Oct 12, 2026
entertainment

Lima Kali Ari Bias Menggugat, Sebuah Perjalanan Panjang Sebuah Lagu

Di sebuah ruang sidang yang dingin dan penuh berkas, seorang pria paruh baya duduk dengan raut lelah namun tegas. Ari Bias, pencipta lagu yang telah malang melintang di industri musik Indonesia selama...

Lima Kali Ari Bias Menggugat, Sebuah Perjalanan Panjang Sebuah Lagu

Di sebuah ruang sidang yang dingin dan penuh berkas, seorang pria paruh baya duduk dengan raut lelah namun tegas. Ari Bias, pencipta lagu yang telah malang melintang di industri musik Indonesia selama puluhan tahun, kembali harus menghadapi kenyataan pahit yang sudah kelima kalinya ia alami. Kali ini, ia menggugat sejumlah pihak, termasuk penyanyi Agnez Mo, terkait hak cipta lagu Bilang Saja yang ia ciptakan. Bagi banyak orang, angka lima mungkin hanya sebuah bilangan. Namun bagi Ari, itu adalah lima kali perjalanan panjang, lima kali ia harus mengumpulkan keberanian, dan lima kali ia harus menahan perih di dada.

Di Balik Lagu yang Tak Pernah Ia Lupakan

Ari mengisahkan bahwa Bilang Saja bukan sekadar deretan lirik dan nada. Lagu itu lahir dari momen sederhana dalam hidupnya, sebuah perasaan yang ia tuangkan ke dalam notasi dan kata. "Setiap kali saya mendengar lagu itu dinyanyikan orang lain, ada rasa bangga sekaligus sedih," ujarnya dengan suara pelan, hampir berbisik. Baginya, lagu adalah anak kedua yang harus ia lindungi. Ketika hak cipta dipertanyakan, ia merasa seperti seorang ayah yang harus berjuang mempertahankan nama baik anaknya.

Perjalanan gugatan ini tidaklah singkat. Ari telah menempuh berbagai upaya, mulai dari somasi, mediasi, hingga jalur pengadilan. Namun, hasilnya seringkali tidak sesuai harapan. Lima kali menggugat bukanlah tanda ia keras kepala, melainkan bukti bahwa ia tidak akan pernah menyerah. "Saya tidak mencari sensasi. Saya hanya ingin keadilan," tegasnya dalam sebuah wawancara beberapa waktu lalu. Kalimat itu keluar dari mulut seorang pria yang telah kehilangan banyak waktu, tenaga, dan mungkin sebagian ketenangan hidupnya.

Ketika Mimpi Harus Berhadapan dengan Kenyataan

Industri musik Indonesia memang dikenal sebagai ladang kreativitas yang subur. Namun di balik gemerlap panggung dan sorotan lampu, ada banyak pencipta lagu yang harus berjuang sendiri ketika karya mereka digunakan tanpa izin. Ari Bias adalah salah satu dari sekian banyak sosok yang merasakan getirnya. Ia mengaku pernah merasa sendirian, bahkan di antara rekan-rekan seprofesinya. "Banyak yang bilang, sudah ikhlaskan saja. Tapi bagaimana bisa ikhlas kalau ini soal hak dan penghidupan?" ujarnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Saya tidak menuntut lebih. Saya hanya ingin dihargai sebagai pencipta. Kalau bukan saya yang memperjuangkan, siapa lagi?"

Kutipan itu menjadi cermin dari kegigihannya. Ari sadar, langkahnya ini mungkin tidak populer di sebagian kalangan. Namun ia percaya, ada nilai lebih besar yang ia perjuangkan, yakni masa depan pencipta lagu di Indonesia. Ia berharap, apa yang ia lakukan bisa menjadi preseden baik bagi generasi musisi berikutnya. "Jangan sampai mereka merasakan apa yang saya rasakan," tambahnya.

Air Mata di Balik Gugatan Kelima

Dalam persidangan kelima ini, Ari datang dengan ditemani beberapa kolega dan keluarganya. Salah seorang kerabatnya mengaku melihat Ari sempat menitikkan air mata sebelum masuk ke ruang sidang. "Beliau ini kuat di luar, tapi saya tahu hatinya rapuh. Sudah terlalu banyak yang beliau korbankan," ujar kerabat tersebut. Momen itu menjadi potret manusiawi dari sebuah sengketa hukum yang seringkali hanya dipandang sebagai urusan hitam-putih. Padahal, di dalamnya ada perasaan, kenangan, dan harapan yang terjalin erat.

Agnez Mo sendiri, sebagai salah satu pihak yang digugat, belum memberikan komentar resmi terkait gugatan kelima ini. Namun bagi Ari, apapun hasilnya nanti, ia sudah memenangkan satu hal: keberanian untuk terus berdiri. "Saya sudah lelah, tapi saya tidak akan mundur. Ini soal prinsip," pungkasnya. Kalimat itu menggema di lorong pengadilan, seolah menjadi doa sekaligus sumpah seorang pencipta lagu yang tak ingin karyanya dilupakan begitu saja.

Kisah Ari Bias adalah cermin dari perjuangan banyak seniman di negeri ini. Di balik setiap lagu yang kita nyanyikan, ada tangan yang menulis, ada hati yang merangkai, dan ada mimpi yang dipertaruhkan. Lima kali gugatan mungkin terdengar melelahkan, tetapi bagi Ari, itu adalah lima kali ia membuktikan bahwa karyanya layak diperjuangkan. Dan bagi kita, mungkin sudah saatnya untuk lebih menghargai mereka yang menciptakan, bukan hanya yang menyanyikan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User