Oct 10, 2026
entertainment

Para Pejalan Bijak Menyusuri Keindahan Sorong Selatan

Jakarta, pagi itu terasa berbeda. Di sebuah ruang pertemuan yang hangat di kawasan ibu kota, deretan kursi mulai terisi oleh orang-orang yang membawa ransel pikiran penuh pertanyaan. Bukan pertanyaan ...

Para Pejalan Bijak Menyusuri Keindahan Sorong Selatan

Jakarta, pagi itu terasa berbeda. Di sebuah ruang pertemuan yang hangat di kawasan ibu kota, deretan kursi mulai terisi oleh orang-orang yang membawa ransel pikiran penuh pertanyaan. Bukan pertanyaan soal tujuan wisata murah atau daftar pantai tersembunyi, melainkan sesuatu yang lebih jauh: mengapa kita harus berjalan, dan bagaimana seharusnya kita melangkah ketika menyusuri bumi ini.

Di situlah benih percakapan besar itu ditanam. Sebuah bincang redaksi dengan tajuk sederhana namun menggugah, “Mengapa Kita Perlu Para Pejalan Bijak?”, resmi membuka rangkaian kegiatan bertajuk “Jelajah Kemolekan Sorong Selatan”. Acara ini lahir dari kolaborasi Kemitraan Strategis National Geographic Indonesia bersama Legenda Khatulistiwa, yang berada dalam ekosistem Plataran Indonesia. Kegiatan digelar pada Jumat, 2 Oktober 2026.

Momen Mengharukan Sebuah Pembukaan

Bagi sebagian orang, pembukaan acara hanyalah formalitas. Namun siang itu berbeda. Ketika para narasumber mulai berbicara, ruangan seolah menyimpan napas. Ada kisah tentang desa-desa pesisir yang jarang tersentuh pemberitaan, ada catatan perjalanan menuju teluk-teluk yang birunya terlalu sempurna untuk digambarkan lewat layar ponsel, dan ada pula suara-suara warga lokal yang selama ini hanya menjadi latar belakang foto, bukan tokoh utama cerita.

Sepasang mata perempuan muda di barisan depan terlihat berkaca-kaca ketika seorang pembicara menceritakan momen ketika ia pertama kali menginjakkan kaki di pesisir selatan Papua Barat Daya. Ia mengisahkan, air matanya bukan karena sedih, melainkan karena merasa kecil di hadapan ciptaan yang begitu luas. Perjalanan itu, katanya, tak pernah soal seberapa jauh kita pergi, melainkan seberapa dalam kita memahami tempat yang kita datangi.

Satu langkah yang disertai rasa hormat akan selalu lebih berarti daripada seribu langkah yang hanya mengejar foto-foto indah.

Kutipan sederhana itu sontak disambut helaan napas panjang dari hadirin. Seolah semua orang di ruangan tersebut sedang mengingat perjalanan mereka sendiri, perjalanan yang pernah mengubah cara memandang dunia.

Sorong Selatan, Permata yang Mulai Bersinar

Sorong Selatan bukan nama yang lazim masuk dalam daftar kunjungan wisatawan. Kabupaten di ujung barat Papua ini menyimpan garis pantai panjang, teluk-teluk jernih, dan hutan yang masih berbisik rahasia. Namun seperti kebanyakan permata terpendam, aksesibilitas dan pengelolaan masih menjadi tantangan tersendiri.

Kolaborasi yang dicanangkan ini ingin menghadirkan narasi baru: bahwa keindahan sebuah destinasi tidak boleh dipisahkan dari keberlanjutan dan kesejahteraan warganya. Ekosistem Plataran Indonesia menjadi wadah yang menghubungkan kebutuhan pariwisata bertanggung jawab dengan kearifan lokal yang sudah lama hidup di sana.

“Kita tidak sedang menjual pemandangan. Kita sedang mengajak orang memahami sebuah rumah,” ujar salah satu perwakilan penyelenggara dengan nada tenang namun penuh keyakinan. Baginya, setiap destinasi adalah rumah bagi seseorang, dan tamu yang baik selalu mengetuk pintu sebelum masuk.

Pesan itu terdengar sederhana, namun menyentuh. Di era ketika konten perjalanan berlomba-lomba mengejar angka penonton, gagasan untuk kembali kepada manusia terasa seperti angin segar. Para pejalan bijak, menurut mereka, adalah orang yang mau berhenti sejenak, mendengar cerita warga, mencicipi makanan yang dimasak sendiri, dan memastikan jejak yang ditinggalkan tidak merusak.

Perjalanan yang Membangkitkan Kesadaran

Di balik layar acara pembukaan ini, tersimpan kerja keras panjang. Tim riset menyusuri peta, jaringan komunikasi dibangun dengan komunitas lokal, hingga detail-detail kecil seperti penerjemahan istilah budaya agar tidak salah kaprah. Semua dilakukan agar momen mengharukan ini bukan sekadar seremoni, melainkan awal dari gerakan yang nyata.

Pejalan bijak, dalam pandangan para penggagas, adalah sosok yang mampu menyeimbangkan rasa penasaran dengan rasa tanggung jawab. Ia berjuang menahan godaan untuk mengambil apa pun tanpa izin, dan memilih membangun hubungan jangka panjang dibanding kunjungan sekali pakai. Ia paham bahwa mimpi tentang pariwisata indah harus tumbuh bersama mimpi warga lokal tentang masa depan yang lebih layak.

Kisah-kisah yang mengalir di ruangan itu menunjukkan bahwa inspirasi tidak selalu datang dari tempat jauh. Terkadang, ia lahir dari percakapan sederhana dengan nelayan yang mengenal ombak lebih baik dari peta mana pun, atau dari anak muda desa yang bermimpi agar kelak tamu-tamunya datang bukan untuk mengambil, melainkan untuk memahami.

Mimpi untuk Perjalanan Berikutnya

Jumat sore itu, ketika pintu ruangan perlahan ditutup, yang tersisa bukan sekadar catatan rapat. Yang tersisa adalah semangat untuk terus melangkah dengan cara yang lebih manusiawi. “Jelajah Kemolekan Sorong Selatan” baru selesai membuka bab pertamanya, dan banyak halaman kosong menunggu untuk diisi.

Perjalanan panjang ini mungkin tidak akan mudah. Ada tantangan infrastruktur, ada perbedaan pendapat, ada pula keraguan dari pihak-pihak yang terbiasa dengan cara lama. Namun sejarah selalu ditulis oleh mereka yang berani memulai. Dan siang itu, di sebuah ruangan berukuran sederhana di Jakarta, langkah pertama itu diambil dengan penuh harapan.

Semoga ke depan, semakin banyak yang tersadar bahwa keindahan alam Nusantara adalah amanah, bukan milik sembarang orang untuk dieksploitasi. Semoga pula semakin banyak pejalan yang bijak, yang datang pergi dengan hati bersih, membawa cerita, dan meninggalkan dampak baik. Karena pada akhirnya, perjalanan terbaik adalah yang membuat kita pulang sebagai versi diri yang lebih baik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User