Aug 25, 2026
entertainment

Nasirun: Maestro yang Menolak Gawai dan Memilih Merdeka dalam Berkarya

Di sebuah ruangan kecil berukuran 3x4 meter di kawasan Bantul, Yogyakarta, tersimpan ribuan sketsa, kanvas, dan cat minyak yang baunya memenuhi setiap sudut. Di sanalah Nasirun, pelukis yang dikenal s...

Nasirun: Maestro yang Menolak Gawai dan Memilih Merdeka dalam Berkarya

Di sebuah ruangan kecil berukuran 3x4 meter di kawasan Bantul, Yogyakarta, tersimpan ribuan sketsa, kanvas, dan cat minyak yang baunya memenuhi setiap sudut. Di sanalah Nasirun, pelukis yang dikenal sebagai maestro seni rupa Indonesia, menghabiskan sebagian besar hidupnya. Tanpa ponsel pintar, tanpa media sosial, bahkan tanpa listrik yang memadai, ia tetap berkarya dengan cara yang sederhana namun penuh makna. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga meninggalkan warisan inspirasi yang tak ternilai.

Nasirun bukanlah sosok yang asing di dunia seni rupa Tanah Air. Karya-karyanya yang penuh warna dan sarat kritik sosial telah dipamerkan di berbagai belahan dunia. Namun, di balik ketenarannya, ia memilih hidup yang jauh dari gemerlap teknologi. Ia menolak gawai, menolak internet, dan bahkan menolak untuk terikat pada rutinitas modern yang menurutnya justru membelenggu kreativitas. Baginya, kebebasan berkarya adalah segalanya.

Perjalanan Hidup yang Sederhana

Lahir di Bantul pada tahun 1968, Nasirun tumbuh di lingkungan yang kental dengan tradisi dan kesenian. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan pensil dan kertas. Ia sering menggambar apa saja yang dilihatnya: sawah, burung, wayang, hingga tetangga yang sedang bekerja. Dari situlah bakatnya mulai terasah, meski tanpa bimbingan formal. Ia belajar dari kehidupan, dari alam, dan dari orang-orang di sekitarnya.

Perjalanan hidupnya tidak selalu mulus. Ia sempat bekerja sebagai buruh bangunan, penjual koran, dan bahkan pengamen untuk bertahan hidup. Namun, di tengah segala keterbatasan, ia tidak pernah berhenti menggambar. Setiap malam, di bawah lampu minyak, ia menorehkan garis-garis yang kelak menjadi ciri khasnya. "Saya tidak butuh banyak hal untuk berkarya. Cukup pensil dan kertas, saya sudah bahagia," ujarnya pernah mengenang.

"Saya tidak butuh banyak hal untuk berkarya. Cukup pensil dan kertas, saya sudah bahagia."

Menolak Gawai, Memilih Kebebasan

Di era ketika hampir semua orang tidak bisa lepas dari layar ponsel, Nasirun justru memilih jalan yang berbeda. Ia menolak memiliki gawai, bahkan menolak untuk belajar mengoperasikannya. Baginya, teknologi justru menjadi penghalang untuk melihat dunia secara langsung. Ia lebih percaya pada pengalaman indrawi: mencium bau tanah, mendengar suara burung, merasakan sentuhan angin. Semua itu adalah bahan baku karyanya.

Keputusan ini bukan tanpa konsekuensi. Banyak kolektor dan kurator yang kesulitan menghubunginya. Beberapa pameran harus ditunda karena ia tidak bisa dihubungi secara cepat. Namun, Nasirun tidak pernah menyesal. Ia justru merasa lebih merdeka. "Dengan gawai, orang jadi sibuk dengan dunia maya. Saya ingin sibuk dengan dunia nyata," katanya suatu kali. Sikapnya ini menginspirasi banyak seniman muda untuk merenungkan kembali hubungan mereka dengan teknologi.

Di Balik Layar: Proses Kreatif yang Menyentuh

Setiap karya Nasirun lahir dari proses yang panjang dan penuh perenungan. Ia sering duduk berjam-jam di tepi sawah, mengamati pergerakan petani, atau di pasar tradisional untuk menangkap ekspresi para pedagang. Dari sana, ia membawa pulang catatan-catatan kecil berisi sketsa kasar, yang kemudian ia olah di atas kanvas. Warna-warna cerah yang menjadi ciri khasnya seolah menggambarkan semangat yang tidak pernah padam.

Di balik layar, Nasirun adalah sosok yang sangat disiplin. Ia bangun sebelum subuh, berdoa, lalu langsung menuju ruang kerjanya. Ia melukis hingga siang, beristirahat sejenak, lalu melanjutkan lagi hingga malam. Meski hidupnya sederhana, ia selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu sesama seniman dan anak-anak kurang mampu di sekitarnya. "Berbagi itu bagian dari berkarya," ujarnya.

Inspirasi yang Tak Pernah Padam

Kepergian Nasirun pada tahun 2023 meninggalkan duka yang mendalam, tetapi juga meninggalkan pelajaran berharga. Ia membuktikan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kemewahan atau teknologi. Kebahagiaan bisa ditemukan dalam hal-hal sederhana: berkarya dengan tulus, berbagi dengan sesama, dan hidup selaras dengan alam.

Banyak seniman muda yang mengaku terinspirasi oleh kegigihan dan kesederhanaan Nasirun. Mereka mulai berani melepaskan diri dari ketergantungan pada gawai, setidaknya untuk sementara waktu, demi mencari inspirasi yang lebih autentik. "Nasirun mengajarkan kami bahwa seni lahir dari kejujuran, bukan dari filter atau aplikasi," kata seorang pelukis muda asal Yogyakarta.

Kini, di ruangan kecil itu, kanvas-kanvas Nasirun masih tergantung rapi. Beberapa di antaranya belum selesai, seolah meninggalkan pesan bahwa karya seni tidak pernah benar-benar selesai, sama seperti hidup yang terus berjalan. Namun, semangatnya akan terus hidup melalui setiap goresan, setiap warna, dan setiap kisah yang ia tinggalkan. Nasirun memang telah pergi, tetapi inspirasinya akan selalu menyala, menuntun banyak orang untuk berani bermimpi dan berkarya dengan cara mereka sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User