Di sebuah rumah sederhana di kawasan Imogiri, Bantul, Yogyakarta, suasana duka menyelimuti ruang tamu yang penuh dengan kanvas dan cat minyak. Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, terdapat kursi kayu yang biasa diduduki Nasirun saat menciptakan karya-karya ekspresifnya. Kini, kursi itu kosong. Pelukis terkenal asal Cilacap, Jawa Tengah, itu telah berpulang pada Selasa pagi, setelah beberapa hari terakhir mengeluh sakit di bagian dada.
Kabar kepergiannya menyebar cepat di kalangan seniman dan pecinta seni rupa Indonesia. Nasirun, yang dikenal dengan goresan kuasnya yang berani dan penuh emosi, meninggalkan jejak yang dalam di dunia seni lukis tanah air. Perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan dari kota kecil di pesisir selatan Jawa hingga menjadi salah satu maestro yang dihormati, adalah kisah yang layak dikenang.
Dari Cilacap ke Panggung Seni Nasional
Nasirun lahir di Cilacap pada tahun 1965. Masa kecilnya dihabiskan di lingkungan yang jauh dari gemerlap dunia seni. Namun, bakatnya sudah tampak sejak dini. Ia sering menggambar di atas pasir pantai atau menggunakan arang di dinding rumahnya. Setelah menamatkan pendidikan menengah, ia memutuskan untuk merantau ke Yogyakarta, kota yang dikenal sebagai pusat seni rupa Indonesia. Di sana, ia menimba ilmu di Institut Seni Indonesia (ISI) dan mulai mengasah gaya khasnya yang ekspresif dan penuh simbol.
Karya-karya Nasirun sering kali menggambarkan kehidupan rakyat kecil, dengan figur-figur yang gemuk, ceria, namun sarat kritik sosial. Warna-warna cerahnya yang khas membuat lukisannya mudah dikenali. Ia tidak pernah takut untuk bereksperimen, mulai dari kanvas, kertas, hingga instalasi kayu. Pameran-pamerannya, baik di dalam maupun luar negeri, selalu mendapat sambutan hangat. Namun, di balik ketenarannya, Nasirun tetap rendah hati dan dekat dengan komunitas seniman muda.
“Saya hanya ingin melukis apa yang saya lihat dan rasakan. Kehidupan sederhana di kampung halaman adalah sumber inspirasiku yang tak pernah kering,” begitu pernah ia ungkapkan dalam sebuah wawancara beberapa tahun lalu.
Momen Haru di Balik Sakit yang Diderita
Beberapa hari sebelum kepergiannya, Nasirun sempat mengeluh nyeri di dadanya. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit di Yogyakarta untuk mendapatkan perawatan. Namun, kondisinya terus menurun. Keluarga yang mendampingi di rumah sakit menceritakan momen-momen terakhir yang mengharukan. Nasirun masih sempat meminta kuas dan catnya untuk menggambar sketsa kecil di atas kertas, seolah ingin melepaskan semua energi kreatifnya sebelum benar-benar beristirahat.
“Dia masih sempat tersenyum saat melihat sketsa yang dibuatnya. Itu seperti cara dia berpamitan,” ujar salah seorang keponakannya dengan mata berkaca-kaca. Sang pelukis juga berpesan agar karya-karyanya yang belum selesai dijaga dan dirawat dengan baik. Pesan itu terasa begitu menyentuh, mengingat betapa besar cintanya pada dunia seni yang telah membesarkan namanya.
Perjalanan Terakhir ke Taman Makam Seniman Giri Sapto
Setelah prosesi pemulasaraan di rumah duka, jenazah Nasirun akan dikebumikan di Taman Makam Seniman Giri Sapto di Imogiri, Bantul. Tempat peristirahatan terakhir itu memang khusus disediakan untuk para seniman Yogyakarta. Di sana, ia akan berbaring berdampingan dengan seniman-seniman besar lainnya, seperti Bagong Kussudiardja dan Widayat. Pemilihan lokasi ini bukanlah hal yang kebetulan; Nasirun adalah sosok yang sangat menghormati tradisi dan sejarah seni Yogyakarta.
Sejak pagi, para pelayat mulai berdatangan. Mereka datang dari berbagai kalangan, mulai dari sesama pelukis, kurator, mahasiswa seni, hingga warga sekitar yang mengenal keramahannya. Suasana duka terasa kental, namun di antara tangis, ada juga senyum mengingat tingkah laku Nasirun yang humoris. Ia dikenal sebagai sosok yang suka bercerita dan membuat orang di sekitarnya tertawa. Kepergiannya adalah kehilangan besar, tetapi juga pengingat bahwa seni adalah cara terbaik untuk dikenang.
Karya-karya Nasirun akan terus hidup, menginspirasi generasi muda untuk berani bermimpi. Dari sebuah kota kecil di Cilacap, ia membuktikan bahwa dengan kerja keras dan ketulusan, seorang seniman bisa mencapai puncak ketenaran tanpa kehilangan jati dirinya. Selamat jalan, Pak Nasirun. Goresan kuasmu akan selalu menjadi saksi bisu perjuangan dan kecintaanmu pada hidup yang sederhana namun penuh makna.
Di tengah duka yang mendalam, satu hal yang pasti: warna-warna cerah yang ia tuangkan di atas kanvas akan terus menghiasi dinding-dinding galeri dan hati para pengagumnya. Ia mungkin telah pergi, tetapi kisah dan inspirasinya akan abadi, seperti halnya seni yang ia ciptakan.
Comments (0)