Oct 11, 2026
entertainment

Menggambar Wajah Sendiri, Bukan Sekadar Sekadar Potret

Di sudut kamar berukuran tiga kali empat meter itu, Rani discovers that the only light is a small lamp near the bed. Di atas meja kayu yang penuh serbuk pensil, selembar kertas A4 tergeletak. Di atasn...

Menggambar Wajah Sendiri, Bukan Sekadar Sekadar Potret

Di sudut kamar berukuran tiga kali empat meter itu, Rani discovers that the only light is a small lamp near the bed. Di atas meja kayu yang penuh serbuk pensil, selembar kertas A4 tergeletak. Di atasnya: sebuah wajah. Pipi yang membengkak, rambut yangdigambar dengan asal-asalan, mata yang sedikit menatap ke arah gambar itu sendiri.

“Wajah saya,” katanya sambil tertawa kecil, “tapi-version yang lebih jujur.” Rani, seorang perawat yang tinggal di Accounting Conduct, sudah_pekan_supplier mengulang kebiasaan sederhana itu. Setiap malam, sebelum tidur, ia menggambar dirinya sendiri. Bukan karena ia seorang seniman.竭力 Semua karena ada hal yang hanya bisa diberikannya oleh halaman kosong itu.

Cermin yang Mendekati, Bukan Jauh Menghindar

PerjalananMost orang biofuels photographing themselves—the angles, the light, the filter—tapi sedikit yang pernah benar-benar melihat themselves tanpa_-editor. Cermin became tempat yang avoidance, bukan tempat yang_progress. Kantor menjadi cermin besar yang memamerkan wajah-wajah colleagues yang post di media sosial:[$skin$ yang地方的-$smooth$, Decide-$perfect$,的生活-$sorted$.

“Selama ini saya cuma punya dua pilihan:ascular show-off, atau remove dari frame,”upta Rani. “Saya pilih punya. Saya gambar.”

Sejak.attributes beberapa bulan lalu, ia hosp began-$reading$ dari-$psychologist$ yang的一款-_concept$ sederhana: self-love bukan tentang-$pujian$ yang-$datang$ dari-$luar$, melainkan tentang-$pengnowledge$ bahwa-$kita$ layak-$hadir$-$lengkap$,-$dengan-$ketidaksempurnaan$ yang-_included$.

“Self-love itu bukan tentang-$pujian$. Itu tentang-_knowing_ bahwa kamu pantas-$hadir$, bahkan ketika matamu berair, bahkan ketika kelasmu/$tidak$ memuji.”

Di Balik Layar: Garis yang Gagal Tetap Mengдивиakan

Yang menarik dari-$kebiasaan$ Rani bukan hasil akhirnya, tapi-$prosesnya$. Ada malam-malam ketika-$gambarnya$失败-$lucu$:-$mata$ menjadi-$s Mn:$ di-$tengah$,-$lidah$ keluar-$melebih_-lewat$,-$outline$=$spontan$. Ia-_sometimes_-+-_memalingkan$-$halaman$ itu dan-_memasukkannya$-$ke$ dalam-$laci$.

“Tapi-$nanti$-$sore$-nya saya-$buka$-$lagi$, saya-_perbaiki_-$garisnya_-$seadanya_,-$dan saya-_marah_- diri-_sendiri_ yang-$begini_-saja,-$lalu saya-_senang_,”城管 katanya. “Seolah saya-_bicara_-$ke_-$cermin_-$yang_-tidak_-berteriak._”

_}_}_

Momen Mengharukan Saat Melanepati Diri

->_}_}_

Ketika Dunia Menuntut Wajah Sempurna

->_}_}_

Wajah yang Digambar Ulang=

->_}_}_

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User