Aug 25, 2026
entertainment

Mimpi Baru di Layar Lebar: Fauzan Zidni Pimpin BPI

Di sebuah ruangan sederhana di kawasan Jakarta Selatan, pada sebuah sore yang gerimis, Fauzan Zidni duduk dengan tatapan penuh harap. Di tangannya, setumpuk dokumen berisi rencana besar untuk perfilma...

Mimpi Baru di Layar Lebar: Fauzan Zidni Pimpin BPI

Di sebuah ruangan sederhana di kawasan Jakarta Selatan, pada sebuah sore yang gerimis, Fauzan Zidni duduk dengan tatapan penuh harap. Di tangannya, setumpuk dokumen berisi rencana besar untuk perfilman Indonesia. Bagi pria yang baru saja dipercaya memimpin Badan Perfilman Indonesia (BPI) periode 2026-2029, momen ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah titik awal dari sebuah perjalanan panjang yang ia yakini akan mengubah wajah industri film di negeri ini.

Pemilihan yang berlangsung pada April 2026 itu menjadi saksi bisu atas kepercayaan yang diberikan para pemangku kepentingan film kepada Fauzan. Namun, di balik tepuk tangan dan ucapan selamat, ada beban yang ia rasakan. "Saya tidak ingin jabatan ini hanya menjadi pajangan. Saya ingin setiap keputusan yang kami ambil benar-benar menyentuh para sineas di lapangan," ujarnya pelan, dengan suara yang sedikit bergetar.

Menjembatani Mimpi Para Sineas

Perjalanan Fauzan menuju kursi ketua BPI tidaklah mudah. Ia menghabiskan bertahun-tahun bergulat dengan realita industri film Indonesia—mulai dari kesulitan pendanaan, distribusi yang timpang, hingga kurangnya apresiasi terhadap karya-karya independen. Dari pengalaman itulah, ia memahami bahwa perubahan tidak bisa datang dari atas saja. "Kami ingin BPI menjadi rumah bersama, bukan menara gading. Setiap suara, sekecil apa pun, harus didengar," tegasnya.

Rencana pertamanya adalah mendengarkan. Sejak resmi menjabat, Fauzan dan timnya berkeliling ke berbagai kota, dari Aceh hingga Papua, untuk bertemu dengan komunitas film lokal. Mereka duduk di kafe-kafe kecil, di sanggar-sanggar sederhana, dan mendengar kisah para pembuat film yang berjuang dengan segala keterbatasan. "Ada seorang sutradara muda di Makassar yang bercerita tentang mimpinya membuat film tentang budayanya, tapi ia tidak punya kamera. Momen itu menyentuh saya. Kami tidak boleh membiarkan mimpi seperti itu mati," kenang Fauzan dengan mata berkaca-kaca.

Menghidupkan Ekosistem yang Adil

Salah satu program unggulan yang diusung BPI di bawah kepemimpinan Fauzan adalah pendirian pusat inkubasi film di daerah-daerah. Program ini dirancang untuk memberikan pelatihan, akses peralatan, dan pendampingan bagi sineas lokal. "Kami tidak ingin cerita-cerita dari daerah hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Kami ingin mereka tampil di layar lebar dengan bangga," jelasnya.

Selain itu, BPI juga berencana mendorong kebijakan yang lebih ramah bagi film independen. Fauzan mengakui bahwa selama ini banyak karya berkualitas yang tenggelam karena tidak memiliki akses ke bioskop. "Kami sedang merancang kerja sama dengan jaringan bioskop untuk memberikan slot khusus bagi film-film independen. Ini bukan tentang amal, tapi tentang keberagaman cerita," tambahnya.

"Setiap film adalah doa yang diwujudkan dalam gambar. Tugas kami adalah memastikan doa itu sampai ke penonton." — Fauzan Zidni

Di balik semua rencana besar itu, Fauzan tidak menutup mata pada tantangan yang ada. Ia sadar bahwa birokrasi dan politik industri bisa menjadi tembok yang tebal. Namun, ia memilih untuk percaya pada kekuatan kolaborasi. "Kami tidak bisa bekerja sendiri. Pemerintah, swasta, komunitas, dan penonton harus bergandengan tangan. Hanya dengan begitu ekosistem film Indonesia bisa sehat," tuturnya.

Harapan yang Menyala di Ujung Lorong

Fauzan mengakhiri perbincangan dengan sebuah cerita. Ia bercerita tentang seorang anak di desa terpencil yang menonton film Indonesia untuk pertama kalinya. "Anak itu mungkin tidak tahu siapa sutradaranya, tapi ia tersenyum dan menangis mengikuti alur cerita. Itulah keajaiban film. Ia bisa menyentuh siapa saja tanpa memandang latar belakang," katanya.

Dengan semangat itu, ia berjanji untuk bekerja tanpa lelah. "Kami tidak menjanjikan hasil instan. Tapi kami berjanji untuk terus berjuang, untuk terus mendengar, dan untuk terus bermimpi bersama. Karena di balik setiap film, ada manusia yang ingin berbagi kisah. Dan di balik setiap kisah, ada harapan yang layak diperjuangkan," pungkasnya.

Di luar jendela, hujan mulai reda. Fauzan tersenyum, seolah menyambut pelangi yang akan datang. Perjalanan masih panjang, tetapi langkah pertama telah diambil. Dan untuk perfilman Indonesia, ini adalah babak baru yang penuh dengan kemungkinan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User