Pagi itu, aroma sayur lodeh masih menggantung di dapur kecil milik keluarga Suroso. Tapi Juminten, sang ibu, tak lagi menyambut seperti biasa. Di sudut ruang tamu bercat kusam, perempuan berusia 45 tahun itu hanya duduk diam, jemarinya meremat ujung kebaya lusuh sementara matanya lurus menatap dinding seolah ada bayangan di sana yang tak bisa dilihat siapa pun. Suaminya, Suroso, mengira itu hanya kelelahan. Hingga malamnya, jeritan nyaring memecah sunyi kampung—Juminten berdiri di depan pintu kamar anak bungsunya sambil menggumamkan nama-nama yang tak pernah mereka dengar. Mulai saat itulah rumah yang pernah hangat berubah menjadi panggung teror yang sunyi.
Film Juminten Edan tak sekadar menyajikan kengerian konvensional. Ia mengajak kita masuk lebih dalam: pada trauma yang terpendam, pada luka psikologis yang memilih jalannya sendiri untuk berteriak. Jauh dari bentakan setan atau penampakan hantu bergentayangan, kengerian dalam film ini bersemayam di sudut-sudut hati yang paling rapuh—dan itu yang menjadikannya begitu menggetarkan.
Yang Tak Terucap di Meja Makan
Selama bertahun-tahun, Juminten menjadi ibu yang sempurna dalam diam. Ia memasak, mencuci, mengantar anak sekolah, menata ulang sandal suami yang berantakan—semua dengan senyum tipis yang nyaris tanpa suara. Tapi di balik gerakan-gerakan itu, film ini perlahan membuka tabir: ada peristiwa kelam di masa lalu yang tak pernah diizinkan keluar dari mulutnya. Ada duka yang dikubur dalam-dalam, dan ia memilih menciptakan dunia sendiri saat realitas tak lagi bersahabat.
Ketika perubahan sikapnya mulai terasa, keluarga menganggapnya sebagai gangguan ringan: mungkin kesurupan, mungkin kiriman orang. Tetangga berbisik-bisik. Dukun didatangkan. Namun air dan mantra tak mampu meredam suara-suara di kepala Juminten. Pendekatan film ini terasa begitu jujur—ia menolak menjelaskan semuanya dengan takhayul. Perlahan, penonton digiring ke sebuah kesadaran bahwa yang menggerogoti Juminten adalah trauma mendalam yang tak mendapat tempat untuk bersuara.
Wajah Kasih di Tengah Ketakutan
Di tengah teror yang perlahan meningkat, hubungan antara Juminten dan putri sulungnya, Ratri, menjadi inti yang mengharukan. Ratri, seorang remaja yang mulai tumbuh dewasa, berjuang antara rasa takut dan cinta yang tak mau padam. Ada satu adegan ketika ia mendapati ibunya berdiri kaku di tengah hujan, dan alih-alih menjauh, Ratri justru memeluk tubuh yang basah itu seraya menangis. “Aku kangen Masakan Ibu,” bisiknya, dan kalimat sederhana itu bagai pisau yang membelah hati siapa pun yang menonton. Sebab, di balik segala kengerian, yang sesungguhnya mereka rindukan adalah ibu yang dulu—dan yang mungkin tak akan pernah kembali.
Akting para pemain dalam film ini tak terasa seperti pertunjukan. Setiap tatap, getar suara, sampai gerakan kecil jari-jari Juminten saat ia menggambar pola tak jelas di lantai, membangun empati yang besar. Penonton diajak untuk tidak menghakimi, melainkan bertanya dengan hati yang terbuka: apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana?
Ruang di Antara Edan dan Dilupakan
Pilihan kata “edan” di judul film ini terasa sengaja memprovokasi. Di masyarakat kita, kata itu kerap dilempar dengan ringan pada mereka yang berperilaku di luar nalar, tanpa mencoba menyelami akar permasalahannya. Juminten Edan seakan membalikkan stigma itu ke wajah kita. Ia mempertanyakan, sudahkah kita benar-benar mendengar? Atau justru kita yang lebih nyaman melabeli dan menyingkirkan?
Salah satu kekuatan film ini adalah cara ia menolak menjawab semua pertanyaan. Ada ruang-ruang hening yang ditinggalkan, membiarkan penonton membawa pulang kegelisahan sendiri. Adegan terakhir—sebuah jendela yang terbuka pelan, dengan suara angin yang seperti bisik—tak memberi kepastian apakah Juminten akhirnya sembuh atau semakin tenggelam. Tapi justru di sanalah pesan utamanya: proses penyembuhan tak selalu berjalan lurus, dan sering kali ia dimulai dari keberanian untuk tidak lagi menyembunyikan luka.
Lebih dari sekadar tontonan, film ini adalah undangan untuk menengok kembali ruang-ruang dalam keluarga kita sendiri. Barangkali ada Juminten lain yang diam-diam menahan tangis di dapur, atau seorang Ratri yang bingung harus berbuat apa. Bukan sekadar hantu yang menakutkan, melainkan ketidakpedulian kita yang sesungguhnya jadi teror paling hening di rumah sendiri.
Comments (0)