Oct 14, 2026
entertainment

Menembus Jakarta demi Avenged Sevenfold di JIS

Matahari sore belum sepenuhnya tenggelam ketika Rian, 27 tahun, sudah berdiri di peron Stasiun Tanjung Priok. Punggungnya menempel tas ransel hitam yang bagian depannya masih menempel stiker logo deat...

Menembus Jakarta demi Avenged Sevenfold di JIS

Matahari sore belum sepenuhnya tenggelam ketika Rian, 27 tahun, sudah berdiri di peron Stasiun Tanjung Priok. Punggungnya menempel tas ransel hitam yang bagian depannya masih menempel stiker logo deathbat — lambang legendaris Avenged Sevenfold. Ia memegang ponsel dengan layar menyala, membuka aplikasi transportasi, lalu menghela napas. "Ini perjalanan yang saya tunggu sejak SMA," ujarnya sembari tersenyum tipis. "Dulu cuma bisa nonton konser mereka lewat YouTube. Sekarang, aku benar-benar akan berdiri di depan panggungnya."

Malam itu, Jakarta International Stadium (JIS) memang bukan sekadar stadion sepak bola. Ia berubah menjadi kuil bagi ribuan penggemar band asal Huntington Beach, California, yang datang dari berbagai penjuru. Mereka tak hanya membawa tiket dan atribut, tetapi juga kisah perjalanan masing-masing — tentang mimpi, kesetiaan, dan momen kecil yang membuat perjalanan panjang terasa layak.

Jalan Berliku Menuju Panggung Impian

Bagi mereka yang memilih transportasi umum, perjalanan ke JIS memang menuntut sedikit kesabaran, tetapi justru di situlah cerita sering kali lahir. Salah satu rute yang paling banyak dilalui adalah Transjakarta menuju Halte Tanjung Priok, lalu melanjutkan dengan Mikrotrans menuju kawasan JIS. Ada pula yang memilih KRL hingga Stasiun Ancol, kemudian menyambung dengan Transjakarta koridor 14 yang melintasi sisi utara Jakarta.

Di dalam bus yang lampunya temaram, penumpang dari berbagai usia berbaur. Seorang ayah menggandeng anaknya yang baru duduk di bangku SMP. Seorang perempuan paruh baya membawa termos kecil, siap berbagi air dengan siapa pun yang kehausan. "Kami datang dari Bekasi jam tiga sore," kata Dita, 34 tahun, sambil tersenyum lelah. "Salah naik bus, muter dulu, tapi ya namanya juga pengen nonton. Yang penting sampai.”

Cerita-cerita kecil seperti itu menyentuh satu hal yang jarang dibahas dalam panduan perjalanan mana pun: bahwa perjalanan menuju konser bukan sekadar soal ketepatan waktu. Ia tentang perjuangan kecil untuk meraih kebahagiaan yang sudah lama dinanti.

Antara Kendaraan Pribadi dan Rasa Solidaritas

Bagi yang membawa kendaraan pribadi, tantangan berbeda menanti. Area parkir di sekitar JIS terbatas, sehingga banyak penggemar memilih menitipkan motor di sekitar Sunter atau Papanggo, lalu melanjutkan dengan berjalan kaki. Ada juga yang memanfaatkan layanan park and ride di beberapa titik, lalu berbagi tumpangan dengan sesama penonton yang baru dikenal di grup komunitas daring.

"Justru di situ serunya," ujar Bimo, 22 tahun, yang datang bersama tiga temannya dari Depok. "Kami baru kenal lewat grup Facebook, terus janjian bareng. Sekarang malah kayak sahabat lama." Mereka mengaku sengaja berangkat lebih awal bukan hanya untuk menghindari macet, tetapi juga untuk merasakan atmosfer kebersamaan di sekitar stadion sebelum pertunjukan dimulai.

Solidaritas itu juga terasa di halte dan stasiun. Petugas Transjakarta maupun KRL tampak sibuk mengarahkan penumpang, sementara relawan dari komunitas penggemar ikut membantu menunjukkan jalan. Ada yang membagikan peta rute sederhana yang mereka cetak sendiri, lengkap dengan tulisan tangan: "Hati-hati, jangan sampai nyasar, nanti ketinggalan pembukaan."

Ketika Musik Menyatukan Langkah

Avenged Sevenfold selama ini dikenal lewat lagu-lagu bertema gelap, kehilangan, dan pencarian makna. Namun di JIS malam itu, yang tampak justru kebalikannya: cahaya, tawa, dan pelukan. Seorang penggemar yang mengenakan jaket kulit bertuliskan "Synyster Gates" terlihat mengangkat ponsel, merekam kerumunan sambil menyeka matanya. "Ini pertama kalinya saya nonton konser luar kota sendirian," katanya. "Tapi di sini, saya nggak merasa sendirian."

Bagi banyak orang, perjalanan ke JIS malam itu mengajarkan bahwa jarak bukanlah penghalang utama. Yang paling menentukan adalah niat dan keberanian untuk melangkah, meski harus berganti moda transportasi, berdesakan, atau berjalan kaki di bawah langit Jakarta yang perlahan gelap.

Ketika akhirnya lagu pembuka bergema dari panggung utama, semua lelah itu luruh. Ribuan suara menyatu, mengikuti setiap lirik. Di antara mereka, Rian mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Perjalanan tadi rasanya berat," ucapnya pelan, hampir kalah oleh dentuman musik. "Tapi begitu dengar suara gitar itu, semuanya lunas. Ini bukan cuma konser. Ini tentang mimpi yang akhirnya saya temui."

Malam di JIS itu pun menjadi pengingat sederhana: di balik setiap rute dan jadwal transportasi, ada kisah manusia yang berjuang untuk bahagia, walau hanya untuk satu malam yang menyentuh hati.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User