Di sebuah sudut sederhana di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, seorang gadis muda sering terlihat berlatih vokal di teras rumahnya yang beralas tanah. Suaranya mengalun lembut, sesekali mencuri perhatian tetangga yang lalu lalang. Gadis itu adalah Listen, peserta D'Academy 8 yang kini menjadi buah bibir karena vokalnya yang memikat. Namun, di balik panggung gemerlap yang kini ia pijak, tersimpan perjalanan panjang penuh air mata dan mimpi yang nyaris padam.
Langkah Pertama dari Sebuah Desa Kecil
Listen lahir dan besar di sebuah desa yang jauh dari hingar-bingar industri musik. Sejak usia sembilan tahun, ia sudah menunjukkan kecintaannya pada dunia tarik suara. Tanpa akses mudah ke alat musik modern, ia sering menjadikan radio tua milik ayahnya sebagai satu-satunya sumber belajar. Setiap hari, saya menunggu siaran musik dangdut di radio itu. Kalau lagunya tidak diputar, saya menyanyi sendiri sambil mengingat-ingat melodinya, kenang Listen, matanya berkaca-kaca.
Kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas tak membuatnya patah arang. Sebaliknya, keterbatasan itu menjadi bara semangat yang terus ia nyalakan. Di sekolah, ia dikenal sebagai murid yang tak pernah absen dalam setiap lomba menyanyi, meskipun sering pulang dengan tangan hampa. Kata ibu, menang atau kalah bukan ukuran. Yang penting saya berani tampil dan terus belajar, ucapnya pelan.
Momen Mengharukan di Atas Panggung
Ketika namanya dipanggil sebagai salah satu peserta D'Academy 8, Listen mengaku hampir tidak percaya. Ia mengingat kembali detik-detik saat pertama kali melangkah ke panggung besar itu, dengan lampu sorot yang begitu terang dan ribuan pasang mata yang menantinya. Kaki saya gemetar, tapi di dalam hati saya berbisik, ini saatnya saya membuktikan bahwa anak desa juga bisa berdiri di sini, tuturnya dengan suara bergetar.
Di balik layar, perjuangan Listen jauh dari kata mudah. Ia harus menyesuaikan diri dengan teknik vokal yang lebih kompleks, jam latihan yang panjang, dan tekanan mental yang tak jarang membuatnya ingin menyerah. Namun, dukungan dari keluarga di Kendal, terutama sang ibu yang selalu mengirim doa melalui telepon genggam butut, menjadi kekuatan utamanya. Setiap kali mau menyerah, saya ingat wajah ibu yang selalu bilang, 'Kamu pasti bisa, Nak', kenangnya.
Mengubah Luka Menjadi Lagu
Ada satu pengalaman pahit yang turut membentuk karakter kuat Listen. Sebelum mengikuti D'Academy, ia pernah ditolak dari sebuah ajang pencarian bakat tingkat regional karena dianggap kurang menarik secara penampilan. Penolakan itu sempat membuatnya terpuruk dan meragukan dirinya sendiri. Namun, dari situlah Listen justru menemukan jati dirinya. Dulu saya menangis berhari-hari. Tapi sekarang saya sadar, suara saya adalah senjata utama. Kalau saya bisa menyentuh hati orang dengan suara ini, kenapa harus takut? ujarnya mantap.
Sifatnya yang rendah hati dan selalu ingin belajar membuat Listen cepat mendapat tempat di hati para pelatih dan sesama peserta. Salah satu pelatih bahkan mengatakan bahwa Listen memiliki kairos—sebuah penghayatan rasa yang jarang dimiliki penyanyi seusianya. Dia tidak sekadar menyanyikan lagu, dia menghidupkannya, kata pelatih tersebut dalam sebuah sesi latihan.
Inspirasi untuk Generasi Penerus
Kini, Listen menjadi sosok inspiratif bagi banyak orang, terutama anak-anak muda di Kendal yang memiliki mimpi serupa. Ia sering membagikan kisahnya di sela-sela waktu luang, mengunjungi sanggar-sanggar tari dan musik di desanya, atau sekadar bertemu dengan fans kecil yang mengidolakannya. Saya ingin mereka tahu bahwa mimpi itu tidak mengenal batas. Selama kita mau berjuang, selama itu pula jalan akan terbuka, tegas Listen.
Di tengah popularitasnya yang kian meningkat, Listen tetap berpegang pada akar budayanya. Setiap penampilannya di D'Academy selalu ia sisipkan sentuhan lokal Kendal, baik melalui pemilihan lagu maupun akses panggung. Ini adalah cara saya berterima kasih pada tanah kelahiran. Dari sini langkah saya dimulai, dan ke sini pula saya akan kembali, pungkasnya.
Dengan vokal yang penuh perasaan dan ketulusan yang terpancar dari setiap geraknya, Listen bukan sekadar kontestan—ia adalah penyampai pesan bahwa dari sebuah desa kecil, bisa lahir suara yang menggetarkan dunia. Perjalanannya masih panjang, tapi satu hal yang pasti: Listen telah mengajarkan kita bahwa setiap langkah kecil yang dijalani dengan cinta, kelak akan menjadi kisah besar yang abadi.
Comments (0)