Di sudut ruang pamer Gramedia Makarya Matraman, Jakarta, sebuah mesin tik tua terdiam di atas meja kayu. Kertas bergelombang, foto hitam putih, dan lembaran puisi bertuliskan tangan tersusun rapi menghiasi dinding. Seorang pengunjung berdiri cukup lama di depan satu bingkai, tangannya sesekali mengusap pelipis. Ia membaca ulang baris yang sama berkali-kali, seolah takut kehilangan satu kata pun dari penyair yang menulisnya.
Pameran arsip Wiji Thukul hadir bukan sekadar memajang barang-barang lampau. Ia mengisahkan perjalanan panjang seorang pemuda kampung dari Solo yang berjuang lewat kata-kata, hingga momen mengharukan ketika namanya justru semakin hidup setelah sosoknya lenyap. Setiap arsip yang dipajang menjadi potongan kisah tentang mimpi, perlawanan, dan penantian yang belum usai.
Penyair Kampung yang Bersuara
Wiji Thukul lahir di Solo, 26 Agustus 1963, dari keluarga sederhana. Hidupnya berpindah-pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain: tukang parkir, buruh panggul, penjahit, hingga pelukis papan nama. Dari kesibukan kasar itulah lahir puisi-puisi halus yang menusuk. Bersama Sanggar Suka Banjir, ia menulis dan membacakan puisi untuk warga kampung, anak-anak jalanan, dan para pekerja.
Puisi-puisinya tidak berhenti di atas kertas. Saat gejolak 1998 menyala, bait-bait dari puisi "Suara" dikumandangkan mahasiswa di jalanan dan gedung parlemen. Kata-kata seorang penyair kampung ikut menggetarkan sebuah rezim. Namun di balik layar, harga yang dibayar begitu besar. Pada 10 Mei 1998, Wiji Thukul tidak pernah pulang ke rumahnya di Solo. Hingga kini, nasibnya masih menjadi salah satu luka terdalam bangsa ini.
"Jangan menyerah sebelum berjuang."
Satu kalimat sederhana itu kerap dikaitkan dengan semangat Wiji Thukul. Bagi banyak orang, ia bukan hanya penyair, melainkan pengingat bahwa suara kecil pun bisa bangkit menjadi gema yang mengguncang.
Arsip yang Masih Bicara
Masuk lebih dalam ke ruang pamer, pengunjung diajak menyusuri jejak lewat dokumen-dokumen pribadi: naskah puisi dengan coretan kecil di pinggirannya, undangan pentas seni, surat kabar lawas, hingga rekaman wawancara. Ada pula poster pentas dan foto-foto keluarga yang menyentuh, menampilkan sisi Wiji sebagai ayah dan suami, bukan sekadar figur perlawanan.
Sejumlah pengunjung tak kuasa menahan air mata saat membaca puisi "Bunga dan Tembok", karya yang mengisahkan harapan menanam bunga di dalam tembok penjara agar kelak bisa dipetik oleh siapa saja. Baris-baris itu terasa semakin bermakna, ditulis oleh orang yang kemudian benar-benar hilang di balik tembok ketidakpastian.
"Di sini aku menggali lubang kubur sedalam-dalamnya dan menanam bunga, agar kelak muncul warna-warna dan kalian semua bisa memetiknya."
Para penyelenggara berharap generasi muda yang lahir setelah Reformasi dapat mengenal Wiji Thukul bukan sebagai nama abstrak di buku pelajaran, melainkan manusia dengan tawa, cemas, dan mimpi seperti mereka. Arsip, kata mereka, adalah cara paling jujur merawat ingatan karena berbicara apa adanya, tanpa embel-embel.
Menanti yang Belum Pulang
Bagi keluarga, pameran ini menyimpan makna yang jauh lebih dalam. Putri Wiji Thukul, Fitri Nganthi Wani, pernah menuangkan penantian panjangnya dalam sebuah buku berjudul "Aku Melihat Engkau Pulang". Sementara putranya, Fajar Merah, memilih meneruskan jejak ayahnya lewat musik dan puisi. Rumah keluarga di Solo bahkan diubah menjadi museum sederhana yang menyimpan kenangan sang ayah.
Hampir tiga dekade berlalu, tetapi ruang tamu rumah itu masih menyediakan tempat duduk bagi sosok yang belum kembali. Setiap kali ada kabar penemuan orang hilang, hati keluarga ini ikut berdebar. Harapan mereka sangat sederhana: sekadar tahu, sekadar menutup penantian, atau sekadar memeluk sekali lagi.
Di ruang pamer Matraman itu, ingatan dirawat bukan dengan duka semata, melainkan dengan syukur bahwa kata-kata Wiji Thukul berhasil selamat. Mesin tik tua di sudut ruangan mungkin sudah tidak lagi mengetik, tetapi suara yang pernah lahir darinya terus mengalun, menginspirasi siapa pun yang datang bahwa menulis bisa menjadi cara paling manusiawi untuk melawan kelupaan.
Comments (0)