Aug 25, 2026
entertainment

Menyambut Aksara Nusantara, Kisah Perjuangan di Balik Goresan Tua

Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, cahaya senja menyelinap lewat celah dinding bambu. Pak Gunawan, seorang lelaki berusia enam puluh tujuh tahun, menatap tumpukan daun lontar dengan mata berkac...

Menyambut Aksara Nusantara, Kisah Perjuangan di Balik Goresan Tua

Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, cahaya senja menyelinap lewat celah dinding bambu. Pak Gunawan, seorang lelaki berusia enam puluh tujuh tahun, menatap tumpukan daun lontar dengan mata berkaca-kaca. Jemarinya, yang keriput dan sedikit gemetar, menggenggam arang sisa pembakaran kemarin. Dengan gerakan lambat namun penuh keyakinan, ia menorehkan goresan melengkung di atas selembar kertas buram. Di sekelilingnya, lima anak desa menyaksikan dalam diam, seolah setiap goresan itu mengisahkan dunia yang pernah hilang dari ingatan mereka.

Perjalanan Menjaga Goresan Leluhur

Perjalanan Pak Gunawan bukanlah kisah yang mulus. Dua puluh tahun lalu, ketika ia pertama kali memutuskan untuk mengajarkan aksara daerah kepada generasi muda, banyak yang menertawakan. "Apa gunanya belajar tulisan tua?" demikian celetuk warga yang lebih memilih membaca huruf Latin di layar ponsel. Namun di balik layar ejekan itu, Pak Gunawan terus berjuang sendirian. Ia menyusuri rumah-rumah warga, membawa buku catatan sederhana berisi aksara Jawa, Bugis, Batak, dan Bali—bukti bahwa Nusantara pernah memiliki kekayaan tulisan yang megah namun terlupakan.

Setiap malam, di bawah cahaya lampu minyak tanah, ia menyalin manuskrip-manuskrip tua yang hampir usang. Tangannya seringkali lelah, punggungnya terasa remuk, namun ada satu mimpi yang tak pernah padam: melihat anak-anak negeri ini menulis namanya sendiri dengan aksara leluhur. Bagi Pak Gunawan, aksara bukan sekadar simbol di atas kertas, melainkan napas sejarah yang menyentuh relung hati, menghubungkan darahnya dengan ribuan tahun peradaban.

Momen Mengharukan di Ujung Pena

Kemudian datanglah sore yang mengubah segalanya. Ketika sebuah berita tentang Aksara Nusantara—sistem tulisan teranyar yang menyatukan berbagai warisan aksara dari Sabang sampai Merauke—menyebar di desanya, Pak Gunawan tak bisa menahan air mata. Ia duduk di beranda rumah panggungnya, memegang ponsel pinjaman dari cucunya, dan membaca ulang kabar itu berkali-kali. Tak lama kemudian, anak-anak yang biasanya hanya datang karena paksaan orang tua mulai berdatangan dengan mata berbinar.

"Saya tidak pernah menyangka akan hidup sampai detik ini. Selama ini saya merasa sebatang kara, tapi ternyata perjuangan kita di sudut desa kecil ini didengar. Aksara Nusantara bukan sekadar nama, tapi pengakuan bahwa goresan kita juga punya tempat di dada bangsa."

Momen mengharukan itu semakin lengkap ketika Santi, seorang gadis berusia sepuluh tahun yang selama ini kesulitan membedakan bentuk aksara Jawa, tiba-tiba menuliskan namanya dengan sempurna di papan tulis. Ruangan kecil itu bergemuruh oleh tepuk tangan. Pak Gunawan terdiam, menunduk, dan berdoa dalam hati. Ia tahu, ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

Bangkitnya Inspirasi di Tanah Nusantara

Kini, setiap sore, rumah bambu milik Pak Gunawan tak pernah sepi. Anak-anak datang membawa buku baru, pensil warna, dan rasa ingin tahu yang tak pernah padam. Mereka belajar bahwa Nusantara bukan hanya sebuah garis di peta, melainkan lautan aksara yang saling berbisik antarpulau. Dari aksara Rejang yang penuh mistis hingga aksara Lampung yang anggun, semua kini punya rumah bersama dalam Aksara Nusantara.

Pak Gunawan seringkali terharu melihat semangat baru yang menyala di mata generasi muda. Ia yang dulu hanya seorang kakek sederhana di pinggiran hutan kini menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Bagi mereka yang pernah meragukan, ia tidak pernah membalas dengan kata-kata kasar. Ia hanya menunjukkan bahwa bangkitnya sebuah budaya tidak butuh teriakan, melainkan ketekunan di ujung jari yang terus menoreh.

Di kala malam tiba dan lampu minyak mulai redup, Pak Gunawan masih sering terjaga. Ia memandangi goresan-goresan di dinding kamarnya yang ia buat sendiri sebagai pengingat. Dalam hening, ia tersenyum. Perjalanan panjang menjaga aksara bukan lagi beban yang ia pikul sendiri. Ribuan tangan muda kini bersedia melanjutkan, membawa kisah Nusantara menulis ulang masa depannya dengan goresan yang sama indahnya, sama kuatnya, dan sama abadinya dengan cinta seorang lelaki tua kepada tanah airnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User