Di sebuah ruang kerja sederhana yang penuh tumpukan dokumen dan berkas hukum, Ari Bias duduk termenung. Di depannya terbentang lembaran-lembaran yang mencatat perjalanan panjang sebuah lagu berjudul Bilang Saja — karya yang ia ciptakan dengan sepenuh hati, namun kini menjadi pusat dari pertempuran hukum yang tak kunjung usai. Ini adalah kali kelima ia melangkah ke ruang sidang, memperjuangkan apa yang ia yakini sebagai haknya.
"Saya tidak pernah membayangkan harus sejauh ini," ujarnya lirih, suara berat menahan beban yang tak kasat mata. "Tapi kalau bukan saya yang memperjuangkan, siapa lagi?"
Perjalanan Ari Bias menggugat sejumlah pihak, termasuk penyanyi Agnez Mo, bukanlah kisah yang dimulai kemarin. Ia mengisahkan bagaimana lagu Bilang Saja lahir dari momen sederhana — sebuah perenungan di malam sunyi yang kemudian ia tuangkan menjadi melodi dan lirik. Lagu itu ia percayakan untuk dibawakan, dengan harapan karya kecilnya bisa hidup dan dinikmati banyak orang. Namun, harapan itu perlahan berubah menjadi kekecewaan ketika ia merasa haknya sebagai pencipta tak sepenuhnya dihormati.
"Lagu itu seperti anak saya sendiri. Saya hanya ingin diperlakukan sebagai seorang bapak yang berhak tahu ke mana anaknya pergi," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Perjalanan Panjang Sebuah Perjuangan
Gugatan demi gugatan ia lalui. Lima kali ia mengajukan tuntutan, lima kali pula ia harus menata ulang harapan yang sempat retak. Bagi banyak orang, angka lima mungkin hanya sebuah bilangan. Namun bagi Ari, setiap angka mewakili air mata, waktu yang tersita, dan energi yang terkuras. Ia mengaku sempat lelah, bahkan hampir menyerah. Tetapi ada satu hal yang membuatnya bangkit kembali: keyakinan bahwa pencipta lagu berhak mendapatkan keadilan atas karyanya.
"Setiap kali rasa lelah datang, saya duduk di ruangan ini dan mendengarkan kembali lagu itu," ujarnya sambil menunjuk sebuah pengeras suara kecil di sudut ruangan. "Di situ saya ingat kenapa saya mulai. Saya menciptakan lagu bukan untuk berkelahi, tapi untuk dibagi."
Di balik layar, istrinya menjadi saksi bisu perjuangan itu. Ia menuturkan bagaimana suaminya kerap terjaga hingga dini hari, membaca berkas, mencatat, dan menenangkan diri. "Saya hanya bisa mendampingi," katanya. "Kadang ia diam lama sekali. Tapi saya tahu, di dalam hatinya ia sedang berjuang untuk sesuatu yang ia anggap benar."
Suara dari Balik Layar
Kasus ini menyentuh banyak pihak di industri musik tanah air. Bukan semata soal satu lagu, melainkan tentang bagaimana pencipta karya dilindungi dan dihargai. Ari kerap menerima pesan dari pencipta lagu lain yang merasakan hal serupa. Mereka bercerita tentang nasib yang tak jauh berbeda — karya mereka dibawakan, dinikmati, tetapi hak mereka seringkali terabaikan.
"Banyak yang bilang ke saya, 'Bang, jangan berhenti. Kalau abang berhenti, kami juga tak punya harapan,'" kenangnya. Kata-kata itu, menurut Ari, menjadi bahan bakar yang membuatnya terus melangkah meski jalan terasa menanjak.
"Saya tidak menuntut lebih. Saya hanya ingin ada pengakuan. Sebuah karya lahir dari keringat, dan keringat itu layak dihargai," tegasnya.
Asa yang Tak Pernah Padam
Memasuki gugatan kelima, Ari Bias memilih untuk tetap optimistis. Ia menyadari bahwa perjalanan ini mungkin masih panjang, namun ia percaya pada proses. Baginya, memperjuangkan hak bukanlah tentang menang atau kalah, melainkan tentang meninggalkan warisan keadilan bagi generasi pencipta lagu berikutnya.
Di akhir perbincangan, ia tersenyum tipis. "Saya ingin nanti, kalau anak saya bertanya, saya bisa bilang: ayah dulu pernah memperjuangkan sesuatu yang benar, dan ayah tidak menyerah."
Kisah Ari Bias adalah kisah tentang seorang manusia biasa yang berjuang dengan cara luar biasa. Di sudut ruangan berukuran tak lebih dari ruang keluarga itu, ia menyimpan mimpi sederhana: agar sebuah lagu, sekecil apa pun, diperlakukan dengan hormat. Dan selama mimpinya itu masih bernyawa, Ari Bias akan terus berdiri — bukan sebagai penggugat, tetapi sebagai pencipta yang memperjuangkan karyanya dengan segenap hati.
Comments (0)