Aug 25, 2026
entertainment

Netflix Digugat Band Metal Demon Hunter Akibat Nama Tur KPop

Di sudut studio latihan yang sesak dengan amplifier dan kabel berserakan, ruangan berukuran empat kali lima meter itu tiba-tiba berubah sunyi. Gitar yang biasanya meraung, kini hanya tergantung di leh...

Netflix Digugat Band Metal Demon Hunter Akibat Nama Tur KPop

Di sudut studio latihan yang sesak dengan amplifier dan kabel berserakan, ruangan berukuran empat kali lima meter itu tiba-tiba berubah sunyi. Gitar yang biasanya meraung, kini hanya tergantung di leher pemiliknya. Di layar ponsel, terpampang kabar yang tak pernah mereka bayangkan: nama yang mereka rawat selama lebih dari dua dekade, nama yang mereka bawa berkeliling dunia, mendadak menjadi perbincangan karena alasan yang sama sekali berbeda.

Gugatan itu datang dari kelompok musik metal asal Amerika Serikat yang sejak lama mengusung nama Demon Hunter. Mereka melayangkan tuntutan hukum kepada raksasa layanan streaming Netflix, menyusul rencana tur konser musik KPop yang memakai tajuk serupa, Demon Hunters. Bagi banyak penggemar musik pop Korea, nama itu mungkin terdengar seperti judul film yang ringan. Namun bagi para musisi yang telah berjuang sejak akhir 1990-an, nama itu adalah identitas, harga diri, dan jejak panjang air mata.

Perjalanan Panjang di Balik Sebuah Nama

Mengisahkan perjalanan band ini bukan sekadar soal musik. Sejak langkah pertama mereka di panggung-panggung kecil, perjalanan itu diisi kerja keras, konser sepi, dan mimpi yang terus mereka peluk erat. Album demi album mereka rilis tanpa gemerlap lampu sorot, tapi setiap nada lahir dari kejujuran yang sederhana: bermain musik karena memang itulah yang mereka cintai.

"Nama ini bukan sekadar tulisan di poster," ujar salah satu personel dengan suara bergetar, mengenang momen pertama kali kabar gugatan itu mereka baca. "Ini adalah bagian dari perjalanan kami, bagian dari siapa kami. Melihatnya dipakai untuk hal yang jauh dari dunia kami terasa seperti kehilangan sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata."

Mereka mengingat masa-masa sulit ketika panggung hanya dihadiri segelintir penonton, ketika uang tak cukup untuk ongkos perjalanan antarkota. Namun di setiap titik terendah itu, nama Demon Hunter tetap mereka jaga seperti menjaga janji. Bagi mereka, nama itu adalah doa yang dipanjatkan lewat musik, bukan sekadar merek dagang.

Ketika Dua Dunia Musik Berbenturan

Di balik layar, kisah ini menyentuh persoalan yang lebih dalam daripada sekadar sengketa nama. Dua dunia musik yang sangat berbeda—metal yang sarat tenaga dan penuh kegelapan, serta KPop yang ceria dan penuh warna—kini harus berhadapan di ruang hukum. Rencana tur yang semula digadang-gadang sebagai hiburan besar justru memicu pertarungan yang tak terduga.

Menariknya, respons penggemar dari kedua kubu tidak melulu panas. Sebagian penggemar KPop justru menyatakan empati, mengaku baru mengetahui bahwa nama tersebut telah lama menjadi bagian dari sejarah musik metal. Di media sosial, momen mengharukan muncul ketika para penggemar lama band itu membagikan kisah mereka: bagaimana lagu-lagu Demon Hunter menemani mereka saat patah hati, saat kehilangan, dan saat mencoba bangkit dari keterpurukan.

Bagi para personel, dukungan itulah yang terasa paling menyentuh. Mereka tak menuntut apa pun yang berlebihan, hanya ingin nama yang mereka rawat dihormati sebagaimana mereka menghormati karya orang lain. Inti dari gugatan ini, kata mereka, adalah rasa memiliki—sesuatu yang mungkin sulit dipahami oleh mereka yang tak pernah menghabiskan malam-malam panjang di studio demi satu nada yang sempurna.

Harapan di Tengah Pertarungan

Meski langkah hukum tengah berjalan, para musisi itu memilih untuk bangkit dengan kepala tegak. Mereka menegaskan bahwa perjuangan ini bukan tentang melarang orang lain berkarya, melainkan tentang menjaga sesuatu yang mereka anggap berharga. Di tengah ketidakpastian, mereka menemukan inspirasi baru: bahwa nama mereka, ternyata, dicintai oleh lebih banyak orang daripada yang mereka duga.

"Kami tidak ingin menjadi musuh siapa pun," tutur sang vokalis dengan nada lirih. "Kami hanya ingin kisah kami dihormati. Jika ada satu hal yang kami pelajari dari semua ini, itu adalah bahwa perjuangan kecil yang kami mulai di garasi rumah dulu ternyata berarti besar bagi banyak orang."

Di studio kecil itu, sang gitaris akhirnya menekan senar pertamanya. Suara itu mengalun pelan, seperti pengingat bahwa apa pun yang terjadi di ruang sidang nanti, musik—dan nama yang mereka rawat dengan keringat serta air mata—akan tetap hidup di hati orang-orang yang mendengarnya. Sebab di balik setiap gugatan, ada manusia; dan di balik setiap nama, selalu ada kisah yang layak diperjuangkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User