Halo pembaca Beritaseputar.com! Ada kabar yang memberikan titik terang dari bencana banjir bandang melanda Nepal. Di tengah kekhawatiran atas nasib puluhan pekerja yang hilang pascabencana, seorang pakar keselamatan terowongan internasional mengimbau agar tim SAR tidak kehilangan harapan. Menurutnya, masih ada peluang besar bagi para pekerja yang terjebak di dalam lorong bawah tanah proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Upper Trishuli-3A untuk bertahan hidup.
Harapan Hidup di Dalam Terowongan Bawah Tanah
Arnold Dix, seorang ahli bencana dan keselamatan terowongan terkemuka asal Australia yang memberikan asistensi teknis secara jarak jauh, menegaskan bahwa fokus utama di lapangan saat ini harus tetap diposisikan sebagai operasi penyelamatan (rescue), bukan pemulihan atau pencarian jenazah semata. Berdasarkan rekaman visual saat banjir bandang menerjang pada 26 Agustus lalu, setidaknya ada sekitar 30 pekerja yang terekam bergerak menyelamatkan diri ke dalam lorong stasiun pembangkit listrik bawah tanah.
Dix menjelaskan bahwa konstruksi terowongan bawah tanah umumnya memiliki daya tahan benturan yang jauh lebih kokoh dibandingkan bangunan di atas permukaan tanah. Dalam situasi ekstrem seperti banjir bandang, lorong-lorong ini sangat mungkin mempertahankan kantong-kantong udara (air pockets) yang memungkinkan para pekerja untuk bernapas dan bertahan hidup selama berhari-hari.
"Keheningan bukanlah bukti kematian. Keheningan hanyalah ketiadaan sinyal komunikasi," ujar Arnold Dix optimis.
Ia juga mengingatkan dunia pada berbagai peristiwa keajaiban masa lalu. Kasus penyelamatan puluhan penambang yang terjebak di Chili, tim sepak bola remaja di gua Thailand, hingga insiden terowongan di India membuktikan bahwa manusia sanggup bertahan di kedalaman tanah dalam durasi panjang meski tanpa kontak komunikasi dengan dunia luar.
Kronologi Kejadian dan Operasi Penyelamatan
Bencana alam yang menghantam kawasan pegunungan Nepal ini bergerak sangat cepat dan melumpuhkan belasan situs hidroelektrik. Berikut adalah urutan kejadian serta langkah evakuasi yang tengah berjalan:
- 26 Agustus: Banjir bandang dahsyat menerjang koridor Bhote Koshi-Trishuli, merusak jaringan jalan dan memutus akses menuju fasilitas PLTA.
- Pekerja Berlindung ke Terowongan: Detik-detik banjir menunjukkan puluhan pekerja PLTA Trishuli-3A secara spontan berlari masuk ke terowongan utama untuk menghindari hempasan air dan material lumpur.
- Mobilisasi Tim SAR Gabungan: Sebanyak 93 anggota tim penyelamat dikerahkan ke area Trishuli-3A untuk membersihkan material sumbatan di pintu masuk terowongan.
- Dukungan Ahli Internasional: Spesialis penanganan terowongan dari Tiongkok terjun langsung di Trishuli-3A, sementara tim ahli asal India dan Korea Selatan disebar mendampingi evakuasi di proyek hidroelektrik terdampak lainnya.
Kolaborasi Internasional dan Tantangan Evakuasi
Proses evakuasi di koridor Bhote Koshi-Trishuli tidaklah mudah. Material sedimen, batu besar, dan lumpur tebal menutupi banyak lubang masuk terowongan. Penanganan ekstra hati-hati diperlukan agar penggalian yang dilakukan tidak memicu tanah longsor atau keruntuhan struktur yang dapat membahayakan korban di dalam.
Kehadiran 93 personel khusus yang dibantu oleh para ahli dari Tiongkok, India, dan Korea Selatan menjadi modal penting dalam mengkaji teknis penembusan lorong secara aman. Mereka fokus mendeteksi posisi underground powerhouse yang diyakini memiliki ruangan cukup luas serta pasokan udara yang cukup untuk memfasilitasi para pekerja.
Bagi publik dan keluarga yang terus berdoa, optimisme Arnold Dix memberi dorongan semangat yang luar biasa. Selama rongga udara di dalam terowongan belum terganggu sepenuhnya, peluang melihat para pekerja keluar dengan selamat masih sangat terbuka lebar.
Comments (0)