Di sebuah ruang pertemuan di Jakarta, sore itu udara terasa hangat meski pendingin ruangan menyala sejak siang. Puluhan sineas, produser, dan pekerja film duduk berdampingan dengan wajah penuh penantian. Ketika nama Fauzan Zidni akhirnya diumumkan sebagai Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) periode 2026 hingga 2029 pada April 2026, ruangan itu pecah oleh tepuk tangan. Ada senyum, ada pelukan, bahkan ada air mata yang jatuh tanpa malu-malu — seolah semua orang yang hadir tahu, sebuah babak baru perfilman Indonesia baru saja dibuka.
Bagi para pelaku industri, pergantian kepemimpinan di tubuh BPI bukanlah sekadar rotasi jabatan. Ia adalah estafet mimpi, sebuah tongkat perjuangan yang berpindah tangan untuk membawa sinema Tanah Air melangkah lebih jauh dari sebelumnya.
Perjalanan Menuju Kursi Nahkoda
Fauzan Zidni bukanlah wajah baru di balik layar perfilman Indonesia. Bertahun-tahun ia berjuang sebagai produser, merawat karya-karya yang lahir dari tangan dingin para sutradara muda, dan memastikan cerita-cerita lokal menemukan penontonnya. Perjalanan panjang itu membentuknya menjadi sosok yang memahami betul denyut nadi industri — dari hiruk pikuk lokasi syuting hingga perjuangan sebuah film menembus layar bioskop.
Kepada orang-orang terdekatnya, ia kerap menyampaikan satu keyakinan sederhana yang menjadi kompas hidupnya selama berkarya.
"Film Indonesia tidak pernah kekurangan bakat. Yang kita butuhkan adalah rumah yang kokoh, tempat semua mimpi bisa tumbuh tanpa takut patah di tengah jalan," ujarnya dengan nada dalam, mengisahkan alasan mengapa ia bersedia mengemban amanah besar ini.
Mimpi Besar untuk Sinema Tanah Air
Di balik layar kepengurusan baru ini, sejumlah rencana besar mulai dirajut dengan penuh harap. BPI di bawah kepemimpinan Fauzan disebut akan memfokuskan langkah pada penguatan ekosistem perfilman nasional — mulai dari pembinaan sineas muda di berbagai daerah, perluasan akses distribusi bagi film lokal, hingga upaya membawa karya anak bangsa berbicara lebih lantang di panggung festival dunia.
Ia juga menaruh perhatian khusus pada kesejahteraan para pekerja film, kelompok yang selama ini kerap berjuang dalam sunyi. Baginya, kejayaan sebuah industri tidak diukur dari jumlah penonton semata, melainkan dari seberapa layak kehidupan orang-orang yang bekerja di dalamnya, dari pagi hingga larut demi satu adegan yang sempurna.
"Setiap kali lampu studio dinyalakan, ada ratusan keluarga yang menggantungkan hidupnya di sana. Merekalah pahlawan yang sesungguhnya," tuturnya, dalam sebuah momen mengharukan yang membekas di hati banyak orang.
Harapan yang Menyala dari Balik Layar
Harapan kini mengalir dari berbagai penjuru negeri. Seorang penulis skenario muda dari Yogyakarta mengisahkan betapa kehadiran kepengurusan baru ini memberinya keberanian untuk terus bermimpi. Baginya, dan bagi banyak sineas daerah lainnya, BPI bukan sekadar lembaga — ia adalah jembatan antara bakat yang tumbuh di pelosok dengan layar lebar di kota-kota besar.
Para pegiat film berharap, empat tahun ke depan menjadi masa di mana sinema Indonesia tidak hanya dicintai di rumahnya sendiri, tetapi juga dipeluk hangat oleh dunia. Mereka berharap setiap gagasan yang lahir bukan sekadar wacana di atas kertas, melainkan langkah nyata yang menyentuh kehidupan para pekerja kreatif hingga ke akar-akarnya.
Saat malam akhirnya turun dan ruang pertemuan itu perlahan sepi, satu hal tertinggal di udara: keyakinan. Bahwa di tangan kepengurusan baru ini, perjalanan panjang perfilman Indonesia akan terus diterangi — oleh mimpi, oleh keberanian, dan oleh cinta yang tak pernah padam pada cerita.
Comments (0)