Aug 25, 2026
entertainment

Merayakan Keberanian: Menaklukkan Takut lewat Dongeng dan Warna di Fimelahood Playdate

Di sudut ruangan berukuran empat kali empat meter yang dicat pastel lembut, anak-anak duduk melingkar dengan mata berbinar dan tangan-tangan mungil yang sesekali saling bertaut. Namun di antara mereka...

Merayakan Keberanian: Menaklukkan Takut lewat Dongeng dan Warna di Fimelahood Playdate

Di sudut ruangan berukuran empat kali empat meter yang dicat pastel lembut, anak-anak duduk melingkar dengan mata berbinar dan tangan-tangan mungil yang sesekali saling bertaut. Namun di antara mereka, seorang bocah lelaki berusia lima tahun, Raka, justru meringkuk di pangkuan ibunya, Maya. Matanya nanar, jemarinya mengepal kecil di balik baju sang ibu. Suara tawa teman-teman sebayanya tak sepenuhnya bisa menembus dinding ketakutannya sendiri.

Hari itu, sebuah acara bertajuk Fimelahood Playdate digelar dengan satu misi sederhana namun penuh makna: mengajak anak-anak menaklukkan rasa takut lewat story time dan coloring activity. Bagi sebagian orang dewasa, ketakutan anak mungkin terdengar sepele—takut gelap, takut suara keras, takut pada bayangan. Namun bagi Raka dan anak-anak lain yang hadir, ketakutan adalah monster nyata yang bersembunyi di bawah tempat tidur atau di balik pintu.

Ruang Kecil yang Ramai akan Harapan

Ruangan itu bukan sekadar tempat berkumpul. Dindingnya ditempeli beragam gambar tangan anak-anak, sementara krayon dan kertas putih berserak di lantai yang dilapisi karpet warna hijau rumput. Di satu sisi, seorang pendongeng muda bernama Irma—yang akrab dipanggil Kak Irma—mulai menyapa dengan suara lembut. Ia memegang sebuah buku besar bergambar beruang kecil yang tampak ketakutan melihat bayangannya sendiri.

Maya, sang ibu, mengisahkan perjalanan emosinya membawa Raka ke acara ini. “Setiap malam, dia tidak bisa tidur sendiri. Katanya, ada monster di lemari. Saya ingin dia tahu bahwa rasa takut itu boleh ada, tapi dia juga bisa mengendalikannya,” katanya, suaranya bergetar haru. Acara ini menjadi secercah harapan bagi para orang tua yang mendambakan anak-anak mereka menemukan bahasa untuk mengungkapkan perasaan yang selama ini tersembunyi.

Cerita Sang Beruang dan Bayangan Gelap

Lampu ruangan diredupkan, menciptakan suasana intim yang justru membuat beberapa anak—termasuk Raka—mulai menggenggam lengan ibu mereka lebih erat. Namun ketika Kak Irma membacakan kisah seekor beruang kecil yang setiap malam diteror bayangannya sendiri, Raka perlahan mengendurkan genggamannya. Suara Kak Irma yang naik turun, sesekali berbisik, sesekali berseru, membawa anak-anak masuk ke dalam hutan imajinasi tempat beruang itu tinggal. Dalam cerita, beruang kecil akhirnya sadar bahwa bayangan itu hanyalah dirinya sendiri yang terkena sinar bulan. Ia tak perlu takut; ia hanya perlu berkenalan dengan bayangannya.

“Ketakutan itu seperti bayangan,” ujar Kak Irma setelah cerita usai, menatap satu per satu wajah anak-anak. “Ia tampak besar dan menyeramkan, tapi sebenarnya hanya bagian dari diri kita yang belum kita pahami. Kita bisa berteman dengannya.”

“Saya ingin menunjukkan bahwa ketakutan bukan untuk dilawan, melainkan untuk dijinakkan. Anak-anak perlu tahu bahwa perasaan itu normal, dan mereka punya kekuatan untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih bersahabat,” tutur Kak Irma kemudian, di balik layar acara.

Warna-Warni yang Mengusir Rasa Takut

Setelah dongeng usai, setiap anak mendapat selembar kertas bergambar beruang kecil dan sekotak krayon. Misi mereka sederhana: mewarnai beruang itu dan menggambar apa pun yang membuat mereka merasa berani. Di sinilah momen paling mengharukan terjadi. Raka yang sejak awal bersikap pendiam, tiba-tiba meraih krayon kuning cerah. Dengan gerakan pelan, ia mulai mewarnai beruang itu, bukan dengan warna gelap seperti dugaannya, melainkan dengan warna-warna terang. Lalu di samping beruang, ia menggambar sesosok perempuan berpita merah.

“Itu Mama,” bisiknya kepada Maya, yang langsung berlinang air mata. “Mama bikin aku berani.”

Momen sederhana itu menjadi bukti bahwa melalui kegiatan mewarnai yang tampaknya ringan, anak-anak bisa menuangkan perasaan yang tak bisa mereka ucapkan dengan kata-kata. Di meja lain, seorang anak perempuan bernama Aluna yang takut pada suara guntur, menggambar awan mendung dengan pelangi di atasnya. “Pelangi datang setelah hujan deras. Jadi aku tidak takut lagi,” katanya riang.

Pelajaran untuk Semua

Fimelahood Playdate tidak hanya menjadi ajang bermain, tetapi juga ruang aman di mana anak-anak bisa merayakan kemajuan kecil mereka. Psikolog anak yang hadir secara sukarela, Ardi Pramono, menjelaskan bahwa kegiatan seperti story time dan mewarnai efektif membantu anak memproyeksikan emosi. “Saat anak mendengar cerita, mereka melihat bahwa tokoh lain juga bisa takut, dan itu menenangkan. Lalu, ketika mereka mewarnai, mereka memvisualisasikan solusinya sendiri. Proses ini adalah terapi alamiah yang sangat kuat,” jelasnya.

Di akhir sesi, Raka sudah tidak lagi meringkuk. Ia berdiri, berjalan ke depan, dan menunjukkan gambarnya kepada semua orang. Senyum tipis merekah di wajahnya—sebuah pemandangan yang membuat Maya hampir tak percaya. “Ini seperti keajaiban kecil,” ucap Maya, air matanya kembali jatuh, kali ini karena bahagia. “Dia baru saja mengatakan pada saya, ‘Ma, tadi malam aku bilang ke monster di lemari, aku tidak takut lagi.’”

Perjalanan menaklukkan rasa takut memang tidak selesai dalam satu hari. Namun di ruangan mungil itu, benih-benih keberanian telah ditanam dengan lembut, lewat dongeng yang menyentuh dan krayon warna-warni. Fimelahood Playdate mengingatkan kita semua—terutama para orang dewasa—bahwa di balik setiap ketakutan anak, selalu ada jalan pulang: cinta yang tidak pernah lelah menuntun, serta imajinasi yang mampu mengubah bayangan paling gelap menjadi teman.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User