Sep 19, 2026
Nasional

Paljaya Ingatkan Warga: Tangki Septik Wajib Disedot Secara Berkala

Banyak masyarakat perkotaan masih meyakini mitos bahwa tangki septik (septic tank) yang tidak pernah penuh atau meluap selama bertahun-tahun menandakan sis

Paljaya Ingatkan Warga: Tangki Septik Wajib Disedot Secara Berkala

Banyak masyarakat perkotaan masih meyakini mitos bahwa tangki septik (septic tank) yang tidak pernah penuh atau meluap selama bertahun-tahun menandakan sistem pembuangan di rumah mereka bekerja sempurna. Menanggapi fenomena tersebut, Perusahaan Umum Daerah Pengolahan Air Limbah (Paljaya) secara tegas membantah anggapan keliru ini. Pihak Paljaya mengingatkan bahwa tangki septik yang tidak pernah disedot justru menjadi sinyal bahaya serius terhadap sanitasi lingkungan dan kesehatan keluarga.

Faktanya, kotoran atau limbah domestik yang tidak pernah menumpuk di dalam penampungan umumnya bukan karena terurai secara alami secara tuntas, melainkan merembes langsung ke dalam tanah di sekitarnya. Kondisi ini berisiko tinggi mencemari sumber air tanah dangkal yang kerap digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari.

Mitos Tangki Septik 'Abadi' dan Bahaya Resapan Liar

Bagi sebagian warga, memiliki tangki septik yang tidak pernah disedot selama puluhan tahun kerap dianggap sebagai keuntungan karena menghemat biaya perawatan. Namun, dari kacamata teknis sanitasi lingkungan, hal tersebut menunjukkan adanya kebocoran struktur atau penggunaan sistem peresapan tanpa dasar kedap air yang tidak sesuai standar teknis baku.

"Bila tangki septik di rumah Anda tidak pernah penuh selama belasan hingga puluhan tahun, kemungkinan besar air dan lumpur tinja meresap langsung ke pori-pori tanah. Ini sangat berbahaya karena bakteri patogen seperti Escherichia coli (E. coli) dapat mencemari air sumur warga," tegas perwakilan teknis Paljaya.

Kronologi Terjadinya Kontaminasi Air Tanah

Pencemaran lingkungan akibat sistem pembuangan tinja yang tidak terawat berlangsung secara perlahan namun memiliki dampak jangka panjang yang fatal bagi ekosistem pemukiman:

  1. Akumulasi Lumpur Tinja: Setiap hari limbah domestik masuk ke tangki penampungan, di mana proses pengendapan dan fermentasi anaerobik menghasilkan endapan lumpur pekat di dasar tangki.
  2. Penyumbatan dan Tekanan Struktur: Tanpa adanya penyedotan berkala, endapan lumpur makin meninggi dan menekan dinding tangki, memicu retakan mikro atau membuat cairan limbah meluber melalui dinding resapan non-standar.
  3. Perembesan Bakteri Patogen: Limbah cair yang membawa jutaan bakteri berbahaya meresap ke lapisan akuifer tanah dangkal dan menyebar mengikuti aliran air tanah.
  4. Kontaminasi Sumber Air Bersih: Sumur bor atau sumur gali warga yang berjarak kurang dari 10 meter dari lokasi tangki septik akhirnya tercemar bakteri dan senyawa berbahaya seperti nitrat.

Langkah Pengelolaan dan Jadwal Sedot Rutin

Untuk memastikan lingkungan tetap higienis dan terhindar dari penyakit bawaan air seperti diare, kolera, dan tifus, Paljaya mengimbau warga untuk menjalankan langkah pengelolaan sanitasi yang benar:

  • Penyedotan Berkala: Lakukan pengurasan atau sedot tinja secara teratur setiap 2 hingga 3 tahun sekali untuk membuang lumpur tinja yang tidak dapat terurai.
  • Gunakan Tangki Kedap Air: Pastikan tangki septik menggunakan material kedap air yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) agar tidak mencemari tanah sekitar.
  • Gunakan Jasa Resmi: Manfaatkan layanan sedot tinja resmi dan terverifikasi dari Paljaya atau operator berizin agar limbah diolah di Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT), bukan dibuang sembarangan ke badan sungai.

Melalui edukasi berkelanjutan ini, masyarakat diharapkan semakin sadar bahwa pemeliharaan berkala tangki septik bukan sekadar urusan kenyamanan rumah tangga, melainkan investasi penting bagi kesehatan lingkungan bersama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User