Aug 25, 2026
entertainment

Miho Wada dan Bar Indices: Cerita Sebatang Bar di Pergelangan

Di sudut Plaza Senayan yang remang, ketika lampu-lampu sorot menyapa jam-jam tangan yang terpajang, ada satu arloji yang tak hanya menunjukkan waktu, tetapi juga menyimpan aroma kenangan. Di hadapanny...

Miho Wada dan Bar Indices: Cerita Sebatang Bar di Pergelangan

Di sudut Plaza Senayan yang remang, ketika lampu-lampu sorot menyapa jam-jam tangan yang terpajang, ada satu arloji yang tak hanya menunjukkan waktu, tetapi juga menyimpan aroma kenangan. Di hadapannya, para pengunjung berhenti lebih lama. Mata mereka tak lepas dari sebaris indeks pada cakram yang seolah mengajak bicara, seakan-akan waktu sedang menyajikan sebuah cerita. Itulah Bar Indices, karya Miho Wada, sang Direktur Desain Tim Credor, yang menjadi bintang di pameran SEIKO Power Design Project 2026.

Perempuan di Balik Simfoni Waktu

Miho Wada bukan sembarang desainer. Telah belasan tahun ia menyelami filosofi Credor—merek jam tangan mewah Seiko yang lahir dari ketelitian dan estetika Jepang. Namun, ketika ia berdiri di depan karyanya sore itu, yang terpancar bukanlah kebanggaan teknisi, melainkan kerendahan hati seorang perajin cerita. “Saya hanya ingin menangkap satu momen, seperti menikmati segelas koktail setelah hari yang panjang,” katanya lirih, saat sejumlah pengunjung bertanya tentang gagasan di balik desainnya. Momen itu, bagi Miho, ada di sebuah bar kecil di kawasan Ginza yang sering ia kunjungi selepas bekerja.

Di bar itulah ia menemukan kedamaian: kayu gelap yang memantulkan cahaya temaram, es batu yang beradu dengan gelas kristal, dan deretan botol yang berjejer rapi. “Ada ritme yang begitu halus di sana. Saya ingin menerjemahkan ritme itu ke dalam jarum jam,” ujarnya. Hasilnya adalah Bar Indices, di mana setiap penanda jam kehilangan kaku geometrisnya dan berubah menjadi goresan lembut, bagai bayangan lilin di atas meja bar.

Goresan Rasa di Atas Pelat Jam

Jika diamati lebih dekat, Bar Indices memang bukan jam tangan yang ingin memamerkan kecanggihan teknis semata. Pelat jamnya berwarna kelabu tua, menyerupai meja bar yang telah dimakan usia, sementara indeks-indeksnya berpendar dengan emas yang hangat—bukan keemasan mencolok, melainkan kilau kuningan yang mengingatkan pada pegangan pintu kedai lawas. Jarum-jamnya ramping dan berputar pelan, seakan enggan mengganggu suasana hening yang dibangun desain ini.

“Saya ingin pemakainya merasakan bahwa di setiap detik, ada jeda yang bisa dinikmati,” jelas Miwo Wada, sembari menyentuh kaca pelindung arloji itu. “Ini bukan soal berapa cepat Anda harus menyelesaikan sesuatu. Ini tentang momen ketika Anda memutuskan untuk duduk, memesan minuman, dan merenung.” Tak heran, para pengunjung pameran yang singgah di depan etalasenya kerap terpaku. Seorang pria paruh baya mengaku teringat pada masa mudanya di sebuah bar jazz di Jakarta, sementara seorang wanita muda membayangkan malam-malam di kota asing yang belum pernah ia datangi.

SEIKO Power Design Project: Panggung Cerita Para Desainer

Pameran yang berlangsung pada 20 Juli hingga 1 Agustus 2026 di Plaza Senayan ini memang bukan sekadar etalase produk. Ia adalah panggung bagi para desainer Seiko untuk bercerita, bukan menjual. Selain Bar Indices, ada sejumlah karya lain yang tak kalah puitis, tetapi keheningan yang dihadirkan Miho Wada nyaris tak memiliki tandingan. Setiap orang yang lewat seolah diajak untuk memperlambat langkah, menahan napas, dan mendengarkan bisikan waktu.

“Ini adalah tanggung jawab kami sebagai desainer,” kata Miho Wada di sela obrolan. “Kami tidak hanya menciptakan sebuah benda, tetapi menitipkan perasaan. Saya berharap, saat orang mengenakan Bar Indices, mereka tidak melihat waktu sebagai musuh, tetapi sebagai teman yang selalu punya cerita untuk dibagikan.” Pernyataannya itu mengundang anggukan dari para hadirin. Beberapa di antaranya memotret arloji itu dari berbagai sudut, tak hanya untuk mengabadikan keindahannya, tetapi juga sebagai pengingat akan percakapan yang baru saja terjadi.

Menariknya, proses penciptaan Bar Indices sendiri memakan waktu lebih dari setahun. Miho Wada berkisah bahwa ia sempat berulang kali mengunjungi bar-bar di Tokyo, bukan sekadar untuk menyeruput minuman, melainkan untuk mencatat detail-detail kecil: bagaimana cahaya jatuh di atas kayu, bagaimana bayangan terbentuk, dan bagaimana tangan bartender bergerak dengan anggun. “Saya ingin jam ini menjadi ode bagi para pendengar yang baik,” katanya, tersenyum. “Seperti bartender yang mendengarkan kisah pelanggannya tanpa menghakimi, jam ini mendengar denting waktu Anda tanpa pernah terburu-buru.”

Ketika malam semakin larut dan lampu-lampu Plaza Senayan perlahan meredup, Bar Indices tetap berdiam di kotak kacanya. Ia tak perlu berteriak. Cukup dengan diamnya, ia telah berkisah tentang cinta, tentang jeda, dan tentang bagaimana setiap detik yang kita miliki layak untuk dirayakan dengan segelas cerita.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User