Aug 25, 2026
entertainment

Merawat Ingatan: Jejak Wiji Thukul dalam Pameran Arsip

Di sudut ruang pameran Gramedia Makarya Matraman, Jakarta, seorang perempuan paruh baya berdiri lama di depan etalase kaca. Pandangannya tertuju pada sebuah mesin ketik tua di atas meja kayu sederhana...

Merawat Ingatan: Jejak Wiji Thukul dalam Pameran Arsip

Di sudut ruang pameran Gramedia Makarya Matraman, Jakarta, seorang perempuan paruh baya berdiri lama di depan etalase kaca. Pandangannya tertuju pada sebuah mesin ketik tua di atas meja kayu sederhana. Di sampingnya, lembar-lembar kertas menguning memuat goresan huruf yang mulai pudar dimakan usia. Ia tidak bicara. Ia hanya mengusap pelan sudut matanya dengan punggung tangan.

“Saya tidak pernah bertemu beliau secara langsung,” katanya lirih. “Tapi membaca puisi-puisinya, saya merasa seperti mengenal seseorang yang lama tidak terdengar kabarnya.”

Perempuan itu adalah salah satu dari puluhan pengunjung yang memadati ruang pameran arsip penyair Wiji Thukul. Ruangan sederhana itu berubah menjadi semacam ruang ziarah ingatan: deretan naskah asli, foto hitam-putih, catatan harian, hingga poster-poster tua yang dulu ditempel di tembok-tembok kota. Seluruh benda itu dikumpulkan dari keluarga, sahabat, dan kolektor yang selama bertahun-tahun menyimpannya dalam diam. Ingatan, kata mereka, adalah cara kita menolak melupakan.

Menggenggam Sisa-Sisa Kata

Di salah satu meja, sebuah naskah puisi tulisan tangan dipajang dalam bingkai kaca. Goresan pena terlihat cepat dan penuh energi, dengan sejumlah kata dicoret lalu diganti. Bekas koreksi itu, bagi para kurator, adalah bukti bahwa seorang penyair pun manusia biasa yang ragu, menimbang, dan mencari kata yang paling jujur.

“Arsip bukan sekadar benda mati,” ujar salah satu kurator. “Setiap lembar kertas menyimpan denyut kehidupan. Ada rasa lelah, semangat, bahkan ketakutan yang ikut tergores di sana.”

Pameran ini dihadirkan agar ingatan atas karya, perjalanan hidup, dan jejak keberadaan Wiji Thukul yang membentang dari Solo hingga Jakarta tidak luntur ditelan zaman. Lewat benda-benda kecil yang tampak sederhana, pengunjung diajak menelusuri bagaimana seorang anak muda dari kelas pekerja tumbuh menjadi suara bagi mereka yang tak bersuara.

Perjalanan yang Terputus di Tengah Jalan

Kisah Wiji Thukul adalah kisah tentang kata-kata yang berani berdiri di depan. Lahir di Solo pada 1963, ia tumbuh di tengah kehidupan rakyat kecil, menyaksikan langsung bagaimana kemiskinan, ketidakadilan, dan kesenjangan membentuk hari-hari orang-orang di sekitarnya. Dari situlah puisinya lahir — bukan dari menara gading, melainkan dari jalanan, pasar, dan pabrik.

Namun perjalanan itu terputus. Pada 1998, di tengah pergolakan bangsa, Wiji Thukul dilaporkan hilang. Ia meninggalkan istri, anak-anak, dan tumpukan naskah yang belum selesai dibacakan. Bagi keluarga yang ditinggalkan, kehilangan itu tidak pernah benar-benar sembuh. Ia pergi tanpa pamit dan tanpa pesan terakhir, hanya menyisakan kata-kata yang terus hidup.

Di balik layar pameran, tim kurator mengisahkan betapa sulitnya merawat arsip seseorang yang hidupnya penuh perpindahan. Banyak dokumen terselamatkan secara nyaris ajaib, disembunyikan di rumah kerabat atau disimpan dalam koper yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Sebagian yang lain hilang tak tentu rimbanya.

Ingatan yang Terus Hidup

Yang menarik, pengunjung pameran tidak hanya datang dari generasi yang sempat hidup di era Wiji Thukul. Banyak anak muda — mahasiswa, komunitas sastra, bahkan pelajar sekolah menengah — yang baru mengenal puisinya untuk pertama kali. Sebagian duduk di pojok ruangan, membuka buku kumpulan puisi yang tersedia, lalu membacanya pelan-pelan dengan suara bergetar.

“Puisi-puisinya seperti pukulan yang halus,” kata seorang mahasiswa asal Depok. “Dulu saya hanya tahu namanya dari pelajaran sejarah. Hari ini saya baru benar-benar membaca dan merasakannya.”

Kata-kata yang ditulis puluhan tahun lalu ternyata masih bergema. Tema yang diangkatnya — keadilan, kesederhanaan, keberanian menghadapi ketidakadilan — tidak pernah kedaluwarsa. Setiap generasi menemukan gema yang berbeda, namun sama-sama menyentuh.

Merawat Ingatan, Menghidupkan Mimpi

Pameran ini bukan sekadar menengok masa lalu. Bagi penyelenggara, ia adalah ruang untuk merenung: bagaimana sebuah bangsa merawat ingatan terhadap anak-anaknya yang hilang di tengah jalan. Benda-benda di ruangan itu adalah sisa-sisa dari seorang manusia yang pernah bermimpi dan berjuang dengan cara yang paling sederhana: menulis.

Menjelang sore, perempuan paruh baya yang tadi berdiri di depan mesin ketik kembali melangkah keluar. Di tangannya, selembar salinan puisi tergenggam erat. Ia tersenyum tipis. “Selama puisinya masih dibaca,” katanya, “ia tidak benar-benar pergi.”

Mungkin itulah inti dari seluruh pameran ini: sebuah pernyataan lembut bahwa ingatan tidak pernah berhenti selama masih ada yang mau membaca, merawat, dan meneruskan. Wiji Thukul boleh saja hilang dari hadapan mata, tetapi kata-katanya tetap tinggal — di rak buku, di etalase kaca, dan di hati orang-orang yang tidak pernah bertemu dengannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User