Oct 14, 2026
entertainment

Lima Kali Gugat, Ari Bias dan Agnez Mo di Pusaran Sengketa Lagu

Di sebuah ruang sidang yang lampu neonnya menyala redup, aroma kertas dokumen bercampur dengan ketegangan yang tak kasatmata. Seorang pria paruh baya duduk di kursi penggugat, jemarinya menggenggam be...

Lima Kali Gugat, Ari Bias dan Agnez Mo di Pusaran Sengketa Lagu

Di sebuah ruang sidang yang lampu neonnya menyala redup, aroma kertas dokumen bercampur dengan ketegangan yang tak kasatmata. Seorang pria paruh baya duduk di kursi penggugat, jemarinya menggenggam berkas tebal berisi notasi musik dan salinan surat perjanjian. Namanya Ari Bias, seorang pencipta lagu yang telah puluhan tahun menghidupi dunia musik Indonesia dari balik layar. Kali ini, untuk kelima kalinya, ia kembali mengajukan gugatan terhadap sejumlah pihak, termasuk penyanyi Agnez Mo, atas lagu berjudul Bilang Saja. Bukan sekadar urusan administrasi, gugatan ini menyimpan luka panjang seorang pencipta yang merasa karyanya diperlakukan sekadar angka.

Bagi Ari, lagu bukanlah komoditas yang bisa dikirim dan dilupakan begitu saja. Bilang Saja adalah potongan hidupnya — malam-malam panjang di studio sederhana, secangkir kopi dingin, dan harapan bahwa nada-nada itu akan menemukan rumah di hati pendengar. Ketika lagu itu dinyanyikan orang lain dan bergema di panggung-panggung besar, ada rasa bangga yang bercampur getir. Ia mengisahkan bagaimana sebuah karya bisa menjelma wajah orang lain, sementara sang pencipta hanya disebut dalam huruf kecil di belakang sampul.

Jalan Panjang Seorang Pencipta di Balik Layar

Perjalanan Ari Bias tidak dimulai dari panggung megah. Ia tumbuh dari kebiasaan menulis lirik di buku tulis yang lusuh, menghafal melodi dengan cara menyenandungkannya di bawah lampu kamar. Dunia musik Indonesia mengenalnya sebagai sosok yang tekun, meski jarang tersorot kamera. Lagu-lagu ciptaannya mengalir dari satu penyanyi ke penyanyi lain, menjadi tembang yang dinyanyikan di kafe, acara keluarga, hingga kompetisi menyanyi. Namun di balik setiap nada yang indah, tersimpan pertanyaan yang tak pernah selesai: bagaimana seorang pencipta memastikan haknya dihargai?

Gugatan kelima ini bukan sekadar angka. Ia adalah pengingat bahwa perjalanan hukum di Indonesia bagi pencipta lagu sering kali terasa seperti labirin tanpa ujung. Ari berjuang bukan demi sensasi, melainkan demi kejelasan. Ia ingin generasi penulis lagu berikutnya tidak perlu menempuh lima kali gugatan hanya untuk mendapatkan pengakuan yang semestinya.

Ketika Nada Bertemu Hukum

Di dalam ruang mediasi, suasana kerap berubah tegang. Pihak-pihak yang berselisih duduk berhadapan, berbicara dalam bahasa pasal dan ayat, sementara di luar sana lagu itu tetap diputar di radio dan platform digital. Ada paradoks yang menyentuh: sebuah karya yang lahir dari keindahan justru berakhir di meja perundingan yang dingin. Ari menyebut proses ini sebagai ujian kesabaran. Ia belajar bahwa memperjuangkan hak cipta bukan tentang menang atau kalah, melainkan tentang meninggalkan jejak keadilan.

Agnez Mo, sebagai salah satu pihak yang digugat, berada di posisi yang tak mudah. Namanya besar, karirnya mendunia, dan setiap langkahnya diawasi publik. Sengketa ini bukan sekadar urusan pribadi, melainkan cermin bagaimana industri musik menempatkan penyanyi dan pencipta dalam relasi yang sering timpang. Di balik gemerlap panggung, ada pencipta yang menunggu di belakang layar, berharap namanya disebut dengan hormat.

“Saya tidak menuntut lebih dari apa yang seharusnya. Saya hanya ingin karya saya dihargai sebagai karya, bukan sekadar pelengkap,” ujar Ari dalam suatu kesempatan, matanya berkaca-kaca.

Kalimat itu sederhana, namun menyimpan beban bertahun-tahun. Ia bukan sekadar berbicara tentang royalti, tetapi tentang martabat. Seorang pencipta yang melihat lagunya dinyanyikan ribuan kali di berbagai panggung tentu berharap ada timbal balik yang adil, bukan sekadar pengakuan lisan.

Harapan yang Tak Pernah Padam

Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter di rumahnya, Ari menyimpan rak berisi kaset dan CD lama. Setiap benda itu punya cerita. Ada yang mengingatkan pada masa muda, ada pula yang menjadi saksi perjuangan panjangnya. Ia tak pernah berhenti menulis, meski badai sengketa menghampiri. Baginya, menciptakan lagu adalah cara mencintai kehidupan, dan memperjuangkan hak adalah cara menghormati cinta itu sendiri.

Gugatan kelima ini mungkin akan memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Namun Ari memilih untuk tetap melangkah. Ia berharap suatu hari nanti, sistem perlindungan hak cipta di Indonesia tidak lagi membuat pencipta harus berjuang lima kali untuk satu lagu. Ia bermimpi tentang ekosistem musik yang sehat, di mana penyanyi dan pencipta berjalan seiring, saling menghargai, tanpa perlu saling menggugat.

Kisah Ari Bias dan Agnez Mo bukanlah drama tentang siapa yang benar dan salah semata. Ini adalah kisah tentang manusia-manusia yang hidup dari nada, tentang mimpi yang dirajut dari suara, dan tentang keberanian untuk bangkit meski berkali-kali harus memulai dari awal. Di balik setiap lagu yang kita nyanyikan, ada air mata, ada perjuangan, dan ada harapan yang tak pernah benar-benar padam. Mungkin sudah waktunya kita berhenti sekadar mendengar, dan mulai menghargai mereka yang menuliskan nada-nada itu dengan sepenuh hati.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User