Aug 25, 2026
entertainment

Miho Wada Hadirkan Bar Indices di SEIKO Power Design Project 2026

Suara langkah kaki di atas marmer Plaza Senayan pagi itu seolah menjadi irama pembuka bagi pameran yang tak hanya memamerkan kemilau logam, melainkan juga pergulatan batin para penciptanya. Di balik d...

Miho Wada Hadirkan Bar Indices di SEIKO Power Design Project 2026

Suara langkah kaki di atas marmer Plaza Senayan pagi itu seolah menjadi irama pembuka bagi pameran yang tak hanya memamerkan kemilau logam, melainkan juga pergulatan batin para penciptanya. Di balik dinding kaca yang memantulkan siluet para pengunjung, Bar Indices—sebuah jam tangan dari rumah desain Credor—tergantung sepi namun memikat. Karya Design Director Credor Team, Miho Wada, ini menjadi salah satu pusat gravitasi dalam perhelatan SEIKO Power Design Project 2026 yang digelar sepanjang 20 Juli hingga 1 Agustus 2026 di Jakarta. Pameran ini lebih dari sekadar etalase produk; ia adalah sebuah konklaf bagi mereka yang memandang waktu sebagai kanvas untuk melukiskan jiwa.

Perjalanan Mencari Diam dalam Bising

Miho Wada bukan pendatang baru. Sebagai pemimpin desain di Credor, ia telah melahirkan beberapa seri arloji yang dipuja karena perpaduan estetika Jepang dan kehalusan manual. Namun, perjalanan menuju Bar Indices dimulai dari titik yang rendah hati. "Saya ingat duduk di studio, menatap puluhan dial kosong, dan merasa tak ada satu pun yang cukup jujur," kenang Wada. "Lalu saya berpikir, bagaimana jika kita tidak menambahkan apapun, melainkan justru mengurangi, tetapi dengan cara yang belum pernah dilakukan?" Dari situasi penuh tanya itulah, konsep indeks yang menonjol sebagai bar panjang—seperti palang cahaya yang memecah sunyi—mulai mengambil bentuk. Wada menghabiskan bulan-bulan awal hanya untuk mengobservasi bagaimana bayangan berperilaku di atas permukaan putih, mencatat waktu-waktu ketika sebuah garis lurus terlihat paling puitis.

Ketika Bayangan Menjadi Tokoh Utama

Begitu masuk ke ruang pamer, mata pengunjung langsung terpaku pada dial Bar Indices yang putih bersih, dihuni oleh empat indeks utama berbentuk balok tipis memanjang. Tidak ada angka, tidak ada keramaian. Justru pada ketiadaan itulah drama bermula. Di bawah sorot lampu, setiap indeks melemparkan bayangan gelap yang panjangnya berubah-ubah sesuai sudut datangnya cahaya. "Saya ingin menciptakan ilusi bahwa waktu tidak hanya bergerak melalui jarum, tetapi juga melalui bayangan indeksnya," tutur Wada. "Sejak matahari terbit hingga terbenam, wajah jam ini seakan bernapas. Di pagi hari, bayangannya runcing; di siang hari ia nyaris hilang, seperti momen yang terlewat begitu saja." Pendekatan ini menjadikan Bar Indices bukan sebagai alat ukur waktu yang kaku, melainkan sebuah pertunjukan miniatur tentang transisi—dari terang ke gelap, dari ada ke tiada.

Suara-Suara yang Terkesima

Reza Andika, seorang kolektor jam asal Bandung yang sengaja terbang ke Jakarta untuk menyaksikan pameran, mengaku bahwa dirinya hampir melewatkan Bar Indices karena tampilannya yang begitu sederhana. "Saya awalnya malah tertarik ke model chronograph yang ramai," katanya sambil tersenyum. "Tapi ketika saya benar-benar berhenti di depan etalase Wada, saya merasa seperti sedang membaca puisi tiga dimensi. Jam ini tidak berteriak, tapi dampaknya meninggalkan jejak yang dalam." Demikian pula dengan pengamat gaya hidup Dina Paramitha yang menyebut Bar Indices sebagai "sebuah meditasi yang bisa dikenakan di pergelangan tangan." Baginya, jam tersebut menepis obsesi masyarakat akan kerumitan mekanis dan mengembalikan esensi waktu sebagai pengalaman personal yang reflektif.

Pertarungan di Bengkel: Ketika Tipis Berarti Tangguh

Kesederhanaan visual seperti itu tentu datang dengan kerumitan teknis yang tak kasat mata. Wada mengisahkan bagaimana ia harus bolak-balik ke bengkel Credor untuk meyakinkan para insinyur agar indeks dibuat setipis mungkin—hampir menyamai ketebalan selembar kartu nama—namun tetap sanggup menahan goncangan sehari-hari. "Satu prototipe pertama patah bahkan sebelum terpasang sempurna. Saya hampir menyerah," aku Wada, mengingat momen menegangkan itu. "Tapi seorang teknisi senior berkata kepada saya, 'Jika tidak ada yang berani, maka kita tidak akan pernah tahu batas sesungguhnya.'" Kalimat itu memantik kembali semangatnya. Tim kemudian meracik paduan logam ringan dengan campuran titanium yang dibentuk secara manual oleh pengrajin tangan selama tiga hari hanya untuk satu indeks. Hasil akhirnya adalah batang-batang mungil yang terlihat nyaris mustahil: ringan, ramping, tetapi tidak mudah lekang. Sebuah perwujudan dari pepatah Jepang kuno yang sering dikutip Wada: "yang paling lembut bisa menjadi yang paling kuat."

Jam Tangan dan Jeda untuk Berpikir

Pameran SEIKO Power Design Project 2026 yang berlangsung di Plaza Senayan ini bukan sekadar ajang komersial. Ia adalah undangan untuk berhenti sejenak—dari deras notifikasi gawai, dari kejaran jadwal—dan merenungkan kembali bagaimana kita memaknai waktu. "Seorang pengunjung bertanya apakah jam ini akan membantunya menjadi lebih bijak terhadap waktu. Saya tidak bisa menjamin," ujar Wada sembari tersenyum tipis. "Tetapi jika Anda melangkah keluar dari sini sambil berpikir tentang bagaimana Anda menghabiskan sisa hari Anda, maka Bar Indices sudah berhasil menjadi lebih dari sekadar aksesori." Di tengah pameran yang menampilkan beragam prototipe futuristik, justru keheningan minimalis dari Miho Wada-lah yang mampu menyentuh titik paling manusiawi dari seluruh spektrum horologi: hubungan pribadi antara manusia dan waktu yang terus berlalu, tanpa perlu dirayakan secara gemuruh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User