Sep 19, 2026
Hukum

Lima Tahun Pasukan AS Hengkang, Afghanistan Terjebak Isolasi dan Kemiskinan

Lima tahun telah berlalu sejak pasukan militer Amerika Serikat resmi menarik diri dari Afghanistan. Kini, negara di kawasan Asia Selatan tersebut tidak lag

Lima Tahun Pasukan AS Hengkang, Afghanistan Terjebak Isolasi dan Kemiskinan

Lima tahun telah berlalu sejak pasukan militer Amerika Serikat resmi menarik diri dari Afghanistan. Kini, negara di kawasan Asia Selatan tersebut tidak lagi berada di bawah dentuman bom atau desingan peluru serangan udara yang selama dua dekade menghantui kehidupan warganya. Jalanan di Kabul kembali ramai, pasar-pasar tradisional dipadati pembeli, dan ketenangan fisik mulai terasa di berbagai pelosok desa. Namun, di balik berakhirnya konflik bersenjata, Afghanistan kini menghadapi babak baru yang tidak kalah berat: kemiskinan ekstrem dan isolasi diplomatik global di bawah kekuasaan Taliban.

Sebuah laporan dokumenter mendalam yang dipimpin oleh jurnalis Runjhun Sharma menelusuri wilayah di luar gemerlap ibu kota Kabul. Penelusuran ini mengungkap realitas kehidupan masyarakat biasa yang harus bertahan di tengah krisis pangan, jeratan sanksi finansial internasional, serta aturan sosial yang ketat.

Jejak Luka yang Menolak Padam

Bagi sebagian besar warga Afghanistan, berakhirnya invasi militer asing tidak serta-merta menghapus trauma masa lalu. Di sebuah desa dekat bekas pangkalan militer AS, puing-puing bangunan menjadi saksi bisu tragedi kemanusiaan yang mendalam. Mohammed Saabr, seorang warga lokal, menceritakan kembali kepedihan saat kehilangan tujuh anggota keluarganya dalam satu operasi militer AS bertahun-tahun silam.

"Perang mungkin telah resmi berakhir bagi dunia luar, tetapi bagi kami yang kehilangan keluarga dan rumah, kepedihan ini tidak akan pernah menjadi sekadar sejarah," tutur Saabr dengan nada getir.

Kisah Saabr mencerminkan luka kolektif jutaan warga yang kini harus membangun kembali kehidupan mereka secara mandiri, nyaris tanpa bantuan kompensasi atau dukungan rekonstruksi berskala besar.

Runtuhnya Industri Opium dan Krisis Petani

Salah satu perubahan paling mencolok di bawah rezim Taliban adalah penegakan hukum terhadap sektor pertanian ilegal. Bertahun-tahun operasi antinarkoba pimpinan AS gagal membendung produksi opium, namun Taliban memberlakukan larangan total terhadap penanaman bunga poppy di seluruh wilayah perbatasan.

Berikut adalah perbandingan dinamika ekonomi dan keamanan Afghanistan sebelum dan sesudah lima tahun penarikan pasukan AS:

  • Produksi Opium: Sempat mendominasi suplai pasar gelap global, kini anjlok drastis akibat pemberlakuan fatwa keras Taliban.
  • Kondisi Keamanan: Berhentinya serangan udara dan pertempuran terbuka antarfaksi militer besar.
  • Sektor Ekonomi: Terputusnya aliran bantuan luar negeri menyebabkan krisis likuiditas perbankan dan melonjaknya angka pengangguran.

Meskipun pemberantasan opium dinilai sebagai langkah sukses di mata hukum, kebijakan ini menjadi pukulan telak bagi ratusan ribu petani miskin yang sebelumnya menggantungkan hidup pada komoditas tersebut, tanpa adanya alternatif tanaman pangan yang memberikan nilai ekonomi sepadan.

Upaya Pengakuan Internasional yang Buntu

Di panggung diplomasi, para pejabat Taliban terus berupaya meyakinkan komunitas internasional bahwa pemerintahan mereka layak mendapatkan pengakuan resmi serta akses kembali ke sistem perbankan dunia. Namun, pembatasan ketat terhadap hak-hak perempuan serta kebebasan sipil menjadi penghalang utama yang membuat banyak negara enggan membuka hubungan bilateral formal. Akibatnya, jutaan rakyat biasa terjebak di tengah sengketa geopolitik yang tak berkesudahan.

Meski perang bersenjata telah reda, isolasi diplomatik dan anjloknya ekonomi membuat jutaan warga terjebak dalam krisis pangan. Simak ulasan lengkapnya di artikel berikut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User