Kabar melegakan datang dari lanskap pendidikan Filipina. Hasil terbaru dari asesmen global Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan adanya peningkatan peringkat dan performa akademik siswa di negara kepulauan tersebut. Namun, pencapaian ini justru tidak serta-merta membuat para pembuat kebijakan berpuas diri.
Senator Filipina Sherwin Gatchalian secara terbuka mengingatkan bahwa momentum positif ini harus dijadikan titik awal untuk berbenah lebih dalam. Menurutnya, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu melakukan evaluasi total terhadap berbagai kebijakan pendidikan guna menuntaskan krisis pembelajaran yang telah lama mengakar.
Dorongan Evaluasi Kebijakan dan Aksi Kolektif
Dalam pernyataannya di Manila pada hari Rabu, Gatchalian menegaskan bahwa keberhasilan menaikkan peringkat PISA bukanlah garis akhir, melainkan sinyal penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. Mengatasi ketertinggalan pendidikan membutuhkan gotong royong dari berbagai pihak, mulai dari tingkat kementerian hingga komunitas sekolah.
“Hasil PISA terbaru ini menggarisbawahi perlunya upaya kolektif dan kolaborasi yang lebih solid untuk mengatasi krisis pendidikan di negara kita secara tuntas,” tegas Gatchalian dalam keterangan resminya.
Gatchalian, yang selama ini dikenal vokal memperjuangkan reformasi sistem belajar mengajar, menilai bahwa tantangan di ruang kelas masih sangat nyata. Kesenjangan kualitas pengajaran, keterbatasan sarana prasarana, serta disparitas akses antara kawasan perkotaan dan pelosok daerah masih menjadi pekerjaan rumah berat yang menuntut aksi nyata.
Fokus Utama untuk Mempertahankan Tren Positif
Agar capaian manis di PISA tidak sekadar menjadi anomali sesaat, Gatchalian mendorong agar reformasi kurikulum dan intervensi pembelajaran difokuskan pada sejumlah pilar kunci:
- Peningkatan Kualitas Tenaga Pendidik: Pelatihan berkelanjutan bagi guru agar mampu menerapkan metode pembelajaran berbasis nalar kritis dan literasi sains modern.
- Penguatan Fondasi Literasi dan Numerasi: Memberikan perhatian ekstra pada jenjang pendidikan dasar agar siswa memiliki bekal pemahaman yang kokoh sejak dini.
- Evaluasi Anggaran dan Infrastruktur: Memastikan alokasi dana pendidikan terserap secara tepat sasaran, terutama untuk perbaikan fasilitas sekolah di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
- Kemitraan Komunitas dan Orang Tua: Melibatkan keluarga dan masyarakat secara aktif dalam memantau perkembangan belajar anak di luar lingkungan sekolah.
Langkah Strategis Menuju Transformasi Jangka Panjang
Asesmen PISA yang diinisiasi oleh OECD memang menjadi salah satu tolak ukur paling bergengsi dalam mengukur kemampuan literasi membaca, matematika, dan sains siswa usia 15 tahun di seluruh dunia. Bagi negara-negara berkembang di kawasan Asia Tenggara, skor PISA kerap menjadi cermin yang memperlihatkan seberapa adaptif sistem pendidikan nasional dalam merespons tuntutan zaman.
Meningkatnya posisi Filipina membuktikan bahwa sejumlah inisiatif pemulihan pascapandemi mulai membuahkan hasil. Kendati demikian, tanpa adanya evaluasi kebijakan yang berani dan terstruktur, perbaikan ini dikhawatirkan sulit berkelanjutan. Kini, bola berada di tangan para pembuat kebijakan untuk membuktikan bahwa pendidikan tetap menjadi prioritas utama demi masa depan generasi penerus bangsa.
Comments (0)