Detik itu, di sebuah sudut rumah berukuran 3x4 meter di Pangkalpinang, seorang perempuan muda berdiri di depan cermin rias sederhana. Jemarinya masih sedikit bergetar. Ia menatap pantulan dirinya—bukan untuk memastikan bedaknya rata, melainkan untuk mengingatkan diri sendiri: "Kau bisa, Bhita. Kau sudah sampai sejauh ini." Suaranya nyaris berbisik, seolah takut membangunkan mimpi yang masih terlalu rapuh untuk digenggam.
Bhita, pemilik suara serak basah yang kemudian menggetarkan ruang audisi D'Academy 8, bukanlah nama yang lahir dari panggung gemerlap. Ia adalah anak kampung dari Pulau Bangka, tempat debu timah dan riak ombak menjadi saksi masa kecil yang jauh dari hingar-bingar industri hiburan. Perjalanannya ke panggung besar itu tak ubahnya alur lagu dangdut kesayangannya: ada kerendahan hati, ada ketegaran, dan selalu ada getaran cinta yang tulus.
Dari Balik Gorden Lantai Tiga
Sebelum lampu sorot menyapanya, Bhita adalah sosok yang kerap bersembunyi di balik gorden lantai tiga gedung serbaguna di kotanya—tempat satu-satunya ia bisa berlatih vokal tanpa mengganggu tetangga. Ayahnya, seorang mantan buruh tambang, hanya bisa menggeleng pelan setiap kali putrinya meminta izin mengikuti lomba menyanyi. "Bapak tak punya cukup uang, Nak. Tapi kalau itu mimpi kamu, teruslah bernyanyi," ujarnya suatu petang dengan suara serak, persis seperti warisan yang kini mengalir di tenggorokan Bhita.
Kata-kata itu bukan larangan. Justru itulah bahan bakar yang membuat Bhita rela menempuh perjalanan panjang menggunakan bus antarkota, hanya demi mengikuti audisi daerah yang seringkali berakhir tanpa panggilan. Ia menyimpan tiket-tiket usang itu dalam sebuah toples kaca—bukan sebagai kenang-kenangan pahit, melainkan sebagai penanda bahwa ia tak pernah berhenti melangkah.
Momen yang Membekukan Waktu
Saat namanya dipanggil di panggung audisi D'Academy 8, untuk sepersekian detik dunia terasa membeku. Di bangku penonton, sang ibu menutup wajah dengan kedua tangan. Bhita berjalan ke tengah panggung dengan gaun sederhana pinjaman tetangga. Lampu sorot terasa panas, namun dinginnya rasa gugup jauh lebih menusuk. Kemudian, ia mulai menyanyi. Bukan dengan teknik sempurna yang diajarkan guru vokal kelas atas, melainkan dengan ruh seorang perempuan yang telah menghabiskan masa remajanya berbicara pada lautan.
"Saya hanya ingin menyampaikan rasa," kata Bhita lirih ketika salah satu juri bertanya apa yang ada di pikirannya. Jawaban itu begitu jujur hingga tak satu pun mata di ruangan itu bisa berpaling. Penampilannya mengalir seperti gelombang—naik turun, kadang mendebarkan, namun selalu kembali menepuk hati dengan lembut. Itulah momen yang mengubah segalanya: tepuk tangan panjang bukan hanya dari penonton, melainkan dari orang-orang yang selama ini mungkin tak pernah membayangkan bahwa sebuah suara bisa lahir dari sudut kota timah dengan cara yang begitu menyentuh.
Kisah di Balik Nada
Di balik layar, Bhita menyimpan banyak cerita yang tak terucap di atas panggung. Setiap malam sebelum tampil, ia selalu menyempatkan diri menelepon ayahnya yang kini hanya bisa mendengar suaranya lewat ponsel lawas—ponsel yang sama yang digunakannya untuk merekam latihan vokal di kamar kecilnya. "Bapak bilang, suara saya adalah doa yang dikabulkan. Jadi saya harus menjaganya," ucap Bhita dengan mata berkaca-kaca.
Tak jarang air mata jatuh di sela-sela latihan. Bukan karena beban ekspektasi, melainkan karena ia teringat betapa jauh jarak yang telah ia tempuh—dari ruang tamu yang berubah menjadi studio darurat, hingga panggung yang disaksikan jutaan pasang mata. Ia mengisahkan perjuangan itu tanpa nada sedih; sebaliknya, setiap getar suaranya justru memancarkan kebanggaan terhadap akarnya. Bagi Bhita, menjadi bagian dari D'Academy 8 bukan semata soal kompetisi, melainkan tentang membuktikan bahwa mimpi sederhana bisa menemukan jalannya sendiri untuk bersinar.
Saat ini, Bhita terus melangkah. Panggung demi panggung ia lewati dengan keyakinan yang makin kokoh. Dan di setiap akhir penampilannya, ia selalu menyelipkan doa untuk Pangkalpinang—tempat ia pertama kali belajar bahwa suara bukan hanya milik pita suara, melainkan milik hati yang berani bermimpi.
Comments (0)