Sore itu, di tengah riuh rendah pengunjung Plaza Senayan, Jakarta, seorang pria berdiri cukup lama di depan sebuah kotak kaca pamer. Tatapannya lembut, nyaris tak berkedip, tertuju pada sebuah jam tangan berdesain tegas yang berbaring tenang di dalamnya. Pria itu adalah Naoya Sukeda, Design Director of SEIKO Selection Team. Dan jam tangan yang ia pandangi bukan sekadar penunjuk waktu — melainkan Machining Marks, karya yang lahir dari tangan, pikiran, serta kesabaran yang ia rawat selama bertahun-tahun.
Pada Selasa, 21 Juli 2026, karya tersebut akhirnya dipertontonkan kepada publik dalam gelaran Power Design Project 2026. Bagi Sukeda, momen ini jelas bukan sekadar pameran biasa. Ini adalah sebuah perjalanan panjang yang menemukan titik temunya — momen mengharukan ketika sesuatu yang selama ini hanya hidup di atas meja kerja, di antara sketsa dan prototipe, akhirnya bisa dilihat dan diapresiasi oleh banyak pasang mata.
Panggung bagi Para Perancang
Power Design Project bukanlah pameran jam tangan biasa. Ia adalah ruang bermain sekaligus medan uji bagi para desainer SEIKO untuk berani keluar dari garis aman. Di sini, para perancang diajak menanyakan kembali hal yang paling mendasar: untuk apa sebuah jam tangan sesungguhnya dibuat, dan bagaimana ia bisa bercerita lebih jauh daripada sekadar angka, jarum, dan detak?
Suasana di area pamer sore itu terasa hangat. Pengunjung bergerak perlahan dari satu kotak kaca ke kotak kaca berikutnya, sesekali berbisik kagum, sesekali terdiam merenung. Ada kesan kuat bahwa setiap karya di ruangan itu membawa kisahnya masing-masing — dan Machining Marks menjadi salah satu yang paling banyak mengundang rasa penasaran, berkat tampilannya yang jujur dan tak biasa.
Machining Marks: Merayakan Jejak yang Biasanya Disembunyikan
Nama Machining Marks menyimpan filosofi yang sederhana namun menyentuh. Dalam proses pembuatan jam tangan, jejak-jejak mesin — guratan halus hasil pemotongan logam — biasanya dihilangkan, dipoles berulang kali hingga tak bersisa, demi mengejar kesempurnaan tampilan. Namun Sukeda justru memilih jalan sebaliknya. Ia merayakan jejak itu, mengangkatnya ke permukaan, dan menjadikannya sumber keindahan utama dari karyanya.
Ada sesuatu yang sangat jujur dari pilihan desain semacam ini. Ia seakan mengingatkan kita bahwa proses tidak selalu harus disembunyikan demi hasil akhir yang mulus. Bahwa bekas perjuangan — dalam hal ini guratan mesin pada permukaan logam — justru dapat menjadi bagian paling berharga dari sebuah karya. Sebuah gagasan yang terasa begitu dekat dengan kehidupan manusia itu sendiri: luka dan jejak masa lalu sering kali justru membentuk siapa diri kita hari ini.
Di Balik Layar Sebuah Karya
Menjadi seorang Design Director tidak lantas membuat Sukeda berjarak dari meja kerjanya. Di balik layar, ia dikenal sebagai sosok yang meyakini bahwa desain terbaik lahir dari kesabaran — dari keberanian untuk memandang ulang hal-hal kecil yang selama ini dianggap sudah selesai. Machining Marks adalah buah dari keyakinan tersebut, sebuah karya yang membuktikan bahwa keindahan bisa ditemukan di tempat yang paling tidak disangka-sangka.
Di tengah area pameran, Sukeda berpose di samping karyanya. Tidak ada gestur yang berlebihan, tidak ada sorak sorai. Hanya seorang perancang dan jam tangannya, berdiri berdampingan seperti dua kawan lama yang akhirnya tiba di tujuan. Bagi banyak pengunjung yang hadir, pemandangan itu sendiri sudah menjadi sebuah cerita — tentang mimpi yang dijaga dalam diam, tentang perjuangan yang tak selalu terlihat, dan tentang keberanian untuk terus bangkit setiap kali sebuah desain harus diulang dari awal.
Inspirasi yang Bergerak Pelan Seperti Detak Jarum Jam
Kehadiran Power Design Project 2026 di Jakarta membawa pesan tersendiri. Ia menunjukkan bahwa Indonesia menjadi bagian penting dari percakapan desain global — bahwa apresiasi terhadap karya yang jujur dan berkarakter terus tumbuh di sini, di tengah masyarakat yang semakin mencintai kisah di balik sebuah benda, bukan hanya wujud luarnya semata.
Dan ketika lampu pameran akhirnya diredupkan pada malam harinya, Machining Marks tetap berbaring tenang di dalam kotak kacanya. Guratan-guratan halus di permukaannya memantulkan cahaya samar — seolah mengingatkan siapa pun yang melihatnya bahwa setiap jejak perjalanan, sekecil apa pun, pada akhirnya layak untuk dirayakan.
Comments (0)