Aug 25, 2026
entertainment

Menjemput Mimpi di Ho Chi Minh: Kini Cukup Sekali Terbang

Di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta pagi itu, Ratri tak berhenti menatap papan keberangkatan. Tangannya menggenggam erat paspor dan selembar tiket yang sudah bertahun-tahun hanya berani ia simpan d...

Menjemput Mimpi di Ho Chi Minh: Kini Cukup Sekali Terbang

Di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta pagi itu, Ratri tak berhenti menatap papan keberangkatan. Tangannya menggenggam erat paspor dan selembar tiket yang sudah bertahun-tahun hanya berani ia simpan dalam angan. Bagi perempuan asal Bandung ini, Vietnam bukan sekadar destinasi liburan, melainkan janji pada diri sendiri yang sempat tertunda karena panjangnya perjalanan yang membayangi.

"Dulu saya pikir ke Vietnam itu melelahkan, harus transit berkali-kali. Sekarang ternyata bisa langsung. Rasanya seperti mimpi yang akhirnya dibukakan pintunya," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Kisah Ratri hanyalah satu dari sekian banyak perjalanan yang kini menemukan jalannya. Ho Chi Minh, kota terbesar sekaligus paling dinamis di Vietnam, memang telah lama memikat hati para pelancong dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Namun selama ini, kerinduan itu kerap terbentur urusan koneksi penerbangan yang berbelit. Kini, semua berubah. Warga Indonesia cukup naik pesawat satu kali, dan kota yang dulu dikenal dengan nama Saigon itu menyambut di ujung perjalanan.

Kota yang Tak Pernah Berhenti Bernapas

Ada alasan mengapa Ho Chi Minh disebut sebagai denyut nadi Vietnam. Begitu kaki menjejak di sana, indera langsung diserbu harmoni yang khas: deru jutaan sepeda motor yang mengalir bagai sungai besi, aroma kopi robusta yang menyapa dari kedai-kedai mungil di pinggir trotoar, hingga kepulan uap hangat semangkuk pho yang dijajakan sejak subuh.

Di sudut-sudut kota, gedung pencakar langit berdiri berdampingan dengan arsitektur kolonial yang menua dengan anggun. Pasar Ben Thanh riuh oleh tawar-menawar, sementara tak jauh dari sana, katedral tua dan kantor pos bersejarah menjadi saksi bisu perjalanan waktu. Bagi banyak pelancong, kota ini mengisahkan dua wajah sekaligus: masa lalu yang mengharukan dan masa depan yang berlari kencang.

"Vietnam itu sederhana, tapi menyentuh. Orang-orangnya ramah, makanannya jujur, dan setiap gang kecil seperti punya cerita sendiri," tutur Ratri, mengenang rencana perjalanannya.

Satu Kali Terbang, Sejuta Cerita Menanti

Di balik kemudahan yang kini dinikmati para pelesir, ada perubahan besar yang patut disyukuri. Jika sebelumnya perjalanan ke Ho Chi Minh menuntut kesabaran ekstra karena harus berganti pesawat di kota lain, kini rute langsung memangkas segala kerumitan itu. Dari Jakarta, tubuh hanya perlu duduk beberapa jam di dalam kabin, lalu turun di negeri yang sama sekali berbeda rasanya.

Bagi para pelaku perjalanan, kemudahan ini bukan hal sepele. Waktu yang tadinya habis di ruang transit kini bisa dihabiskan untuk menyeruput kopi susu es di tepi jalan, menyusuri terowongan bersejarah Cu Chi, atau sekadar duduk memandangi Sungai Saigon kala senja. Momen mengharukan itu kini lebih mudah dijangkau siapa saja, dari pekerja kantoran yang menabung cuti hingga pasangan lansia yang ingin menikmati masa tua dengan berkelana.

Di Balik Layar Kemudahan, Ada Mimpi yang Menyala

Kemudahan akses selalu punya makna lebih dalam dari sekadar jarak yang terpangkas. Bagi sebagian orang, ini tentang berjuang mewujudkan mimpi yang lama dipendam. Ada mahasiswa yang akhirnya bisa menimba ilmu dan pengalaman di negeri tetangga, ada pedagang kecil yang membuka peluang usaha lintas negara, ada pula keluarga yang akhirnya bisa berkumpul kembali setelah terpisah lautan.

Ratri sendiri mengaku perjalanan ini adalah hadiah untuk dirinya setelah bertahun-tahun bekerja tanpa henti. "Kadang kita lupa memberi ruang untuk diri sendiri. Saya ingin bangkit dari rutinitas, dan perjalanan ini adalah caranya," katanya lirih, nyaris berbisik.

Menyusun Langkah Menuju Saigon

Bagi siapa pun yang hatinya mulai tergelitik, Ho Chi Minh menawarkan keramahan yang tak menuntut banyak. Bahasa boleh berbeda, tetapi senyum penjual pho di pinggir jalan selalu bisa diterjemahkan semua orang. Biaya hidup yang bersahabat membuat kota ini ramah bagi pelesir berkantong sederhana, sementara kekayaan sejarah dan kulinernya membuat setiap langkah terasa berharga.

Pada akhirnya, setiap kisah perjalanan selalu berawal dari keberanian untuk berangkat. Dan kini, ketika jarak telah dipangkas menjadi satu kali penerbangan, tak ada lagi alasan untuk hanya bermimpi. Seperti yang diyakini Ratri sambil melangkah menuju pintu keberangkatan pagi itu, "Mimpi itu sebenarnya dekat. Kita saja yang kadang belum berani menjemputnya." Kali ini, ia benar-benar menjemputnya, di kota bernama Ho Chi Minh, yang menunggu dengan sejuta cerita di seberang sana.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User