Aug 25, 2026
entertainment

Momen Hangat Rossa Menggendong Raina di Panti Asuhan

Di sudut ruangan bercat putih yang mulai mengelupas, seorang perempuan berambut pendek itu berlutut. Jemarinya yang biasa menggenggam mikrofon kini dengan lembut menyeka air mata seorang bocah. Namany...

Momen Hangat Rossa Menggendong Raina di Panti Asuhan

Di sudut ruangan bercat putih yang mulai mengelupas, seorang perempuan berambut pendek itu berlutut. Jemarinya yang biasa menggenggam mikrofon kini dengan lembut menyeka air mata seorang bocah. Namanya Raina. Usianya baru tiga tahun, tetapi matanya menyimpan cerita yang terlalu berat untuk dipahami anak seusianya. Hari itu, untuk pertama kalinya dalam minggu-minggu penuh sunyi, Raina tertawa. Ia berada dalam dekapan hangat seseorang yang selama ini hanya ia lihat di layar televisi: Rossa.

Awal Mula Sebuah Pertemuan

Semua bermula dari niat sederhana. Di tengah jadwal promo album terbarunya yang padat, Rossa menyempatkan diri mengunjungi sebuah panti asuhan di pinggiran Jakarta. Bukan untuk sesi foto atau konferensi pers, melainkan sebuah kunjungan personal yang ingin ia lakukan tanpa sorotan kamera berlebih. "Kadang, di tengah hingar-bingar dunia hiburan, kita butuh jeda untuk menyentuh realitas yang sesungguhnya," ungkapnya lirih saat ditanya tentang alasannya memilih panti tersebut.

Panti itu menampung 40 anak dengan berbagai cerita. Ada yang yatim piatu, ada yang ditelantarkan, ada pula yang sekadar dititipkan oleh orang tua yang tak sanggup memberi makan. Di antara puluhan pasang mata polos yang menyambutnya, ada satu yang tampak berbeda. Raina. Gadis kecil itu berdiri paling pojok, memeluk boneka lusuh yang kainnya sudah menipis. Bibirnya terkunci rapat. Tak ada senyum.

Manajer panti, Ibu Sari, berbisik kepada Rossa bahwa Raina baru tiga bulan tinggal di sana. Ia ditemukan di sebuah teras masjid, tanpa identitas, tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya. "Dia belum pernah tertawa sejak datang," ujar Ibu Sari.

Momen yang Mengubah Suasana

Rossa menghampiri Raina perlahan. Bukan dengan langkah tergesa atau senyum dibuat-buat, melainkan dengan kehati-hatian seorang ibu yang memahami trauma. Ia duduk bersila di lantai dingin, menyamakan tinggi pandangannya dengan Raina. Tidak ada kata-kata besar. Hanya sebuah tanya lembut, "Boleh, ya, aku gendong sebentar?"

Lalu terjadilah momen yang membuat seluruh ruangan menahan napas. Raina, yang biasanya membeku saat disentuh, justru mengulurkan tangan mungilnya. Rossa pun menggendongnya—sebuah gestur sederhana yang berubah menjadi adegan penuh haru. Raina memeluk leher Rossa erat, seperti menemukan sesuatu yang telah lama hilang. Air mata Rossa mengalir tanpa bisa dicegah.

"Rasanya seperti ditampar oleh kebenaran," ujar Rossa kemudian dengan suara bergetar. "Saya menyanyi tentang cinta setiap hari, tetapi pelukan ini mengajarkan saya bahwa cinta yang paling murni justru tidak memerlukan lirik."

Bahkan Ibu Sari yang sudah belasan tahun mengurus panti tak kuasa menyembunyikan kekagumannya. "Saya kira hanya akan ada foto-foto biasa. Tapi ini... ini keajaiban kecil. Kami belum pernah melihat Raina sehangat ini," katanya sambil mengusap sudut matanya.

Jejak Empati di Tengah Kehidupan Gemerlap

Kunjungan ini bukanlah yang pertama kali bagi Rossa. Jauh dari sorotan panggung, penyanyi bernama lengkap Rossa Roslaina Handiyani ini memiliki rekam jejak kegiatan sosial yang panjang. Namun, ia selalu memilih untuk tidak mempublikasikannya secara besar-besaran. "Berbagi itu bukan untuk dipamerkan. Kalau ada yang tahu, itu bonus, tapi jangan sampai niat baik ternodai oleh keinginan untuk terlihat baik," ucapnya tegas.

Hari itu, setelah menggendong Raina, Rossa menghabiskan waktu berjam-jam di panti. Ia membacakan dongeng untuk anak-anak, ikut makan siang dengan menu sederhana tempe goreng dan sayur sup, bahkan membantu menyuapi beberapa balita. Tak ada pembatas antara artis papan atas dan anak-anak yang sehari-hari berjuang melawan kesepian.

Salah seorang relawan panti, Doni, bercerita bahwa momen paling mengharukan justru terjadi saat Rossa hendak pulang. "Raina tidak mau dilepaskan. Dia menggenggam baju Ibu Rossa begitu kuat. Akhirnya Ibu Rossa berjanji akan datang lagi minggu depan sambil menunjukkan kelingking untuk sumpah kelingking. Dan percaya atau tidak, Raina membalasnya sambil tersenyum. Itu senyum pertamanya," kenangnya.

Harapan di Balik Dekapan

Setelah kunjungan itu, pengurus panti melaporkan perubahan signifikan pada diri Raina. Ia mulai mau bermain dengan teman-temannya, sesekali mengeluarkan potongan kata, dan yang paling menakjubkan adalah ia tidak lagi menangis histeris setiap kali mendengar suara kendaraan di malam hari—sebuah trauma yang diduga berasal dari masa lalunya yang kelam.

Psikolog anak yang mendampingi panti, dr. Anisa, menjelaskan bahwa kontak fisik yang penuh afeksi seperti yang diberikan Rossa bisa menjadi pintu awal pemulihan bagi anak-anak dengan trauma keterikatan. "Yang dilakukan Ibu Rossa mungkin terlihat sederhana, tetapi secara neurologis itu sangat signifikan. Pelukan merangsang produksi oksitosin, hormon yang menciptakan rasa aman. Bagi anak seperti Raina, itu bisa menjadi fondasi untuk membangun kepercayaan kembali terhadap dunia," jelasnya.

Rossa sendiri mengaku bahwa pertemuannya dengan Raina justru memberinya pelajaran hidup yang tak ternilai. "Banyak yang mengira saya datang untuk memberi. Saya justru pulang membawa hadiah terbesar: pelajaran tentang ketabahan dari seorang anak tiga tahun yang telah melalui lebih banyak kesulitan daripada yang bisa saya bayangkan," pungkasnya.

Hari itu, di balik satu dekapan sederhana, dua jiwa saling menyembuhkan. Raina menemukan kembali cahaya di matanya, sementara Rossa diingatkan bahwa musiknya yang paling indah bukanlah yang terjual jutaan kopi, melainkan tawa seorang anak yang akhirnya berani terdengar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User