Sore itu, hujan baru saja reda di pinggiran Jakarta. Di kamar kos berukuran tiga kali empat meter, Ratri Wulandari duduk bersimpuh di lantai, menatap rice cooker tua berwarna putih kusam yang mulai mengepul. Aroma bawang, lengkuas, dan gula jawa perlahan merembes keluar, memenuhi setiap sudut ruangan sempit itu. Seketika, matanya berkaca-kaca. Bau itu, katanya, persis seperti dapur ibunya di Kalasan, Sleman, yang sudah dua tahun tidak ia pulangi.
Perempuan 26 tahun itu mengisahkan, perantauan mengajarinya banyak hal: berhemat, bertahan, dan yang paling berat — menahan rindu. Di tengah kesibukannya sebagai karyawan swasta, ada satu hal yang tak pernah tergantikan: masakan ibu. Terutama nasi ayam Kalasan, hidangan kampung halamannya yang legendaris. Ayam gurih-manis yang diungkep dengan air kelapa, disantap bersama nasi hangat, sambal, dan lalapan segar.
Perjalanan Rasa dari Dapur Ibu
Di kampungnya, ayam Kalasan bukan sekadar lauk. Ia adalah bagian dari ritual keluarga. Ratri masih ingat betul, ibunya selalu bangun sebelum subuh, menyalakan tungku kayu, lalu mengungkep ayam kampung dengan air kelapa muda hingga bumbunya meresap ke tulang. Asap tipis mengepul dari dapur, berbaur dengan suara ayam berkokok dan gemericik air di sumur belakang rumah.
Kisah masa kecil itu kini menjadi bekalnya bertahan di kota besar. Setiap kali lelah bekerja, ia memejamkan mata dan membayangkan dapur ibunya. Dari sanalah lahir keinginan sederhana namun menguatkan: menghadirkan kembali rasa rumah, meski hanya bermodal sebuah rice cooker tua.
"Dulu saya pikir masakan Ibu biasa saja. Setelah merantau, baru saya sadar, rasa itu tidak bisa dibeli di mana pun. Ada ketulusan di dalamnya," ujar Ratri dengan suara bergetar.
Berjuang Menghadirkan Rasa Rumah
Perjalanan Ratri tidak mulus. Percobaan pertama berakhir dengan nasi yang terlalu lembek dan ayam yang hambar. Percobaan kedua, bumbunya gosong karena ia lupa mengaduk. Malam itu, di balik layar kamar kosnya yang remang, ia menangis sambil menelepon ibunya. Momen mengharukan itu justru menjadi titik balik.
Sang ibu, Painem, dengan sabar membimbing dari seberang pulau melalui panggilan video. Ia menunjukkan takaran bumbu, cara mengungkep, hingga kapan harus memasukkan kaldu ke dalam beras. Pada percobaan ketiga, ketika tutup rice cooker dibuka dan aroma khas itu menyeruak, Ratri tak kuasa menahan air mata. Rasanya pulang.
"Anak saya menangis di telepon, katanya kangen masakan saya. Saya bilang, pelan-pelan saja, bumbunya dirasakan, apinya dijaga. Masakan itu seperti doa, tidak boleh buru-buru," tutur Painem, ibu Ratri, menyentuh hati.
Resep Sederhana di Balik Sepiring Kerinduan
Bahan yang dibutuhkan sesungguhnya sederhana dan mudah didapat: setengah ekor ayam, dua gelas beras, serta bumbu halus dari bawang merah, bawang putih, kemiri, dan ketumbar. Tambahkan daun salam, lengkuas, dan serai untuk aroma. Rahasia kelezatannya terletak pada air kelapa, gula jawa, dan kecap manis — tiga bahan yang menjadi jiwa masakan Kalasan.
Caranya pun bersahabat bagi siapa pun, bahkan anak kos. Tumis bumbu halus hingga harum, lalu ungkep ayam bersama air kelapa dan gula jawa hingga bumbu meresap. Masukkan beras ke dalam rice cooker, tuangi kaldu ungkepan secukupnya, lalu letakkan potongan ayam di atasnya. Tekan tombol cook, dan biarkan waktu bekerja. Saat tombol melompat ke warm, nasi ayam Kalasan siap disajikan. Ayamnya bisa digoreng sebentar agar lebih gurih, lalu ditata bersama sambal terasi dan lalapan.
Lebih dari Sekadar Nasi dan Ayam
Bagi Ratri, hidangan itu kini menjadi jembatan. Teman-teman sekantor dan penghuni kos lain kerap berkumpul di kamarnya, mencicipi masakan buatannya sambil bertukar kisah kampung halaman. Dari rice cooker tua itu, lahir kehangatan yang melampaui sekadar makanan. Ada inspirasi kecil yang menyebar: bahwa rindu bisa diolah menjadi sesuatu yang menguatkan.
Kini ia menyimpan satu mimpi sederhana. Saat mudik tiba, ia ingin memasakkan nasi ayam Kalasan untuk ibunya — membalas bertahun-tahun ketulusan yang pernah ia terima. "Saya ingin Ibu duduk manis, dan saya yang memasak untuknya," katanya tersenyum.
Di kamar kos yang sederhana itu, sebuah rice cooker tua membuktikan bahwa jarak bisa dipangkas oleh aroma masakan. Sepiring nasi ayam Kalasan bukan hanya mengisi perut, tetapi juga menghangatkan hati yang sedang dilanda rindu. Dan bagi setiap perantau, barangkali itulah arti pulang yang paling sederhana.
Comments (0)