Aug 25, 2026
entertainment

Momen Mengharukan di Balik Donasi Jannabi untuk Korban Gempa NTT

Pagi itu kabut tipis masih menggantung di atas bukit-bukit Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Di satu sudut tenda pengungsian berdinding terpal, seorang ibu duduk memeluk anaknya yang tertidur pulas, tan...

Momen Mengharukan di Balik Donasi Jannabi untuk Korban Gempa NTT

Pagi itu kabut tipis masih menggantung di atas bukit-bukit Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Di satu sudut tenda pengungsian berdinding terpal, seorang ibu duduk memeluk anaknya yang tertidur pulas, tangannya mengusap punggung kecil itu perlahan. Gempa yang mengguncang tanah kelahirannya telah merenggut banyak hal—rumah, kenangan, rasa aman. Namun pada hari itu, sebuah kabar datang dari tempat yang jauh melampaui bayangan mereka: dari Seoul, Korea Selatan.

Dari layar ponsel seorang relawan, kabar itu menyebar cepat di antara para pengungsi. Jannabi, grup musik asal Korea yang namanya kerap terdengar dari bibir anak-anak muda penggemar musik Korea, dikabarkan mengirimkan donasi untuk korban gempa di NTT. Di tengah kerasnya hidup di pengungsian, momen itu terasa begitu menyentuh—seperti tangan yang menjulur dari ribuan kilometer jauhnya, menepuk pelan bahu mereka yang lelah.

Kabar yang Menyebar Lebih Cepat dari Angin

Berita tentang kebaikan itu awalnya beredar dari unggahan akun Flabbergast Productions di Instagram. Tak lama kemudian, para penggemar Jannabi di Indonesia ikut memperbesar suaranya. Mereka membagikan ulang, menerjemahkan, hingga menuliskan ucapan terima kasih dalam dua bahasa yang berdampingan—Korea dan Indonesia.

'Aku menangis membacanya,' ujar seorang penggemar band tersebut yang kini ikut menjadi relawan di titik pengungsian. 'Bukan karena nominalnya, tapi karena mereka peduli pada tempat yang bahkan mungkin tak pernah mereka kunjungi.'

Bagi warga yang sedang berjuang bangkit dari puing, kehadiran donasi dari grup musik internasional bukan sekadar bantuan materi. Ia adalah pengingat bahwa mereka tidak sendirian. Bahwa duka mereka didengar, bahkan oleh mereka yang berbicara dalam bahasa yang berbeda.

Di Balik Layar: Keputusan Sederhana yang Berarti Besar

Tak banyak yang diketahui tentang proses di balik layar pengiriman donasi tersebut. Namun kisah semacam ini biasanya lahir dari hal-hal sederhana: seorang staf yang membaca kabar duka, anggota band yang bertanya, 'Bisakah kita melakukan sesuatu?', lalu koordinasi dengan pihak-pihak yang bekerja langsung di lapangan.

Jannabi sendiri dikenal dekat dengan penggemar Indonesia. Band yang digawangi Choi Jung-hoon itu beberapa kali menyampaikan salam hangat kepada penggemar Tanah Air, dan kini ikatan itu terbukti tidak berhenti di panggung—ia menjalar hingga ke ranah kemanusiaan.

'Musik memang punya cara sendiri untuk menyatukan orang,' tutur seorang pengamat musik yang lama mengikuti perjalanan karier Jannabi. 'Dan ketika musisi menggunakan pengaruhnya untuk kebaikan, inspirasi itu menular kepada para penggemarnya.'

Mimpi yang Bangkit dari Puing-Puing

Di lapangan, donasi yang masuk—baik dari Jannabi maupun berbagai pihak lain—dialirkan untuk kebutuhan mendesak: makanan, selimut, obat-obatan, hingga tenda tambahan. Malam-malam di pengungsian tetap dingin, tetapi ada sesuatu yang berubah: semangat untuk bangkit.

Ibu-ibu mulai kembali bercanda di dapur umum. Anak-anak berlarian di antara tenda, membawa mimpi-mimpi kecil mereka yang tak padam oleh gempa. Para relawan bekerja siang dan malam, berjuang memastikan setiap bantuan sampai ke tangan yang tepat.

'Setiap kali ada bantuan masuk, kami seperti diberi tenaga baru,' kata seorang relawan yang sudah berhari-hari tinggal di lokasi. 'Ini bukan hanya soal barang. Ini soal rasa bahwa dunia masih peduli pada kami.'

Gempa NTT meninggalkan luka yang tak akan hilang dalam semalam. Rumah-rumah harus dibangun ulang, kehidupan harus dirakit kembali dari nol. Namun kisah kecil tentang sebuah band dari Seoul yang mengirimkan donasinya akan tetap diingat—sebagai bukti bahwa kebaikan tidak mengenal batas negara, dan bahwa di saat-saat tersulit sekalipun, manusia mampu saling menguatkan.

Suatu hari nanti, ketika kampung-kampung di NTT telah berdiri tegak kembali, warganya akan mengisahkan momen ini kepada anak-cucu mereka: tentang bagaimana sebuah perhatian dari negeri jauh ternyata membawa harapan yang begitu nyata, dan bagaimana air mata duka perlahan berganti menjadi air mata haru karena dunia tak pernah benar-benar melupakan mereka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User