Aug 25, 2026
entertainment

Menggugat demi Lagu: Kisah Ardhito Pramono dan Perjuangan Royalti

Ada momen ketika seorang musisi duduk sendirian di kamar, memutar lagu yang pernah ia tulis bertahun-tahun lalu, lalu bertanya-tanya ke mana perginya jerih payah yang seharusnya kembali kepadanya. Mom...

Menggugat demi Lagu: Kisah Ardhito Pramono dan Perjuangan Royalti

Ada momen ketika seorang musisi duduk sendirian di kamar, memutar lagu yang pernah ia tulis bertahun-tahun lalu, lalu bertanya-tanya ke mana perginya jerih payah yang seharusnya kembali kepadanya. Momen seperti itulah yang mengantarkan Ardhito Pramono, penyanyi dan penulis lagu yang namanya melejit lewat Bitterlove dan tembang-tembang puitis lainnya, pada keputusan besar yang tidak mudah: menggugat label yang pernah menaungi kariernya, Sony Music Indonesia.

Perjalanan panjang seorang musisi

Perjalanan Ardhito di dunia musik bukanlah kisah yang instan. Sebelum namanya dikenal luas, ia berjuang dari panggung kecil ke panggung kecil, menabung mimpi lewat nada-nada sederhana yang ia tulis di sela kesibukannya. Sosoknya dikenal sebagai musisi yang serius memandang musik sebagai karya, bukan sekadar komoditas. Ketika namanya mulai bersinar dan lagu-lagunya diputar di berbagai platform, ia justru dihadapkan pada pertanyaan besar tentang haknya atas karya yang ia ciptakan sendiri.

Gugatan yang dilayangkan Ardhito ke Sony Music Indonesia bukanlah perkara yang lahir dari kemarahan sesaat. Di baliknya ada perjalanan panjang tentang cara pandang yang berbeda terhadap royalti — hak yang semestinya mengalir kepada pencipta lagu setiap kali karyanya menghasilkan pemasukan. Bagi Ardhito, royalti bukan sekadar angka di rekening, melainkan bentuk penghargaan terhadap kerja kreatif yang tidak bisa dilihat, tetapi bisa dirasakan oleh jutaan pendengar.

Duduk perkara di balik gugatan

Duduk perkara yang menjadi dasar gugatan ini berakar pada ketidakjelasan laporan royalti. Ardhito menilai bahwa hak ekonominya sebagai pencipta lagu tidak dikelola dengan transparan oleh label. Ia merasa ada sebagian hak yang tidak sampai kepadanya, meski karya-karyanya terus beredar, diputar, dan dinikmati publik. Perasaan tidak dihargai itulah yang akhirnya mendorongnya menempuh jalur hukum sebagai upaya terakhir setelah berbagai upaya musyawarah tidak menemukan titik temu.

Kasus ini kemudian bergulir di pengadilan niaga, menempuh proses panjang yang menguras tenaga dan pikiran. Bagi banyak orang, menggugat label besar adalah langkah berani yang jarang dilakukan musisi papan atas. Namun bagi Ardhito, keputusan ini adalah bentuk konsistensi terhadap prinsip yang ia pegang: bahwa karya cipta adalah milik penciptanya, dan setiap sen dari hasil karya itu harus dipertanggungjawabkan.

Perjuangan yang lebih besar dari satu orang

Yang menyentuh dari kisah ini bukan hanya soal satu musisi melawan satu perusahaan. Lebih dari itu, gugatan Ardhito menjadi simbol perjuangan banyak musisi lain yang selama ini memendam pertanyaan yang sama: mengapa royalti yang mereka terima tidak pernah sebanding dengan kerja dan popularitas karya mereka? Di balik layar, banyak pencipta lagu yang hidup pas-pasan meski karyanya diputar jutaan kali. Mereka bekerja dalam sunyi, dan sering kali suara mereka tidak terdengar.

Keputusan Ardhito untuk berbicara terbuka dan menempuh jalur hukum memberi ruang bagi percakapan yang selama ini tabu di industri musik Indonesia. Ia membuka pintu diskusi tentang transparansi kontrak, kejelasan laporan, dan pentingnya musisi memahami hak-haknya. Lewat langkah ini, ia seolah berpesan bahwa berjuang demi hak bukanlah tindakan serakah, melainkan bentuk cinta pada karya itu sendiri.

"Saya hanya ingin setiap karya dihargai sebagaimana mestinya. Ini bukan tentang saya, tetapi tentang bagaimana kita memperlakukan pencipta lagu di negeri ini," begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikannya.

Bangkit dan terus berkarya

Di tengah proses hukum yang berjalan, Ardhito tidak berhenti berkarya. Musik tetap menjadi rumah baginya — tempat ia kembali ketika dunia terasa berat. Ia terus menulis, merekam, dan membagikan lagu-lagu baru kepada para pendengarnya, seolah menegaskan bahwa apa pun yang terjadi di meja hijau, ia tidak akan pernah kehilangan esensi dirinya sebagai musisi.

Kisah Ardhito Pramono adalah pengingat bahwa di balik setiap gugatan, di balik setiap angka dan pasal, selalu ada manusia dengan mimpi, air mata, dan kerja keras. Perjuangannya mungkin masih panjang, tetapi langkahnya telah menginspirasi banyak orang untuk tidak takut memperjuangkan apa yang menjadi haknya — dengan cara yang santun, tenang, dan penuh martabat.

Pada akhirnya, perkara ini bukan sekadar soal royalti. Ia adalah kisah tentang menghargai kerja kreatif, tentang keberanian mengambil jalan yang tidak populer demi prinsip, dan tentang harapan bahwa industri musik Indonesia bisa menjadi tempat yang lebih adil bagi semua pencipta lagu. Sebuah perjuangan yang layak didengar, direnungkan, dan didukung.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User