Di panggung megah BAFTA 2026, di bawah deretan lampu yang berkilau seperti hamparan bintang, seorang penampil muda larut dalam alunan lagu “Golden”. Ribuan pasang mata tertuju padanya malam itu, tetapi hanya satu tatapan yang membuat detak jantungnya seketika berpacu—tatapan Leonardo DiCaprio yang duduk di barisan penonton.
Momen itu terjadi ketika EJAE, personel grup KPop Demon Hunters, tampil membawakan lagu “Golden” yang menjadi bagian dari karya grup tersebut pada 2025. Penampilannya di ajang penghargaan film bergengsi di Inggris itu menjadi salah satu titik paling berkesan dalam perjalanan kariernya, sekaligus momen yang tidak akan pernah ia lupakan.
Satu Detik yang Terasa Begitu Lama
EJAE mengisahkan bahwa ia tidak pernah membayangkan dirinya akan berdiri di atas panggung sebesar itu, apalagi bertatap mata langsung dengan aktor yang telah lama ia kagumi. “Aku hanya mencoba fokus pada penampilanku. Lalu, tanpa sengaja, mataku bertemu dengan matanya. Saat itu rasanya seluruh ruangan berhenti bergerak,” tuturnya mengenang momen yang baginya terasa seperti keajaiban.
Gugup, itulah kata yang paling jujur untuk menggambarkan perasaannya saat itu. Namun alih-alih larut dalam rasa cemas, EJAE memilih menjadikannya bahan bakar. Tatapan itu, katanya, justru memberinya dorongan untuk menyelesaikan penampilannya dengan sepenuh hati. Ia ingin membuktikan bahwa seorang anak muda dari dunia musik mampu tampil percaya diri di hadapan para legenda industri perfilman dunia.
Perjalanan Panjang di Balik Panggung
Momen gemilang di panggung BAFTA bukanlah kebetulan belaka. Di balik layar, EJAE menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk berlatih, mulai dari latihan vokal hingga menyempurnakan gerakan panggung. Ia mengisahkan bahwa latihan sering berlangsung hingga larut malam, dan tidak jarang diakhiri dengan tubuh yang lelah namun hati yang bangga.
“Aku bukan berasal dari latar belakang yang istimewa. Aku hanya anak biasa dengan mimpi yang besar,” katanya. Perjalanannya menjadi pengingat bahwa setiap penampilan gemilang selalu lahir dari proses panjang yang dipenuhi keringat dan air mata, jauh sebelum lampu panggung akhirnya menyala.
“Golden”, Lagu yang Membawa Cahaya
Bagi EJAE, “Golden” bukan sekadar nomor penampilan di atas panggung. Lagu itu adalah pengingat bahwa setiap orang menyimpan cahaya di dalam dirinya masing-masing. Ia ingin penonton merasakan bahwa menjadi “emas” tidak berarti sempurna, melainkan berani menunjukkan versi terbaik dari diri sendiri.
Di panggung itu, EJAE membuktikan bahwa ia bukan hanya seorang penyanyi, melainkan juga pendongeng yang menyampaikan perasaan lewat suara dan gerak. Penampilannya mendapat sambutan hangat, dan kabar tentang momen tatap mata dengan Leonardo DiCaprio pun menjadi bahan perbincangan hangat di media sosial.
Mimpi yang Terus Menyala
Bagi EJAE, pengalaman ini bukanlah garis akhir. Ia justru menjadikannya batu loncatan untuk terus berjuang. “Aku ingin terus berkarya dan suatu hari bisa membanggakan orang-orang yang selalu mendukungku. Mungkin kelak aku akan menceritakan momen ini kepada anak cucuku,” ujarnya sambil tersenyum.
Di rumahnya, keluarga dan rekan-rekannya menyaksikan penampilan itu dengan mata berkaca-kaca. Bagi mereka, EJAE tetaplah anak muda yang sama: sederhana, pekerja keras, dan tidak pernah melupakan orang-orang di sekitarnya. Momen di panggung BAFTA hanyalah cermin dari perjuangan yang selama ini mereka saksikan dari dekat.
Kisah EJAE adalah pengingat sederhana bahwa mimpi, sekecil apa pun, layak diperjuangkan. Dari ruang latihan yang sempit hingga panggung internasional yang megah, ia membuktikan bahwa kerja keras dan keberanian untuk bermimpi selalu menemukan jalannya sendiri.
Malam itu, di tengah gemerlap BAFTA, seorang anak muda dari dunia musik berhasil mencuri perhatian bukan hanya lewat suaranya, melainkan juga lewat ketulusan dan kerja kerasnya. Siapa tahu, tatapan mata singkat itu hanyalah awal dari perjalanan panjang yang jauh lebih indah.
Comments (0)