Di sebuah dapur kecil bersuhu hangat di kawasan Jakarta Selatan, aroma santan yang baru diperas bercampur dengan wangi roti tawar panggang menguar lembut. Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, seorang perempuan paruh baya bernama Sari (52) tengah menata potongan roti tawar ke dalam loyang kaca. Tangannya yang cekatan menyusun roti berlapis, menyelipkan kismis di antara celah-celahnya, lalu menuangkan adonan santan kuning yang menggoda. Bagi Sari, ini bukan sekadar membuat puding. Ini adalah perjalanan mengenang ibunya yang telah tiada, yang dulu selalu menyajikan hidangan sederhana ini setiap Minggu pagi.
"Setiap kali saya menuang santan ke atas roti, saya seperti mendengar suara Ibu berkata, 'Santannya harus pas, jangan terlalu encer, biar pudingnya lembut,'" ujar Sari sambil tersenyum, matanya berkaca-kaca. Resep puding santan roti tawar kukus dengan kismis ini adalah warisan turun-temurun yang ia simpan rapi di buku tulis usang. Dulu, ibunya membuat puding ini sebagai camilan untuk keluarga besar. Kini, Sari meneruskan tradisi itu untuk anak-anaknya yang tinggal di perantauan.
Di Balik Layar: Proses yang Menyentuh Hati
Membuat puding santan roti tawar kukus bukanlah pekerjaan yang rumit, namun di balik kesederhanaannya tersimpan makna yang dalam. Sari bercerita, ibunya selalu memilih roti tawar yang sedikit keras karena menurutnya, roti yang agak kering akan menyerap santan lebih sempurna. "Ibu bilang, roti yang keras itu seperti manusia, makin banyak ujian, makin mudah menyerap pelajaran," kenangnya sambil tertawa kecil. Proses mengukus pun dilakukan dengan api kecil, agar santan tidak pecah dan tekstur puding menjadi lembut serta kenyal.
Kismis, yang sering dianggap sebagai pelengkap, memiliki peran khusus dalam keluarga Sari. "Kismis itu simbol kebahagiaan. Saat kita menemukan kismis di dalam puding, itu seperti menemukan momen manis di tengah hari yang berat," jelasnya. Ia selalu memastikan kismis direndam air hangat selama beberapa menit sebelum dicampurkan, agar tidak kering saat dikukus. Perhatian pada detail ini adalah bentuk cinta yang ia warisi dari ibunya, yang selalu mengajarkan bahwa memasak adalah cara merawat orang-orang yang kita sayangi.
"Setiap kali saya menuang santan ke atas roti, saya seperti mendengar suara Ibu berkata, 'Santannya harus pas, jangan terlalu encer, biar pudingnya lembut.'"
Bangkit dari Duka Lewat Sebuah Resep
Perjalanan Sari dengan resep ini tidak selalu mulus. Setelah ibunya wafat tiga tahun lalu, ia sempat kehilangan semangat untuk memasak. Setiap kali melihat loyang puding, ia teringat pada sosok ibunya yang selalu tersenyum di dapur. Namun, suatu hari, anak bungsunya merengek minta puding roti tawar buatan nenek. Sari pun memberanikan diri untuk mencoba membuatnya sendiri. "Awalnya gagal, santannya pecah, rotinya hancur. Saya menangis di dapur, merasa tidak akan pernah bisa meniru masakan Ibu," tuturnya.
Namun, dari kegagalan itu, Sari justru bangkit. Ia mencoba lagi, mengingat setiap langkah yang pernah ia lihat dari ibunya. Perlahan, puding itu mulai terbentuk. "Saat saya membuka kukusan dan melihat puding yang mulus, saya menangis bahagia. Rasanya seperti Ibu ada di samping saya, membimbing tangan saya," katanya. Sejak saat itu, Sari tidak pernah berhenti membuat puding ini. Ia bahkan membagikannya kepada tetangga dan teman-teman yang sedang berduka, sebagai cara untuk menghibur mereka.
Inspirasi yang Sederhana dan Mengharukan
Resep puding santan roti tawar kukus kismis ini memang sederhana, tetapi bagi Sari, ia adalah simbol ketahanan dan cinta. "Banyak orang berpikir untuk membuat hidangan istimewa harus yang mahal dan rumit. Padahal, dari roti tawar yang sudah hampir basi dan santan sisa, kita bisa membuat sesuatu yang menyentuh hati," ujarnya. Ia pun berbagi resepnya kepada siapa pun yang ingin mencoba, dengan harapan orang lain juga bisa merasakan kehangatan yang ia rasakan.
Bagi Sari, momen paling mengharukan adalah ketika anak-anaknya pulang ke rumah dan menyantap puding buatannya. "Mereka akan diam sebentar, lalu berkata, 'Ini persis seperti buatan Nenek.' Saat itu, saya merasa semua perjuangan saya di dapur terbayar lunas," katanya sambil menyeka air mata. Di balik setiap sendokan puding yang lembut, ada kisah tentang seorang anak yang berusaha menjaga kenangan ibunya tetap hidup. Dan di setiap gigitan kismis yang manis, ada pesan bahwa kebahagiaan selalu bisa ditemukan, bahkan dari hal-hal yang paling sederhana.
Comments (0)