Aug 25, 2026
entertainment

Ong Seong-wu Buka Suara Tentang Peran Antagonis Pertamanya

Di balik tirai kamera yang baru saja berhenti berputar, seorang aktor berdiri mematung di sudut studio. Riasan gelap masih menempel di wajahnya, menyisakan jejak karakter yang baru saja ia hidupkan. N...

Ong Seong-wu Buka Suara Tentang Peran Antagonis Pertamanya

Di balik tirai kamera yang baru saja berhenti berputar, seorang aktor berdiri mematung di sudut studio. Riasan gelap masih menempel di wajahnya, menyisakan jejak karakter yang baru saja ia hidupkan. Napasnya tertahan, bukan karena lelah, melainkan karena baru saja melewati sebuah perjalanan emosional yang belum pernah ia jamah sebelumnya. Inilah momen ketika Ong Seong-wu, untuk pertama kalinya dalam karier aktingnya, menyelami jiwa seorang villain dalam drama terbaru berjudul Spooky in Love.

Bagi banyak penggemar, nama Ong Seong-wu lebih akrab dengan karakter-karakter hangat dan menyenangkan yang kerap ia mainkan. Namun kali ini, ia justru memilih jalur yang berbeda: menjadi sosok antagonis yang penuh teka-teki. Dalam perbincangan yang penuh keterusterangan, Seong-wu mengisahkan bagaimana keputusan ini bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah. “Ada rasa takut,” ungkapnya. “Tapi rasa takut itu justru yang mendorong saya untuk mencoba.”

Menari di Atas Garis Gelap dan Terang

Perjalanan Seong-wu menuju Spooky in Love dimulai dari sebuah pertemuan sederhana dengan sutradara. Saat naskah pertama kali mendarat di tangannya, ia mengaku terdiam cukup lama. Karakter villain yang ditawarkan padanya bukan sekadar sosok jahat satu dimensi, melainkan manusia dengan luka dan alasan di balik setiap tindakannya. “Saya tidak ingin penonton hanya membencinya. Saya ingin mereka memahami mengapa ia menjadi seperti itu,” ujarnya dengan nada yang penuh perenungan.

Untuk membangun karakter tersebut, Seong-wu menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin, mempelajari bagaimana sudut pandang seorang antagonis terbentuk. Ia membaca buku-buku psikologi, mendiskusikan masa lalu karakternya dengan penulis naskah, bahkan mencoba menulis jurnal seolah ia benar-benar menjadi sosok itu. Proses ini, katanya, tidak hanya melelahkan secara mental, tetapi juga menyentuh sisi-sisi emosional yang selama ini tersimpan rapat.

Air Mata di Balik Senyum Pahit

Tidak ada yang menyangka bahwa di balik senyum pahit yang ia tampilkan di layar, ada tetesan air mata yang jatuh saat syuting berlangsung. Seong-wu menceritakan satu momen mengharukan ketika ia harus membawakan adegan konfrontasi emosional dengan lawan mainnya. “Setelah sutradara bilang ‘cut’, saya tidak bisa langsung berhenti menangis,” kenangnya. “Rasanya seperti semua emosi yang saya bangun untuk karakter itu meledak bersamaan.”

Staf di lokasi syuting pun menyaksikan bagaimana aktor ini benar-benar tenggelam dalam perannya. Beberapa kru bahkan mengaku merinding melihat transformasi Seong-wu dari pribadi yang ceria menjadi sosok dingin penuh perhitungan. Di balik layar, ia bukan hanya berjuang melawan karakter, tetapi juga melawan keraguannya sendiri: mampukah ia menjadi villain yang meyakinkan?

Inspirasi dari Sebuah Mimpi

Menariknya, Seong-wu mengungkapkan bahwa keputusan untuk mengambil peran ini juga dipicu oleh sebuah mimpi. Beberapa tahun lalu, ia pernah membayangkan dirinya memerankan karakter yang kompleks dan menantang, bukan sekadar pahlawan yang selalu benar. “Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa lebih dari sekadar satu warna,” katanya. Spooky in Love menjadi jawaban atas mimpi itu.

Kisah di balik pemilihan peran ini juga melibatkan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Keluarganya, yang semula khawatir melihatnya memerankan tokoh jahat, akhirnya memberikan semangat penuh setelah membaca naskah. “Mereka bilang, ini akan menjadi perjalanan yang tidak akan pernah saya lupakan,” ujar Seong-wu sambil tersenyum tipis.

Bangkit dari Zona Nyaman

Melalui debut villainnya ini, Seong-wu tidak hanya menyuguhkan penampilan yang berbeda, tetapi juga mengirimkan pesan tentang keberanian untuk bangkit dari zona nyaman. Dalam setiap adegan yang ia mainkan, ada jejak perjuangan dan kegigihan yang terasa begitu manusiawi. Ia tidak ingin sempurna; ia hanya ingin nyata.

Kini, setelah semua proses panjang itu ia lalui, Seong-wu berharap penonton bisa melihat lebih dalam ke dalam hati seorang antagonis. “Kita semua punya sisi gelap. Bedanya, kita memilih untuk tidak menyerah padanya,” tutupnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User