sebuah banlieue atau kota satelit di pinggiran ibu kota Prancis, menjadi lokasi aksi yang menyita perhatian. Para siswa mengeluh soal gedung sekolah yang penuh sesak, fasilitas minim, dan suhu ruangan yang menyengat saat gelombang panas melanda. Mereka menyebut negara seolah membiarkan sekolah-sekolah di kawasan mereka berjalan apa adanya.

Rutinitas Pagi Mohammed Sebelum Berangkat ke Sekolah

Kisah Mohammed, 17 tahun, menggambarkan betapa berat perjuangan pelajar di kawasan ini bahkan sebelum sampai di kelas. Ia bukan hanya pelajar, tapi juga pengasuh adik-adiknya. Ibunya bekerja sebagai petugas keamanan dan harus menghidupi keluarga seorang diri.

  1. Pukul 06.00 — Mohammed bangun dan langsung mengurus adik-adiknya, membantu ibunya yang bekerja sebagai petugas keamanan.
  2. Perjalanan ke sekolah — Ia harus menaiki dua bus yang penuh sesak, lalu lanjut dengan kereta lokal menuju sekolah menengahnya di Sevran.
  3. Sampai di kelas — Ia mendapati ruang kelas yang tidak menyediakan cukup kursi dan meja untuk semua murid.
  4. Jam pelajaran — Kelas begitu padat hingga interaksi dengan guru nyaris mustahil dilakukan.
"Kursi dan meja tidak cukup untuk semua, jadi sebagian murid harus berdiri," kata Mohammed, dikutip dari laporan The Guardian.

Bayangkan seorang remaja yang sudah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan, lalu harus mengikuti pelajaran sambil berdiri. Situasi itu bukan kejadian sekali dua kali, melainkan kenyataan sehari-hari di sekolahnya.

Gelombang Panas Bikin Otak Tak Bisa Bekerja

Masalah tidak berhenti pada kekurangan kursi. Mohammed menyebut saat gelombang panas melanda tahun ini, suhu di dalam kelas yang penuh sesak bisa terasa seperti 40 derajat Celsius. Tidak ada naungan, tidak ada tirai jendela untuk menahan panas.

"Saking panasnya, otak saya tidak bisa berfungsi," ujarnya.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: bagaimana mungkin proses belajar berjalan layak jika tubuh dan pikiran siswa sudah kewalahan sebelum materi pertama selesai dijelaskan? Para pelajar menilai ini bukan soal kemewahan, melainkan kebutuhan dasar yang seharusnya dijamin negara.

Merasa Ditinggalkan Negara, Protes Berlanjut

Inti dari aksi ini adalah rasa ditinggalkan. Para siswa di Sevran merasa pemerintah Prancis memperlakukan sekolah di kawasan pinggiran kota dengan standar berbeda dibanding sekolah di pusat kota. Mereka menuntut perbaikan nyata: ruang kelas yang tidak melebihi kapasitas, pendingin atau setidaknya ventilasi dan tirai yang memadai, serta fasilitas belajar yang layak.

Mereka mengaku sangat ingin kembali ke kelas. Namun selama kondisi belum berubah, protes dianggap sebagai satu-satunya jalan agar tuntutan mereka didengar. Aksi ini menambah daftar panjang persoalan pendidikan di kawasan banlieue Prancis, yang kerap dikaitkan dengan kesenjangan sosial dan minimnya perhatian negara.

Yang Dituntut Para Pelajar

  • Menambah jumlah kursi dan meja agar seluruh murid bisa belajar dengan layak.
  • Mengurangi kepadatan kelas supaya interaksi guru dan siswa tetap berjalan.
  • Menyediakan tirai, ventilasi, atau pendingin untuk menghadapi gelombang panas.
  • Perlakuan setara antara sekolah di pinggiran kota dan di pusat kota.

Hingga kini, para pelajar Sevran bertahan di luar gerbang sekolah mereka. Mereka menunggu jawaban, bukan janji. Bagi mereka, hak atas ruang kelas yang layak bukan kemewahan, melainkan hal paling dasar yang seharusnya sudah mereka dapatkan sejak lama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User