Oct 14, 2026
entertainment

Ketika Sule, Nathalie, dan Aripmas Memilih Rukun demi Anak

Di sebuah ruang keluarga yang hangat, tawa seorang bocah kecil bergema memecah keheningan. Bukan tawa biasa, melainkan tawa seorang anak yang tumbuh dikelilingi kasih sayang dua orang tua yang telah b...

Ketika Sule, Nathalie, dan Aripmas Memilih Rukun demi Anak

Di sebuah ruang keluarga yang hangat, tawa seorang bocah kecil bergema memecah keheningan. Bukan tawa biasa, melainkan tawa seorang anak yang tumbuh dikelilingi kasih sayang dua orang tua yang telah berpisah jalan. Di sudut ruangan itu, Sule dan Nathalie Holscher duduk berdekatan, sementara Aripmas, pria yang kini mendampingi Nathalie, tersenyum tipis menyaksikan kebersamaan yang jarang terjadi pada keluarga pasca perceraian.

Pemandangan ini bukan adegan sinetron. Ini nyata, dan justru kesederhanaannya yang membuatnya begitu menyentuh. Di tengah badai rumor dan spekulasi publik yang kerap menghantam kehidupan selebritas, tiga orang dewasa ini memilih jalan yang tidak mudah: berdamai dengan masa lalu demi seorang anak yang mereka cintai bernama Adzam.

Perjalanan Panjang Menuju Titik Damai

Mengisahkan perjalanan rumah tangganya, Sule dan Nathalie pernah menjadi sorotan ketika memutuskan menikah pada 2020. Pernikahan itu ibarat oase di tengah gurun kesepian bagi keduanya. Namun takdir berkata lain. Dua tahun kemudian, mereka resmi berpisah. Air mata tentu mengiringi proses itu, terutama bagi Nathalie yang sempat merasakan hangatnya menjadi bagian dari keluarga besar Sule.

"Ada masa di mana saya benar-benar merasa hancur," kenang Nathalie dalam suatu kesempatan, suaranya bergetar saat mengenang momen-momen kelam pasca perceraian. "Tapi saya sadar, menangis terus tidak akan mengubah apa pun. Yang bisa saya lakukan adalah bangkit, demi Adzam."

Kalimat itu bukan sekadar retorika. Perlahan tapi pasti, Nathalie mulai menata hidupnya kembali. Ia menemukan kekuatan baru, bukan hanya sebagai seorang ibu, tetapi juga sebagai perempuan yang ingin membuktikan bahwa luka bisa sembuh.

Aripmas dan Peran yang Tak Terduga

Kehadiran Aripmas dalam hidup Nathalie membawa warna baru. Pria ini bukan sekadar pendamping, melainkan sosok yang memahami lanskap rumit hubungan pasca-perceraian. Ia tidak mencoba menggantikan posisi Sule sebagai ayah. Sebaliknya, ia memilih berjalan berdampingan, menghormati peran yang sudah ada.

"Saya tidak pernah berniat mengambil alih apa pun," ujar Aripmas dengan nada tenang. "Saya hanya ingin ada di samping Nathalie, dan mendukung Adzam tumbuh bahagia. Kalau Sule mau bermain dengan Adzam, silakan. Saya justru senang."

Pernyataan itu sederhana, namun mengandung kedewasaan yang jarang ditemui. Di saat banyak pasangan pasca-cerai memilih bermusuhan, Aripmas justru membuka pintu lebar-lebar untuk kerja sama. Ia sadar, kebahagiaan anak jauh lebih penting daripada ego orang dewasa.

Momen mengharukan pun terjadi ketika ketiganya berada dalam satu ruangan. Tidak ada ketegangan, tidak ada tatapan sinis. Yang ada hanyalah tawa lepas ketika Adzam berlari-lari kecil di antara mereka, memamerkan mainan barunya. Sule, yang biasanya tampil lucu di layar kaca, tampak luluh. Ia tersenyum lebar, memperhatikan putranya yang tumbuh sehat dan ceria.

Pelajaran Berharga dari Sebuah Keluarga Baru

Kisah Sule, Nathalie, dan Aripmas bukanlah dongeng tanpa konflik. Di balik layar, pasti ada perdebatan, ego yang harus ditekan, dan hati yang harus dilunakkan. Namun mereka memilih untuk berjuang, bukan melawan satu sama lain, melainkan melawan sifat egois yang ada dalam diri masing-masing.

"Kuncinya cuma satu: komunikasi," tegas Sule suatu ketika. "Kalau ada masalah, ya dibicarakan. Jangan disimpan. Apalagi kalau menyangkut anak. Adzam itu prioritas."

Nathalie mengangguk setuju. "Saya bersyukur Sule dan Aripmas bisa sejalan. Ini bukan tentang siapa yang menang atau kalah. Ini tentang Adzam yang harus tahu bahwa kedua orang tuanya tetap sayang padanya, meskipun tidak lagi bersama."

Inspirasi dari kisah ini terasa begitu nyata. Di tengah masyarakat yang sering memandang perceraian sebagai akhir dari segalanya, ketiganya membuktikan bahwa babak baru bisa ditulis dengan tinta yang lebih indah. Bukan sebagai pasangan, tetapi sebagai orang tua dan manusia yang memilih untuk saling menghormati.

Momen di ruang keluarga itu mungkin hanya sekilas. Tapi bagi Adzam, kenangan itu akan tersimpan selamanya. Sebuah bukti bahwa cinta tidak selalu harus memiliki. Terkadang, cinta cukup hadir dalam bentuk kedamaian yang dirajut dengan air mata, kesabaran, dan keberanian untuk memaafkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User