Aug 25, 2026
entertainment

Menyatu Dalam Pesona Kebaya di Sarinah Thamrin

Suara gamelan mengalun lembut, menyambut setiap langkah perempuan yang memasuki lobi Sarinah Thamrin sore itu. Jumat, 24 Juli 2026, bukan sekadar hari biasa. Di bawah langit-langit gedung yang sarat s...

Menyatu Dalam Pesona Kebaya di Sarinah Thamrin

Suara gamelan mengalun lembut, menyambut setiap langkah perempuan yang memasuki lobi Sarinah Thamrin sore itu. Jumat, 24 Juli 2026, bukan sekadar hari biasa. Di bawah langit-langit gedung yang sarat sejarah, mereka berkumpul dengan satu benang merah: kebaya. Ada yang datang dengan kebaya encim berwarna pastel, ada pula yang memilih kebaya kutubaru hitam yang anggun. Beberapa perempuan tampak menggandeng anak perempuannya, memperkenalkan warisan leluhur sejak dini.

Ruang Berkumpul Perempuan Berkebaya

Acara bertajuk "Merayakan Kebaya, Merayakan Pesona Perempuan Indonesia" itu diselenggarakan oleh Mustika Ratu bersama Sarinah sebagai puncak peringatan Hari Kebaya Nasional 2026. Lobi utama pusat perbelanjaan yang ikonis itu berubah menjadi panggung yang intim. Deretan manekin memamerkan koleksi kebaya dari berbagai daerah: ada kebaya brokat dari Jawa Tengah, kebaya Bali lengkap dengan selendang, hingga kebaya modern rancangan desainer muda yang dipadukan dengan kain tenun. Di salah satu etalase, kebaya berbahan organdi dari tahun 1960-an tampak terjaga rapi. Setiap lipatan kainnya masih menyimpan wangi zaman, mengundang decak kagum siapa pun yang memandangnya.

Pengunjung bebas menjelajahi setiap sudut pameran. Di salah satu rak, terpajang kebaya-kebaya milik kolektor yang dipinjamkan khusus untuk acara ini. Seorang perempuan paruh baya dengan rambut disanggul rapi berdiri cukup lama di depan kebaya berwarna merah marun yang disulam benang emas. Ia tampak tersenyum, mungkin mengingat kenangan masa kecilnya saat sang ibu mengenakan kebaya serupa.

"Kebaya itu seperti bercerita," ujar seorang pengunjung, Ibu Ratna (58), yang datang bersama ketiga anak perempuannya. "Setiap kali saya memakainya, saya merasa terhubung dengan ibu saya, dan sekarang saya ingin anak-anak saya juga merasakan hal yang sama."

Kisah di Balik Lembaran Kain

Bukan hanya pameran, acara ini juga menghadirkan sesi berbagi kisah dari para perempuan inspiratif. Seorang perajin kebaya dari Lasem, Jawa Tengah, mengisahkan bagaimana ia menekuni pembuatan kebaya bordir sejak usia belia. Dengan suara bergetar, ia menceritakan perjuangan merawat tradisi di tengah gempuran mode modern. "Tangan kami mungkin kecil, tapi lewat sulaman-sulaman ini, kami menghidupi keluarga dan menjaga budaya," katanya, disambut tepuk tangan yang hangat dari hadirin. Sesi tanya jawab pun berlangsung akrab. Seorang mahasiswi bertanya tentang cara merawat kebaya sutra yang rapuh, dan sang perajin dengan sabar menjelaskan teknik menyimpannya, menambah kesan mendalam bahwa pengetahuan tentang kebaya adalah warisan yang harus terus dibagikan.

Di sudut yang berbeda, sebuah lokakarya mini tengah berlangsung. Puluhan perempuan dengan tekun belajar memasang jarit dan membentuk sanggul sederhana. Seorang perempuan muda yang mengenakan hijab dengan antusias mencoba kebaya tutup tangan yang diperlengkapi dengan brokat halus. "Ini pertama kalinya aku pakai kebaya sejak menikah. Rasanya lain," ucapnya malu-malu. Di balik senyumnya, terpancar rasa bangga yang sulit disembunyikan.

Momen Mengharukan di Atas Panggung

Sorot lampu mulai mengarah ke panggung utama saat senja menjelang. Pertunjukan peragaan busana dimulai. Bukan model profesional yang melangkah di catwalk, melainkan perempuan-perempuan dari berbagai latar belakang: seorang guru, seorang dokter, seorang ibu rumah tangga, hingga seorang lansia berusia 72 tahun. Masing-masing mengenakan kebaya dengan gaya yang berbeda: ada yang dipadukan dengan celana palazzo, ada yang tetap setia dengan kain panjang bermotif parang. Seorang desainer muda, Andini, berbagi kisah tentang tantangan menyesuaikan kebaya dengan selera anak muda tanpa kehilangan jati dirinya. Peragaan itu menjadi lebih dari sekadar parade; itu adalah pernyataan bahwa kebaya milik siapa saja.

Sosok yang paling menyita perhatian adalah seorang nenek yang berjalan perlahan sambil menggandeng cucu perempuannya. Sang nenek mengenakan kebaya milik almarhumah ibunya yang berusia lebih dari 50 tahun. Langkahnya mungkin gemetar, tapi tatapannya penuh keyakinan. Ketika ia mencapai ujung panggung, matanya berkaca-kaca. "Kebaya ini saksi bisu perjalanan hidup perempuan di keluarga kami," bisiknya kepada pembawa acara. Momen itu membuat banyak mata di ruangan itu ikut berkaca-kaca.

Merayakan Identitas dan Kebanggaan

Hari semakin malam, namun energi di Sarinah Thamrin tidak kunjung surut. Di sudut dekat pintu keluar, sebuah papan besar dipenuhi dengan catatan tangan para pengunjung. "Kebaya mengingatkanku pada rumah," tulis seseorang. "Untuk cucuku kelak, inilah hadiah terindah," tulis yang lain. Catatan-catatan itu seakan menjadi janji kolektif untuk terus merawat kebaya bukan hanya sebagai pakaian, tapi sebagai identitas.

Perwakilan Mustika Ratu dalam sambutannya menyampaikan bahwa kebaya bukan sekadar kain. "Ini tentang siapa kita sebagai perempuan Indonesia. Setiap lipatan, setiap renda, menyimpan cerita tentang ketangguhan, kelembutan, dan martabat," ujarnya. Sementara itu, pihak Sarinah menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang bagi perayaan budaya bangsa. Seseorang mungkin bisa melupakan banyak hal, tetapi ingatan tentang kali pertama seorang anak perempuan memakaikan ibunya kebaya adalah kenangan yang abadi. Kebaya, pada akhirnya, adalah bahasa cinta yang tak terjamah oleh waktu.

Di penghujung acara, para perempuan berfoto bersama dengan latar instalasi kebaya raksasa. Kilatan kamera ponsel merekam lebih dari sekadar gambar; mereka merekam satu babak baru dalam gerakan memuliakan kebaya. "Ini bukan akhir, tapi awal," ujar seorang peserta dengan mata berbinar. Di gedung tua yang menyimpan banyak sejarah itu, malam itu, kebaya sekali lagi membuktikan bahwa ia tidak pernah kehilangan pesonanya. Ia adalah benang yang merajut masa lalu, masa kini, dan masa depan perempuan Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User